Jumat, 10 Juli 2026

Amah Menghilang



Karya: Gutamining Saida
Liburan panjang selalu menjadi saat yang paling dinantikan oleh ketiga cucu saya. Mereka tinggal di Kota Tegal, sedangkan kami berada di Cepu. Jarak yang cukup jauh membuat pertemuan kami tidak bisa dilakukan setiap saat. Setiap kali liburan tiba, rumah kami berubah menjadi tempat yang penuh tawa, canda, dan langkah-langkah kaki kecil yang berlarian ke sana kemari.

Ada satu orang yang paling mereka tunggu selain Akung dan Timmi. Dialah adik uminya, yang mereka panggil dengan sebutan penuh kasih, "Amah Faiz." Sapaan sederhana itu menyimpaan rasa sayang yang begitu besar. Hubungan mereka sangat dekat, meskipun waktu kebersamaan mereka tidak banyak. Setiap kali ada Amah, ketiga cucu seolah memiliki dunia baru. Mereka ingin bermain bersama, bercerita, menggambar, berjalan-jalan, bahkan makan pun maunya ditemani Amah. 

Melihat kedekatan mereka membuat hati saya selalu hangat. Saya menyadari bahwa kasih sayang tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari ketulusan saat bersama. Itulah yang terjadi antara Amah Faiz dan ketiga cucu saya. 

Amah Faiz memberi tahu bahwa ia akan ada homecare. Tujuannya agar tidak mencarinya. Setelah beberapa saat mereka beberapa kali bertanya, "Kapan Amah pulang?" Setiap suara kendaraan yang terdengar dari jalan membuat mereka berlari menuju teras rumah. Mereka berharap sosok yang turun dari kendaraan itu adalah Amah Faiz. 

Tak lama kemudian terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah. Ketiga cucu langsung berlari sambil berseru, "Amah datang... Amah datang!" 

Amah Faiz masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Agar pekerjaannya tidak terganggu oleh pelukan dan ajakan bermain dari tiga keponakannya yang lucu, ia memilih bersembunyi di salah satu sudut rumah yang tidak terlihat oleh mereka. 



Mereka keluar rumah. Mereka melihat ada motor Amah terparkir di teras rumah. Mata mereka berbinar-binar. Akan tetapi, setelah menoleh ke kanan dan kiri, mereka tidak menemukan siapa pun. 

"Amaaah...!" teriak mereka. Tidak ada jawaban. Mereka masuk ke ruang tamu, ke dapur, ke kamar, bahkan melihat ke belakang rumah. 

"Amah... di mana?" Tetap sunyi. Wajah ceria mereka perlahan berubah menjadi bingung. Mereka saling berpandangan. Bukankah motornya ada? Mengapa orangnya tidak ada? Mereka terus memanggil berkali-kali. 

"Amaaaah... Amaaaah..." 

Tetapi yang terdengar hanya suara angin dan dedaunan yang bergoyang. Alih-alih menangis, mereka justru memiliki ide yang sangat menggemaskan. Mereka mengambil selembar kertas lalu mulai menulis beberapa kata sederhana untuk Amah Faiz. Tulisan tangan mereka yang masih polos, mereka berharap pesan itu bisa mengundang Amah keluar dari tempat persembunyiannya. 

Sambil membawa tulisan, mereka berjalan perlahan dari arah barat ke timur halaman rumah. Mereka membacanya keras-keras dengan penuh harapan, seolah-olah tulisan itu adalah sebuah mantra yang mampu memunculkan Amah. 

Kami yang melihat dari kejauhan hanya bisa menahan tawa sekaligus merasa terharu. Kepolosan mereka memang sering menghadirkan pelajaran berharga bagi orang dewasa. Beberapa saat kemudian, Amah Faiz tidak tega melihat usaha mereka. Ia pun keluar dari tempat persembunyiannya sambil tersenyum lebar. 

"Amaaaah...!" 

Mereka bertiga langsung berlari sekencang-kencangnya. Mereka memeluk Amah dengan erat. Wajah yang semula kebingungan berubah menjadi penuh kebahagiaan. Tawa mereka memenuhi seluruh rumah. Tidak ada lagi rasa kecewa. Yang tersisa hanyalah pelukan hangat dan kebersamaan. 

Momen sederhana itu mengajarkan sebuah pelajaran yang sangat indah. Anak-anak memiliki hati yang tulus. Mereka tidak menyimpan dendam walau sempat "dikerjai". Yang mereka inginkan hanyalah bersama dengan orang yang mereka sayangi. 

Mereka hanya ingin ditemani, diajak bermain, didengarkan, dan dipeluk oleh orang-orang yang mereka cintai. Suatu hari nanti mereka akan mengenang masa kecil mereka di Cepu. Mereka mungkin sudah lupa mainan apa yang dimiliki, tetapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana mereka berlari memanggil, "Amaah... Amaaah...", bagaimana mereka membawa secarik kertas sambil berharap Amahnya muncul, dan bagaimana akhirnya mereka menemukan sosok yang sangat mereka rindukan. 

Kenangan seperti itulah yang akan menjadi kenangan sepanjang hidup mereka. Karena sesungguhnya, cinta keluarga tidak selalu hadir dalam peristiwa-peristiwa besar. Ia sering bersembunyi di balik hal-hal sederhana yaitu sebuah pelukan.

Semoga keluarga saya selalu diberi kesempatan untuk menciptakan momen-momen sederhana yang kelak menjadi harta paling berharga dalam kehidupan. Sebab waktu akan terus berjalan,mereka akan tumbuh dewasa, tetapi kenangan indah akan tetap hidup selamanya di dalam hati. 
Cepu,  11 Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar