Senin, 15 Juni 2026

Jejak Kapur Tulis "NMK"

Karya : Gutamining Saida 
Minggu pagi 14 Juni 2026  menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Melalui kegiatan Cepu Walking Tour bertajuk Ngareng Weg, saya berkesempatan menyusuri jejak sejarah yang selama ini mungkin luput dari perhatian masyarakat. Salah satu lokasi yang kami kunjungi adalah bekas Pabrik Kapur Tulis Cap Segitiga "NMK", sebuah industri legendaris yang pernah mengharumkan nama Cepu hingga ke seluruh Indonesia.

Saat berjalan menyusuri Jalan Ngareng bersama para peserta dan narasumber, saya merasakan suasana yang berbeda. Jalan yang tampak biasa ternyata menyimpan kisah panjang tentang perjuangan, kreativitas, dan semangat kewirausahaan masyarakat Cepu pada masa lalu. Di sinilah berdiri salah satu pabrik kapur tulis terbesar yang pernah dimiliki Indonesia.

Narasumber menjelaskan bahwa Pabrik Kapur Tulis Cap Segitiga "NMK" didirikan pada tanggal 9 Maret 1952 oleh seorang pengusaha bernama Ng Moei Koei. Nama "NMK" sendiri merupakan singkatan dari nama pendirinya, sehingga menjadi identitas yang melekat kuat pada produk kapur tulis yang dihasilkannya. Pada awal berdirinya, usaha ini masih berskala industri rumahan yang berlokasi di Jalan Pemuda Nomor 74A Cepu. Lokasi tersebut kini telah berubah menjadi kawasan yang dikenal sebagai Grand Cepu Hotel.

Mendengar penjelasan itu, saya membayangkan bagaimana suasana Cepu pada tahun 1950-an. Di tengah berbagai keterbatasan pasca kemerdekaan, ternyata ada sosok yang berani merintis usaha dan menghasilkan produk yang sangat dibutuhkan dunia pendidikan. Kapur tulis pada masa itu merupakan alat utama yang digunakan guru untuk mengajar di sekolah-sekolah. Hampir setiap ruang kelas membutuhkan kapur tulis setiap hari.

Seiring berjalannya waktu, usaha tersebut berkembang pesat. Pada tanggal 16 Juli 1961, pabrik dipindahkan ke Jalan Ngareng Nomor 24 untuk mendapatkan tempat yang lebih luas dan mendukung peningkatan kapasitas produksi. Dari lokasi baru inilah NMK terus bertumbuh hingga menjadi industri kapur tulis terbesar di Indonesia.

Masa kejayaan Pabrik Kapur Tulis NMK berlangsung antara tahun 1970 hingga 1985. Pada periode tersebut, produk NMK dikenal luas dan digunakan di berbagai daerah di Indonesia. Kapur tulis dengan merek Segitiga menjadi pilihan utama banyak sekolah karena kualitasnya yang baik. Bahkan, masyarakat mengenali merek tersebut hanya dengan melihat gambar segitiga pada kemasannya.

Yang membuat saya semakin kagum adalah jumlah tenaga kerja yang pernah terlibat di pabrik ini. Pada masa jayanya, sekitar 200 orang bekerja di sana. Jumlah tersebut tentu sangat besar untuk ukuran industri lokal pada saat itu. Kehadiran pabrik tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Banyak keluarga yang menggantungkan kehidupan mereka dari aktivitas produksi kapur tulis ini.

Narasumber menjelaskan bahwa bahan utama pembuatan kapur tulis NMK adalah gipsum. Dari bahan tersebut dihasilkan berbagai jenis produk, mulai dari kapur tulis istimewa, kapur bebas debu, hingga kapur warna-warni. Inovasi kapur bebas debu merupakan sebuah terobosan yang sangat maju pada zamannya. Produk tersebut membantu mengurangi debu yang biasa beterbangan saat guru menulis di papan tulis. Sementara itu, kapur warna memberikan variasi dalam proses pembelajaran sehingga materi pelajaran dapat disampaikan dengan lebih menarik.

Saat berdiri di lokasi bekas pabrik, saya membayangkan kesibukan yang pernah terjadi di sana puluhan tahun lalu. Mungkin dahulu terdengar suara mesin bekerja, para pekerja yang hilir mudik membawa bahan baku, serta kendaraan yang mengangkut hasil produksi ke berbagai daerah. Kini suasana itu telah berubah. Namun jejak sejarahnya masih terasa melalui cerita-cerita yang disampaikan oleh narasumber.
Bagi saya, kunjungan ini memberikan pelajaran berharga bahwa sebuah tempat tidak hanya terdiri dari bangunan dan jalan semata. Di baliknya tersimpan kisah perjuangan manusia yang patut dikenang. Pabrik Kapur Tulis NMK menjadi bukti bahwa Cepu pernah memiliki industri yang mampu bersaing di tingkat nasional dan memberikan kontribusi besar bagi dunia pendidikan Indonesia.

Saya merasa sangat bahagia dapat mengikuti Cepu Walking Tour Ngareng Weg. Kegiatan ini membuka wawasan saya tentang sejarah kota yang selama ini mungkin hanya saya lewati tanpa mengetahui kisah di baliknya. Saya semakin menyadari bahwa sejarah tidak selalu berada di museum atau buku pelajaran, tetapi juga hidup di jalan-jalan yang kita lalui setiap hari.

Perjalanan menyusuri Jalan Ngareng pagi itu bukan sekadar berjalan kaki. Perjalanan tersebut menjadi sebuah perjalanan menelusuri waktu, mengenang masa kejayaan industri lokal, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan sejarah Kota Cepu. Semoga kisah Pabrik Kapur Tulis Cap Segitiga "NMK" tetap dikenang oleh generasi muda sebagai inspirasi bahwa kerja keras, inovasi, dan ketekunan mampu melahirkan karya besar yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Cepu, 16 Juni 2026 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar