Senin, 01 Juni 2026

Tidak Ada Kata Tenggelam

 


Karya: Gutamining Saida

Setiap kali mengikuti terapi renang bersama Pak Gun, saya selalu merasakan pengalaman yang berbeda. Bukan hanya latihan fisik yang didapatkan, tetapi juga pelajaran hidup yang penuh arti. Ada saja kejutan, nasihat, dan hikmah yang beliau sisipkan di sela-sela praktik renang. Hal itulah yang membuat saya selalu terkesan dan berusaha hadir.

Sore ini suasana kolam renang cukup ramai. Beberapa peserta sudah datang lebih awal. Ada yang sedang melakukan pemanasan, ada yang berbincang santai, dan ada pula yang masih menikmati udara sore sambil duduk di pinggir kolam. Pak Gun tampak tersenyum melihat kami berkumpul.

"Bu ibu, hari ini kita belajar sesuatu yang sederhana, tetapi penting," kata beliau membuka sesi latihan.

Kami saling berpandangan. Masing-masing penasaran apa yang akan dilakukan sore ini.

Setelah beberapa latihan dasar dilakukan, Pak Gun meminta seluruh peserta turun ke kolam.

"Silakan ibu-ibu masuk ke air dan coba duduk di dasar kolam," ujar beliau.

Mendengar instruksi itu, beberapa peserta tampak ragu-ragu. Karena sudah percaya kepada pelatih, kami mencoba mengikuti arahan tersebut. Satu per satu peserta berusaha menurunkan tubuh ke dalam air. Anehnya, beberapa detik kemudian mereka justru muncul kembali ke permukaan.

"Pak Gun, saya tidak bisa duduk di lantai kolam!" ucap salah satu peserta.

Belum sempat Pak Gun menjawab. Bu Aci yang berada di dekatnya langsung berseru sambil tertawa.

"Saya juga, Pak! Mau duduk malah badan ini muncul sendiri!"

“Nich, tubuh saya terangkat ke atas juga!” kata bu Wahyu.

Suasana kolam seketika dipenuhi gelak tawa. Pak Gun ikut tersenyum lalu berkata dengan suara yang tenang,

"Naaaah, inilah yang ingin saya tunjukkan. Tidak ada kata tenggelam. Bu Ibu... yubuh manusia sebenarnya memiliki daya apung. Air akan membantu kita naik ke permukaan." ucap pak Gun.

Kami mendengarkan dengan saksama. "Yang sering membuat orang tenggelam justru rasa takut, panik, dan tidak percaya diri. Saat panik, tubuh menjadi tegang sehingga gerakan menjadi tidak teratur."

Kalimat sederhana itu terasa menancap dalam hati saya. Selama ini, sebelum mengikuti terapi renang, saya memiliki keyakinan bahwa saya termasuk orang yang tidak bisa mengapung. Bahkan saya pernah mendengar istilah yang populer di masyarakat, yaitu "gaya batu."

Konon katanya ada orang yang begitu masuk air langsung tenggelam seperti batu. Saya pun dulu percaya pada teori tersebut. Namun sore ini keyakinan  saya mulai runtuh. Faktanya, ketika mencoba duduk di dasar kolam, tubuh saya justru terdorong naik ke atas. Air tidak serta-merta menarik saya ke bawah seperti yang selama ini saya bayangkan.

Saya mulai menyadari bahwa banyak ketakutan dalam hidup sebenarnya muncul karena prasangka dan asumsi yang belum tentu benar. Bukankah demikian pula dalam kehidupan sehari-hari? Sering kali kita merasa tidak mampu sebelum mencoba. Kita merasa akan gagal sebelum melangkah. Kita merasa akan jatuh sebelum berjalan. Padahal Allah Subhanahu Wata’alla telah memberikan banyak kemampuan yang mungkin belum kita sadari.

Dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu Wata’alla mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Allah Subhanahu Wata’alla memberikan akal, hati, dan berbagai potensi agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan baik.

Terapi renang sore ini seolah menjadi pengingat bahwa pertolongan Allah Subhanahu Wata’alla sering hadir dalam bentuk yang tidak kita sangka. Air yang selama ini saya takuti ternyata dapat menjadi sahabat.

Kolam yang dulu membuat trauma kini menjadi tempat belajar. Ketakutan yang dulu membelenggu perlahan berubah menjadi keberanian. Saya teringat pengalaman beberapa bulan lalu ketika pertama kali mengikuti terapi renang. Saat itu rasa takut masih sangat besar. Bayangan pernah tenggelam membuat saya selalu waspada. Jangankan berenang, masuk ke kolam saja sudah membuat jantung berdebar.

Pak Gun dengan sabar membimbing setiap langkah. Sedikit demi sedikit rasa takut berkurang. Saya belajar mengenali air, belajar mengendalikan napas, belajar mengapung, dan belajar percaya pada kemampuan diri sendiri.

Kini saya memahami bahwa proses belajar memang membutuhkan waktu. Tidak ada keberhasilan yang datang secara instan. Bim Salabim, kata-kata dari pak Gun yang sering saya dengar. Semua membutuhkan kesabaran, latihan, dan ketekunan.

Sama seperti seorang mukmin yang berusaha memperbaiki diri. Ia tidak langsung menjadi sempurna. Ia belajar sedikit demi sedikit. Kadang jatuh, kadang salah, kadang gagal. Selama mau bangkit dan terus berusaha, Allah Subhanahu Wata’alla akan menunjukkan jalan kemudahan.

Di sela-sela tawa peserta yang mencoba duduk di dasar kolam tetapi terus muncul ke permukaan, saya merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ternyata belajar tidak harus selalu tegang. Belajar bisa dilakukan dengan gembira. Belajar bisa diselingi canda. Belajar bisa menghadirkan persaudaraan.

Di kolam renang saya tidak hanya mendapatkan ilmu tentang teknik berenang. Saya juga memperoleh teman-teman baru, pengalaman baru, serta pandangan baru tentang kehidupan. Ada yang datang dengan rasa takut seperti saya. Ada yang datang untuk menjaga kesehatan. Ada pula yang sekadar ingin menambah keterampilan. Pada akhirnya kami semua dipersatukan oleh semangat untuk terus belajar dan semangat sehat.

Menjelang akhir sesi, saya memandang permukaan air yang berkilau terkena sinar matahari sore. Hati saya bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata’alla atas nikmat kesehatan, kesempatan belajar, dan pertemuan dengan orang-orang baik yang mau berbagi ilmu.

Jangan mudah percaya pada ketakutan yang belum teruji kebenarannya.

Jangan buru-buru menyerah sebelum mencoba.

Dan jangan pernah merasa sendirian menghadapi kesulitan.

Sebagaimana tubuh yang diciptakan Allah Subhanahu Wata’alla memiliki kemampuan untuk mengapung di air, setiap manusia juga telah dibekali kemampuan untuk bangkit dari berbagai persoalan hidup. Selama masih ada ikhtiar, doa, dan tawakal kepada Allah Subhanahu Wata’alla, tidak ada alasan untuk berputus asa.

Karena sebagaimana pesan Pak Gun yang terus terngiang di telinga saya yaitu

"Tidak ada kata tenggelam, Bu Ibu."

Kalimat sederhana tersebut ternyata bukan hanya berlaku di kolam renang, tetapi juga dalam perjalanan kehidupan. Selama kita berpegang kepada Allah Subhanahu Wata’alla, terus berusaha, dan tidak menyerah pada rasa takut, insyaallah kita akan selalu menemukan jalan untuk kembali muncul ke permukaan, bangkit untuk menyongsong masa depan.

Cepu, 1 Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar