Liburan panjang selalu menjadi saat yang paling
dinantikan oleh ketiga cucu saya. Mereka tinggal di Kota Tegal, sedangkan kami
berada di Cepu. Jarak yang cukup jauh membuat pertemuan kami tidak bisa
dilakukan setiap saat. Setiap kali liburan tiba, rumah kami
berubah menjadi tempat yang penuh tawa, canda, dan langkah-langkah kaki kecil
yang berlarian ke sana kemari.
Ada satu orang yang paling mereka tunggu
selain Akung dan Timmi. Dialah adik uminya, yang mereka panggil dengan sebutan penuh kasih, "Amah Faiz." Sapaan sederhana itu menyimpaan rasa sayang yang begitu
besar. Hubungan mereka sangat dekat, meskipun waktu kebersamaan mereka tidak
banyak. Setiap kali ada Amah, ketiga cucu seolah memiliki dunia baru. Mereka
ingin bermain bersama, bercerita, menggambar, berjalan-jalan, bahkan makan pun
maunya ditemani Amah.
Melihat kedekatan mereka membuat hati saya selalu hangat.
Saya menyadari bahwa kasih sayang tidak diukur dari seberapa sering bertemu,
melainkan dari ketulusan saat bersama. Itulah yang terjadi antara Amah Faiz dan
ketiga cucu saya.
Amah Faiz memberi tahu bahwa ia akan ada homecare. Tujuannya agar tidak mencarinya. Setelah beberapa saat mereka beberapa kali bertanya,
"Kapan Amah pulang?" Setiap suara kendaraan yang terdengar dari jalan membuat
mereka berlari menuju teras rumah. Mereka berharap sosok yang turun dari kendaraan itu
adalah Amah Faiz.
Tak lama kemudian terdengar suara sepeda motor berhenti di depan
rumah. Ketiga cucu langsung berlari sambil berseru, "Amah datang... Amah
datang!"
Amah Faiz masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan
terlebih dahulu. Agar pekerjaannya tidak terganggu oleh pelukan dan ajakan
bermain dari tiga keponakannya yang lucu, ia memilih bersembunyi di salah satu
sudut rumah yang tidak terlihat oleh mereka.
Mereka keluar rumah. Mereka
melihat ada motor Amah terparkir di teras rumah. Mata mereka berbinar-binar. Akan
tetapi, setelah menoleh ke kanan dan kiri, mereka tidak menemukan siapa pun.
"Amaaah...!" teriak mereka. Tidak ada jawaban. Mereka masuk ke ruang tamu, ke
dapur, ke kamar, bahkan melihat ke belakang rumah.
"Amah... di mana?" Tetap
sunyi. Wajah ceria mereka perlahan berubah menjadi bingung. Mereka saling
berpandangan. Bukankah motornya ada? Mengapa orangnya tidak ada? Mereka terus
memanggil berkali-kali.
"Amaaaah... Amaaaah..."
Tetapi yang terdengar hanya suara
angin dan dedaunan yang bergoyang. Alih-alih menangis, mereka justru memiliki
ide yang sangat menggemaskan. Mereka mengambil selembar kertas lalu mulai
menulis beberapa kata sederhana untuk Amah Faiz. Tulisan tangan mereka yang
masih polos, mereka berharap pesan itu bisa mengundang Amah keluar dari tempat
persembunyiannya.
Sambil membawa tulisan, mereka berjalan perlahan dari arah
barat ke timur halaman rumah. Mereka membacanya keras-keras dengan penuh
harapan, seolah-olah tulisan itu adalah sebuah mantra yang mampu memunculkan
Amah.
Kami yang melihat dari kejauhan hanya bisa menahan tawa sekaligus merasa
terharu. Kepolosan mereka memang sering menghadirkan pelajaran berharga bagi
orang dewasa. Beberapa saat kemudian, Amah Faiz tidak tega melihat usaha mereka. Ia
pun keluar dari tempat persembunyiannya sambil tersenyum lebar.
"Amaaaah...!"
Mereka bertiga langsung berlari sekencang-kencangnya. Mereka memeluk Amah dengan
erat. Wajah yang semula kebingungan berubah menjadi penuh kebahagiaan. Tawa
mereka memenuhi seluruh rumah. Tidak ada lagi rasa kecewa. Yang tersisa hanyalah
pelukan hangat dan kebersamaan.
Momen sederhana itu mengajarkan sebuah
pelajaran yang sangat indah. Anak-anak memiliki hati yang tulus. Mereka tidak
menyimpan dendam walau sempat "dikerjai". Yang mereka inginkan hanyalah bersama dengan orang yang mereka sayangi.
Mereka hanya ingin ditemani, diajak bermain, didengarkan,
dan dipeluk oleh orang-orang yang mereka cintai. Suatu hari nanti mereka akan
mengenang masa kecil mereka di Cepu. Mereka mungkin sudah lupa mainan apa yang
dimiliki, tetapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana mereka berlari
memanggil, "Amaah... Amaaah...", bagaimana mereka membawa secarik kertas sambil
berharap Amahnya muncul, dan bagaimana akhirnya mereka menemukan sosok yang sangat
mereka rindukan.
Kenangan seperti itulah yang akan menjadi kenangan sepanjang hidup mereka. Karena sesungguhnya, cinta keluarga tidak selalu hadir
dalam peristiwa-peristiwa besar. Ia sering bersembunyi di balik hal-hal
sederhana yaitu sebuah pelukan.
Semoga keluarga saya selalu diberi
kesempatan untuk menciptakan momen-momen sederhana yang kelak menjadi harta
paling berharga dalam kehidupan. Sebab waktu akan terus berjalan,mereka akan
tumbuh dewasa, tetapi kenangan indah akan tetap hidup
selamanya di dalam hati.
Cepu, 11 Juli 2026


Tidak ada komentar:
Posting Komentar