Minggu, 07 Juni 2026

Gaya Dolpin



Karya: Gutamining Saida 

Sabtu sore kembali menjadi waktu yang saya tunggu-tunggu. Seperti biasanya, kami berkumpul di kolam renang untuk mengikuti latihan dan terapi bersama Pak Gun. Setiap pertemuan selalu menghadirkan pengalaman baru, ilmu baru, sekaligus hikmah kehidupan yang dapat direnungkan. Sore itu, materi yang kami pelajari adalah gaya dolpin atau gaya lumba-lumba.

Saat mendengar nama gaya lumba-lumba, saya sempat berpikir gerakan tersebut tidak terlalu sulit. Bayangan saya, gerakannya hanya meniru ikan lumba-lumba yang meluncur di air. Setelah mulai mempraktikkannya, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Gerakan ini membutuhkan kelenturan tubuh, koordinasi gerak, serta kemampuan mengatur napas dengan baik.

Beberapa kali saya mencoba, tubuh terasa kaku. Gerakan kaki dan badan belum selaras. Napas menjadi pendek sehingga membuat saya engos-engosan. Setelah meluncur beberapa meter, tenaga terasa cepat terkuras. Saya kembali ke tepi kolam sambil mengatur napas.

"Masih belum pas," gumam saya dalam hati.

Saya teringat bahwa setiap kemampuan memerlukan proses. Tidak ada orang yang langsung mahir dalam satu kali percobaan. Begitu pula dalam kehidupan. Banyak hal yang Allah Subhanahu Wata'alla ajarkan melalui proses panjang agar manusia belajar bersabar dan tidak mudah menyerah.

Saya kembali mencoba. Lagi dan lagi. Kadang berhasil meluncur lebih jauh, kadang justru kehilangan keseimbangan. Sesekali air masuk ke hidung sehingga membuat saya batuk kecil. Meskipun demikian, suasana tetap menyenangkan. Tidak ada rasa malu. Tidak ada rasa takut ditertawakan. Yang ada justru semangat untuk terus belajar.

Setelah beberapa kali mencoba sendiri, Pak Gun meminta kami berkumpul. Beliau mengarahkan agar kami berbaris dari ujung kiri kolam hingga ujung kanan.  Jarak antar peserta sekitar rentang satu tangan. Kami berdiri berjajar sambil menunggu instruksi berikutnya.

Pemandangan itu sungguh menarik. Ada yang sudah mulai bisa melakukan gerakan lumba-lumba dengan baik. Ada yang masih terlihat kaku. Ada pula yang gerakannya membuat teman-teman tersenyum karena unik dan lucu. tidak ada satu pun yang mengejek. Semua tertawa dalam suasana persaudaraan.

Ketika salah seorang peserta berhasil melakukan gerakan dengan baik, spontan terdengar tepuk tangan dan tawa bahagia.

"Alhamdulillah, sudah bisa!" seru seseorang.

Peserta yang berhasil hanya tersenyum malu-malu, sementara yang lain ikut merasa senang.

Sebaliknya, ketika ada peserta yang belum berhasil, teman-teman tidak mencemooh. Mereka justru memberikan semangat.

"Ayo, Bu, pasti bisa!"

"Coba lagi, sedikit lagi sudah benar."

Kalimat-kalimat sederhana itu terdengar begitu hangat. Tawa yang muncul bukanlah tawa yang melukai hati, melainkan tawa yang menguatkan. Tawa yang lahir dari kebersamaan. Tawa yang menghilangkan beban dan membuat suasana semakin akrab.

Bukankah kehidupan yang indah memang seperti itu? Ketika seseorang berhasil, kita ikut bahagia. Ketika seseorang belum berhasil, kita membantu dan menyemangatinya. Tidak ada iri hati, tidak ada dengki, dan tidak ada keinginan menjatuhkan orang lain.

Di kolam, perbedaan usia, profesi, jabatan, bahkan latar belakang seolah melebur menjadi satu. Semua sama-sama menjadi murid yang sedang belajar. Semua pernah gagal. Semua pernah minum air kolam. Semua pernah melakukan kesalahan gerakan. Karena itulah tidak ada alasan untuk merasa lebih hebat daripada yang lain.

Suasana seperti ini mengingatkan saya pada ajaran agama tentang pentingnya ukhuwah atau persaudaraan. Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam  mengajarkan agar sesama manusia saling menolong dalam kebaikan dan saling menguatkan. Orang beriman ibarat satu tubuh. Ketika satu bagian merasakan kesulitan, bagian lain ikut merasakan dan membantu.

Nilai kebaikan saya lihat nyata di kolam renang. Tidak ada yang merasa senang ketika temannya gagal. Tidak ada yang bangga melihat orang lain kesulitan. Sebaliknya, semua berharap temannya berhasil dan berkembang.

Yang paling menarik adalah soal emosi. Di kolam renang, saya jarang sekali melihat orang marah atau sakit hati. Mungkin karena suasananya penuh kegembiraan. Mungkin juga karena air membantu menenangkan pikiran. Atau bisa jadi karena semua orang datang dengan niat belajar dan memperbaiki diri.

Ketika seseorang melakukan kesalahan gerakan, ia tertawa. Ketika gerakannya belum benar, ia mencoba lagi. Ketika berhasil, ia bersyukur. Tidak ada ruang bagi kesombongan maupun kemarahan. Betapa indahnya jika suasana seperti ini dapat dibawa ke kehidupan sehari-hari. Ketika menghadapi masalah, kita tetap tersenyum. Ketika gagal, kita tidak putus asa. Ketika melihat orang lain berhasil, kita ikut bahagia. Ketika melihat saudara kita kesulitan, kita memberikan dukungan.

Latihan gaya lumba-lumba bukan sekadar belajar berenang. Ada pelajaran besar yang saya peroleh. Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan bahwa keberhasilan membutuhkan kesabaran. Allah Subhanahu Wata'alla juga mengingatkan bahwa kebahagiaan sering kali hadir melalui kebersamaan, bukan melalui persaingan yang tidak sehat.

Menjelang latihan berakhir, kami kembali berkumpul di tepi kolam. Wajah-wajah peserta terlihat cerah. Sebagian masih membahas gerakan yang baru dipelajari. Sebagian lagi tertawa mengenang kejadian lucu selama latihan. Meskipun belum sepenuhnya menguasai gaya lumba-lumba, saya merasa memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga. 

Kebahagiaan tidak selalu ditemukan di tempat-tempat mewah. Terkadang kebahagiaan hadir di kolam renang sederhana, melalui tawa teman-teman yang saling mendukung, melalui perjuangan yang dilakukan bersama, dan melalui hati yang selalu mengingat Allah Subhanahu Wata'alla dalam setiap aktivitas.

Semoga setiap langkah, setiap kayuhan tangan, setiap gerakan di dalam air, serta setiap ilmu yang kami pelajari menjadi sarana untuk menjaga kesehatan, mempererat persaudaraan, dan menambah rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Karena pada akhirnya, tujuan hidup bukan hanya menjadi pandai berenang, melainkan menjadi manusia yang lebih baik, lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Sang Pencipta. Alhamdulillah, satu kesimpulan yang sama bahwa bisa atau belum bisa, berhasil atau masih belajar, ujung-ujungnya adalah bahagia.

Cepu, 7 Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar