Karya: Gutamining Saida
Setiap kali
mengikuti terapi renang bersama Pak Gun, saya selalu merasakan pengalaman yang
berbeda. Bukan hanya latihan fisik yang didapatkan, tetapi juga pelajaran hidup
yang penuh arti. Ada saja kejutan, nasihat, dan hikmah yang beliau sisipkan di
sela-sela praktik renang. Hal itulah yang membuat saya selalu terkesan dan
berusaha hadir.
Sore ini suasana
kolam renang cukup ramai. Beberapa peserta sudah datang lebih awal. Ada yang
sedang melakukan pemanasan, ada yang berbincang santai, dan ada pula yang masih
menikmati udara sore sambil duduk di pinggir kolam. Pak Gun tampak tersenyum
melihat kami berkumpul.
"Bu ibu,
hari ini kita belajar sesuatu yang sederhana, tetapi penting," kata beliau
membuka sesi latihan.
Kami saling
berpandangan. Masing-masing penasaran apa yang akan dilakukan sore ini.
Setelah beberapa
latihan dasar dilakukan, Pak Gun meminta seluruh peserta turun ke kolam.
"Silakan ibu-ibu
masuk ke air dan coba duduk di dasar kolam," ujar beliau.
Mendengar instruksi itu, beberapa peserta tampak ragu-ragu. Karena sudah percaya kepada pelatih, kami mencoba mengikuti arahan tersebut. Satu per satu peserta berusaha menurunkan tubuh ke dalam air. Anehnya, beberapa detik kemudian mereka justru muncul kembali ke permukaan.
"Pak Gun, saya
tidak bisa duduk di lantai kolam!" ucap salah satu peserta.
Belum sempat Pak
Gun menjawab. Bu Aci yang berada di dekatnya langsung berseru sambil tertawa.
"Saya juga,
Pak! Mau duduk malah badan ini muncul sendiri!"
“Nich, tubuh
saya terangkat ke atas juga!” kata bu Wahyu.
Suasana kolam
seketika dipenuhi gelak tawa. Pak Gun ikut tersenyum lalu berkata dengan suara
yang tenang,
"Naaaah,
inilah yang ingin saya tunjukkan. Tidak ada kata tenggelam. Bu Ibu... yubuh
manusia sebenarnya memiliki daya apung. Air akan membantu kita naik ke
permukaan." ucap pak Gun.
Kami
mendengarkan dengan saksama. "Yang sering membuat orang tenggelam justru
rasa takut, panik, dan tidak percaya diri. Saat panik, tubuh menjadi tegang
sehingga gerakan menjadi tidak teratur."
Kalimat sederhana itu terasa menancap dalam hati saya. Selama ini, sebelum mengikuti terapi renang, saya memiliki keyakinan bahwa saya termasuk orang yang tidak bisa mengapung. Bahkan saya pernah mendengar istilah yang populer di masyarakat, yaitu "gaya batu."
Konon katanya
ada orang yang begitu masuk air langsung tenggelam seperti batu. Saya pun dulu
percaya pada teori tersebut. Namun sore ini keyakinan saya mulai runtuh. Faktanya, ketika mencoba
duduk di dasar kolam, tubuh saya justru terdorong naik ke atas. Air tidak
serta-merta menarik saya ke bawah seperti yang selama ini saya bayangkan.
Saya mulai
menyadari bahwa banyak ketakutan dalam hidup sebenarnya muncul karena prasangka
dan asumsi yang belum tentu benar. Bukankah demikian pula dalam kehidupan
sehari-hari? Sering kali kita merasa tidak mampu sebelum mencoba. Kita merasa
akan gagal sebelum melangkah. Kita merasa akan jatuh sebelum berjalan. Padahal
Allah Subhanahu Wata’alla telah memberikan banyak kemampuan yang mungkin belum
kita sadari.
Dalam Al-Qur'an,
Allah Subhanahu Wata’alla mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk
yang sebaik-baiknya. Allah Subhanahu Wata’alla memberikan akal, hati, dan
berbagai potensi agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan baik.
Terapi renang
sore ini seolah menjadi pengingat bahwa pertolongan Allah Subhanahu Wata’alla sering
hadir dalam bentuk yang tidak kita sangka. Air yang selama ini saya takuti
ternyata dapat menjadi sahabat.
Kolam yang dulu
membuat trauma kini menjadi tempat belajar. Ketakutan yang dulu membelenggu
perlahan berubah menjadi keberanian. Saya teringat pengalaman beberapa bulan
lalu ketika pertama kali mengikuti terapi renang. Saat itu rasa takut masih
sangat besar. Bayangan pernah tenggelam membuat saya selalu waspada. Jangankan
berenang, masuk ke kolam saja sudah membuat jantung berdebar.
Pak Gun dengan
sabar membimbing setiap langkah. Sedikit demi sedikit rasa takut berkurang.
Saya belajar mengenali air, belajar mengendalikan napas, belajar mengapung, dan
belajar percaya pada kemampuan diri sendiri.
Kini saya
memahami bahwa proses belajar memang membutuhkan waktu. Tidak ada keberhasilan
yang datang secara instan. Bim Salabim, kata-kata dari pak Gun yang sering saya
dengar. Semua membutuhkan kesabaran, latihan, dan ketekunan.
Sama seperti
seorang mukmin yang berusaha memperbaiki diri. Ia tidak langsung menjadi
sempurna. Ia belajar sedikit demi sedikit. Kadang jatuh, kadang salah, kadang
gagal. Selama mau bangkit dan terus berusaha, Allah Subhanahu Wata’alla akan
menunjukkan jalan kemudahan.
Di sela-sela
tawa peserta yang mencoba duduk di dasar kolam tetapi terus muncul ke
permukaan, saya merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ternyata
belajar tidak harus selalu tegang. Belajar bisa dilakukan dengan gembira. Belajar
bisa diselingi canda. Belajar bisa menghadirkan persaudaraan.
Di kolam renang saya tidak hanya mendapatkan ilmu tentang teknik berenang. Saya juga memperoleh teman-teman baru, pengalaman baru, serta pandangan baru tentang kehidupan. Ada yang datang dengan rasa takut seperti saya. Ada yang datang untuk menjaga kesehatan. Ada pula yang sekadar ingin menambah keterampilan. Pada akhirnya kami semua dipersatukan oleh semangat untuk terus belajar dan semangat sehat.
Menjelang akhir
sesi, saya memandang permukaan air yang berkilau terkena sinar matahari sore. Hati
saya bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata’alla atas nikmat kesehatan,
kesempatan belajar, dan pertemuan dengan orang-orang baik yang mau berbagi
ilmu.
Jangan mudah
percaya pada ketakutan yang belum teruji kebenarannya.
Jangan buru-buru
menyerah sebelum mencoba.
Dan jangan
pernah merasa sendirian menghadapi kesulitan.
Sebagaimana tubuh yang diciptakan Allah Subhanahu Wata’alla memiliki kemampuan untuk mengapung di air, setiap manusia juga telah dibekali kemampuan untuk bangkit dari berbagai persoalan hidup. Selama masih ada ikhtiar, doa, dan tawakal kepada Allah Subhanahu Wata’alla, tidak ada alasan untuk berputus asa.
Karena
sebagaimana pesan Pak Gun yang terus terngiang di telinga saya yaitu
"Tidak
ada kata tenggelam, Bu Ibu."
Kalimat
sederhana tersebut ternyata bukan hanya berlaku di kolam renang, tetapi juga
dalam perjalanan kehidupan. Selama kita berpegang kepada Allah Subhanahu Wata’alla,
terus berusaha, dan tidak menyerah pada rasa takut, insyaallah kita akan selalu
menemukan jalan untuk kembali muncul ke permukaan, bangkit untuk menyongsong
masa depan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar