Karya: Gutamining Saida
Sejuknya udara pagi, hangatnya mentari yang menyapa dari ufuk timur selalu menjadi pengingat yang indah tentang betapa luasnya kasih sayang Sang Pencipta. Dalam keheningan dan kedamaian, hati ini kembali bertafakur, merenungi sebuah janji pasti dari Sang Maha Pemberi Rezeki, Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebuah ketetapan yang telah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia ini: bahwa rezeki setiap makhluk yang bernapas di atas hamparan bumi ini telah dijamin dan ditentukan oleh-Nya. Tidak ada satu pun makhluk melata yang luput dari pandangan-Nya, dan tidak ada satu pun yang akan diwafatkan sebelum seluruh jatah rezekinya diberikan secara sempurna.
Sebagai manusia yang dhaif, terkadang mata kita terlalu sempit dalam memaknai kata "rezeki". Sering kali, pikiran kita hanya terpaku pada lembaran uang, harta benda, jabatan, atau kemewahan duniawi semata. Padahal, jika kita mau menundukkan hati dan menatap lebih dalam, definisi rezeki jauh lebih luas dan lebih indah dari sekadar materi. Hembusan napas yang teratur tanpa bantuan alat medis, tubuh yang sehat sehingga mampu melangkah ke tempat ibadah, akal yang waras, hingga kebahagiaan batin dan ketenangan jiwa semua itu adalah rezeki yang nilainya tidak dapat diukur dengan emas permata. Memiliki keluarga yang harmonis dan dikelilingi oleh orang-orang yang saleh dan tulus juga merupakan rezeki luar biasa yang patut disyukuri setiap detiknya.
Dalam ajaran agama kita yang mulia, rasa syukur memegang peranan yang sangat sentral. Allah Ta'ala telah berjanji dengan janji yang tidak akan pernah diingkari, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan tambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7). Bersyukur bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah di lisan, tetapi juga meyakini dalam hati bahwa segala kebaikan datangnya dari Allah, dan menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan. Siapa yang pandai bersyukur, hatinya akan senantiasa merasa cukup, dan dari rasa cukup itulah Allah akan melipatgandakan karunia-Nya.
Satu hal yang senantiasa menjadi penyejuk hati dan penghilang rasa gundah gulana adalah keyakinan mutlak bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar. Layaknya maut yang tahu persis ke mana ia harus menjemput, rezeki pun tahu ke mana ia harus berlabuh. Apa yang ditakdirkan menjadi milik kita, tidak akan pernah jatuh ke tangan orang lain, betapa pun kerasnya orang lain mencoba merebutnya. Sebaliknya, apa yang bukan menjadi hak kita, tidak akan pernah sampai kepada kita, betapa pun kuatnya kita mengejar.
Rezeki Allah memiliki cara kerja yang sangat misterius dan mengagumkan. Ia bisa datang dari pintu mana saja yang Allah kehendaki, bahkan sering kali dari arah yang sama sekali tidak pernah kita sangka-sangka. Allah Maha Kuasa untuk menggerakkan hati hamba-hamba-Nya, menjadikan mereka sebagai perantara atau jalan sampainya sebuah rezeki kepada kita. Aamiin.
Pengalaman mengenai rezeki yang tak terduga ini sangat saya rasakan pada hari Minggu. Keadaan berubah menjadi hari yang penuh dengan limpahan keberkahan. Tanpa pernah saya rencanakan atau saya bayangkan sebelumnya, Allah menghadirkan rezeki-Nya yang berlimpah melalui perantara tangan-tangan orang baik di sekitar.
Dengan senyumnya yang tulus dan wajahnya yang senantiasa memancarkan kebaikan, beliau sampaikan buah tangan saat saya akan pulang. Bukan sekadar nilai dari barang yang beliau bawa, melainkan perhatian, waktu, dan keikhlasan yang mengiringinya membuat hati ini bergetar. Mbak Nafia menjadi jalan pertama yang menyadarkan saya bahwa Allah sedang menyapa saya melalui kepedulian seorang sahabat. Interaksi kami yang hangat, tawa yang lepas, dan rasa persaudaraan yang menguat, adalah rezeki kebahagiaan batin yang melengkapi rezeki materi yang beliau berikan.
Belum habis rasa syukur ini terucap atas kebaikan Mbak Nafia, pada hari yang sama, Allah kembali membuka pintu rezeki-Nya melalui perantara yang lain. Bu Yani , Beliau membawa kebaikan yang tak kalah melimpah, berbagi sebagian dari apa yang dimilikinya dengan hati yang sangat lapang. Sikap Bu Yani yang dermawan dan penuh kasih sayang membuat saya merasa sangat kecil sekaligus sangat bersyukur. Hari Minggu menjadi saksi bisu bagaimana Allah menghujani saya dengan nikmat yang bertubi-tubi lewat dua wanita berhati mulia ini.
Peristiwatersebut menjadi renungan mendalam bagi saya. Saya menyadari bahwa Mbak Nafia dan Bu Yani adalah kepanjangan tangan dari kasih sayang Allah. Hati mereka digerakkan oleh Dzat Yang Maha Membolak-balikkan Hati untuk berbagi rezeki dengan saya. Melalui kebaikan mereka, saya belajar tentang arti keikhlasan, tentang indahnya berbagi, dan tentang kebenaran janji Allah bahwa rezeki akan senantiasa mencari pemiliknya dengan cara yang tak terduga.
Dari lubuk hati yang paling dalam, saya menengadahkan kedua tangan, memanjatkan doa dan harapan terbaik untuk kedua sosok luar biasa ini. Ya Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, jadikanlah sedekah dan kebaikan yang telah diberikan oleh Mbak Nafia dan Bu Yani sebagai pemberat timbangan amal kebaikan mereka di Yaumul Hisab kelak. Balaslah keikhlasan mereka dengan rezeki yang jauh lebih banyak, lebih berkah, dan tidak terputus.
Karuniakanlah kepada Mbak Nafia dan Bu Yani kesehatan agar mereka dapat terus menebar manfaat bagi sesama. Lindungilah keluarga mereka, jadikanlah rumah tangga mereka sakinah, mawaddah, warahmah. Berikanlah kedamaian di hati mereka, dan angkatlah segala kesulitan yang mungkin sedang mereka hadapi. Semoga setiap langkah kaki mereka senantiasa berada dalam naungan ridha-Mu, dan semoga Allah menjadikan mereka sebagai ahli surga-Nya kelak.
Tugas kita di dunia ini hanyalah terus berikhtiar dengan jalan yang halal, berserah diri (tawakkal), dan senantiasa melangitkan syukur. Karena pada akhirnya, di balik setiap rezeki yang kita terima, ada cinta Allah yang tak terhingga, yang sering kali dititipkan melalui senyum dan kebaikan orang-orang di sekitar kita. Alhamdulillahi rabbil 'alamin.
Cepu, 3 Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar