Karya: Gutamining Saida
Hari Minggu menjadi hari yang sangat saya rindukan. Setelah enam hari disibukkan dengan berbagai aktivitas, tiba saatnya memberikan kesempatan kepada tubuh, pikiran, dan hati untuk beristirahat. Saya memilih melakukan refreshing dengan menikmati keindahan alam yang masih asri dan alami. Bukan ke tempat mewah atau pusat keramaian, melainkan ke sebuah sungai yang menawarkan ketenangan, kesejukan, dan berbagai pelajaran kehidupan yang berharga.
Saya berangkat bersama anak dan ibu tercinta. Di lokasi yang sama hadir pula sahabat lama saya, Bu Endang, bersama anak dan cucunya. Pertemuan tersebut terasa begitu istimewa. Sudah satu setengah tahun kami jarang bertemu sejak saya meninggalkan Kedungtuban. Kesibukan masing-masing membuat komunikasi tidak seintens dulu. Karena itulah kesempatan bertemu kali ini menjadi momen yang sangat berharga.
Sesampainya di lokasi, mata saya langsung dimanjakan oleh panorama alam yang begitu indah. Air sungai mengalir jernih di antara bebatuan besar dan kecil. Dari tepian sungai tampak dasar sungai yang dipenuhi batu-batu dengan berbagai ukuran dan warna. Air yang mengalir memantulkan sinar matahari sehingga terlihat berkilauan seperti permata yang berserakan.
Saya memandangi aliran sungai itu dengan penuh kekaguman. Dalam hati terlintas firman Allah bahwa pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang berpikir. Semakin saya memperhatikan alam, semakin terasa betapa luar biasanya kuasa Allah Subhanahu Wata'alla. Tidak ada satu pun manusia yang mampu menciptakan keindahan seperti ini. Semua tersusun begitu sempurna sesuai kehendak Sang Pencipta.
Suara gemuruh air yang mengalir menjadi musik alam yang menenangkan jiwa. Percikan-percikan air yang menghantam bebatuan menciptakan irama yang indah. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada hiruk-pikuk kota, yang terdengar hanya nyanyian alam yang mengajak hati untuk berdzikir dan mengingat kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla.
Kami berjalan menyusuri tepian sungai. Sesekali kaki menginjak tanah liat yang licin. Tantangan kecil itu justru menambah keseruan. Kami harus berhati-hati agar tidak terpeleset. Saat itulah saya teringat bahwa kehidupan juga penuh dengan jalan licin yang dapat membuat manusia jatuh kapan saja. Karena itu manusia membutuhkan pegangan yang kuat berupa iman dan takwa agar tidak mudah tergelincir dalam kesalahan.
Di beberapa bagian sungai terdapat batu-batu besar yang harus dilalui dengan penuh keberanian. Langkah demi langkah kami jalani dengan hati-hati. Jantung berdegup lebih cepat, tubuh bergerak lebih aktif, dan tanpa sadar aktivitas tersebut menjadi olahraga yang menyehatkan. Saya bersyukur karena Allah Subhanahu Wata'alla masih memberikan kesehatan sehingga dapat menikmati ciptaan-Nya secara langsung.
Sambil menikmati suasana, kami saling bercengkerama. Saya dan Bu Endang banyak mengenang masa-masa ketika masih sering bersama di Kedungtuban. Berbagai cerita lama kembali hadir dalam percakapan. Ada kisah lucu yang membuat kami tertawa, ada pula kenangan yang menghadirkan rasa haru. Waktu memang terus berjalan, namun persahabatan yang dibangun dengan ketulusan ternyata tetap bertahan meskipun dipisahkan oleh jarak dan kesibukan.
Saya memandang ibu yang tampak bahagia menikmati suasana. Kehadiran beliau menjadi nikmat tersendiri. Tidak semua orang masih memiliki kesempatan berjalan bersama ibu di usia yang semakin bertambah. Dalam hati saya berdoa semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, umur yang berkah, dan kebahagiaan kepada beliau.
Anakdan cucu bu Endang terlihat gembira bermain di sekitar sungai. Tawa mereka berpadu dengan suara aliran air menciptakan suasana yang hangat dan penuh kebersamaan. Saya menyadari bahwa kebahagiaan sejati sering kali hadir dari hal-hal sederhana. Tidak harus mahal, tidak harus mewah. Kebersamaan keluarga dan sahabat dalam suasana penuh syukur sudah cukup menghadirkan kebahagiaan yang luar biasa.
Di sela-sela menikmati pemandangan, saya mengingat tentang perjalanan hidup. Waktu satu setengah tahun ternyata terasa begitu cepat berlalu. Banyak peristiwa yang telah terjadi, banyak perubahan yang telah dialami. Sungai itu tetap mengalir sebagaimana mestinya. Dari sana saya belajar bahwa kehidupan harus terus berjalan. Seperti air sungai yang tidak pernah berhenti mengalir menuju muara, manusia pun harus terus melangkah menuju tujuan akhir kehidupannya.
Air sungai yang jernih juga mengingatkan saya tentang pentingnya menjaga kebersihan hati. Jika hati dipenuhi iri, dengki, dan kebencian, maka kejernihannya akan hilang. Sebaliknya, hati yang dipenuhi rasa syukur, ikhlas, dan sabar akan memancarkan ketenangan sebagaimana jernihnya air sungai yang mengalir.
Semakin lama berada di sana, semakin terasa ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kerinduan yang selama ini tersimpan perlahan terobati. Pertemuan dengan sahabat lama, kebersamaan dengan keluarga, serta keindahan alam ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla seolah menjadi obat bagi hati yang lelah.
Saya merasakan kesejukan bukan hanya pada tubuh yang terkena percikan air sungai, tetapi juga pada jiwa yang selama ini dipenuhi berbagai kesibukan. Rasanya seperti hati yang kering diguyur hujan rahmat. Segala penat, lelah, dan kerinduan perlahan larut bersama aliran air yang terus bergerak menuju hilir.
Menjelang pulang, saya memandangi sungai itu sekali lagi. Dalam hati saya mengucapkan syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla atas nikmat kesehatan, kesempatan, keluarga, sahabat, dan keindahan alam yang masih dapat dinikmati. Saya menyadari bahwa setiap perjalanan bukan sekadar rekreasi, tetapi juga sarana untuk semakin mengenal kebesaran Sang Pencipta.
Semoga setiap langkah yang kami tempuh menjadi pengingat bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju Allah.Semoga kehidupan kita pun senantiasa mengalir menuju ridha-Nya. Semoga setiap keindahan yang kita saksikan di dunia semakin menambah rasa syukur, keimanan, serta kecintaan kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin.
Cepu, 1 Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar