Karya : Gutamining Saida
Perjalanan literasi budaya ke Bandung memberikan banyak pengalaman yang tidak terlupakan. Setelah mengunjungi berbagai tempat yang sarat ilmu pengetahuan dan sejarah, rombongan kami berkesempatan mengunjungi Trans Studio Bandung. Tempat wisata indoor yang terkenal ini menyajikan berbagai wahana permainan, mulai dari yang santai hingga yang mampu menguji keberanian dan memacu adrenalin.
Beberapa wahana yang dikenal sebagai wahana uji nyali di Trans Studio Bandung antara lain Yamaha Racing Coaster, roller coaster yang melaju sangat cepat dengan lintasan maju dan mundur, Giant Swing yang mengayunkan penumpang hingga ketinggian puluhan meter, Vertigo yang membawa pengunjung berputar di udara, Si Bolang Adventure, Dunia Lain, serta beberapa wahana petualangan lainnya yang membuat jantung berdebar lebih kencang.
Dari sekian banyak wahana yang tersedia, saya hanya mencoba dua wahana yang tidak terlalu menantang. Usia, kondisi kesehatan, dan kemampuan diri membuat saya lebih memilih menikmati suasana daripada memaksakan keberanian. Dahulu mungkin saya akan merasa malu jika tidak mencoba wahana-wahana ekstrem. Akan tetapi, semakin bertambah usia, saya justru belajar bahwa tidak semua hal harus dicoba hanya karena orang lain melakukannya.
Setiap orang memiliki batas kemampuan yang berbeda, dan mengenali batas diri juga merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla.
Banyak siswa tampak begitu bersemangat. Mereka berlari dari satu wahana ke wahana lain. Teriakan kegembiraan bercampur dengan gelak tawa memenuhi ruangan. Ada yang berkali-kali mencoba wahana ekstrem karena merasa ketagihan. Ada pula yang awalnya takut, tetapi setelah berhasil mencoba satu kali, keberaniannya tumbuh dan ingin mengulang lagi.
Saya memperhatikan mereka sambil tersenyum. Pemandangan itu mengingatkan saya bahwa setiap fase kehidupan memiliki keindahannya sendiri. Masa muda adalah masa penuh semangat, keberanian, dan rasa ingin tahu yang besar. Sedangkan masa yang lebih matang mengajarkan kehati-hatian, kebijaksanaan, dan kemampuan menikmati sesuatu dengan lebih tenang.
Meski hanya mencoba dua wahana yang sederhana, saya tetap merasa bahagia. Saya tidak datang ke Trans Studio Bandung untuk membuktikan keberanian, melainkan untuk menikmati kebersamaan dan mensyukuri kesempatan yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan. Tidak semua orang memiliki kesempatan berkunjung ke Bandung. Tidak semua orang memiliki kesehatan yang cukup untuk berjalan jauh dan menikmati perjalanan bersama teman-teman. Tidak semua orang memiliki waktu untuk melihat keindahan kota yang selama ini hanya dikenal melalui cerita atau tayangan televisi.
Karena itulah, saya memilih mengabadikan momen-momen tersebut melalui foto. Setiap jepretan kamera bukan sekadar gambar, melainkan saksi perjalanan hidup. Ketika suatu saat nanti foto-foto itu kembali dilihat, mungkin wajah akan bertambah keriput, rambut semakin memutih, dan tenaga tidak lagi sekuat sekarang.
Kenangan yang tersimpan di dalamnya akan tetap hidup.
Saat berdiri untuk berfoto bersama teman-teman dan siswa, saya teringat firman Allah Subhanahu Wata'alla bahwa manusia diperintahkan untuk memperhatikan nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya. Sering kali kita sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki hingga lupa mensyukuri apa yang sudah ada. Padahal kebahagiaan tidak selalu berasal dari hal yang besar.
Kebahagiaan bisa hadir dari perjalanan sederhana, tawa bersama teman, tubuh yang masih sehat, dan kesempatan melihat tempat-tempat baru.
Di tengah keramaian wahana permainan, saya juga melihat gambaran kehidupan. Ada orang yang berani menaiki wahana paling tinggi. Ada yang memilih wahana sedang. Ada pula yang hanya menonton dari bawah. Semua memiliki pilihan masing-masing. Tidak ada yang salah. Bukankah kehidupan juga demikian? Allah Subhanahu Wata'alla memberikan jalan hidup yang berbeda-beda kepada setiap manusia.
Ada orang yang diuji dengan jabatan tinggi. Ada yang diuji dengan kehidupan sederhana. Ada yang harus menghadapi tantangan besar. Ada pula yang menjalani hari-hari dengan lebih tenang. Yang terpenting bukanlah seberapa tinggi wahana yang kita naiki, melainkan bagaimana kita menjalani perjalanan itu dengan penuh keimanan.
Wahana-wahana ekstrem yang membuat orang berteriak ketakutan juga mengajarkan satu hal. Saat ayunan bergerak tinggi atau kereta meluncur dengan cepat, manusia sadar bahwa dirinya tidak memiliki kendali penuh. Dalam hitungan detik, seseorang bisa merasakan takut, cemas, sekaligus pasrah. Begitulah kehidupan. Kita boleh merencanakan banyak hal, tetapi pada akhirnya Allah-lah yang menentukan hasilnya.
Perjalanan ke Bandung ini menjadi pengingat bahwa umur adalah nikmat yang luar biasa. Dulu mungkin saya hanya mendengar cerita tentang tempat-tempat terkenal di Bandung. Kini Allah Subhanahu Wata'alla mengizinkan saya melihatnya secara langsung.
Saya tidak membayangkan bisa mendampingi siswa melakukan perjalanan literasi budaya sejauh ini. Kini semua itu menjadi kenyataan.
Maka yang paling pantas diucapkan adalah hamdalah. Alhamdulillahirabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata'alla yang masih memberikan kesehatan, kesempatan, dan kebahagiaan sederhana dalam perjalanan ini.
Ketika senja mulai mendekat dan waktu kunjungan hampir berakhir, saya kembali memandangi keramaian Trans Studio Bandung. Anak-anak masih terlihat antusias, sementara para guru mulai berkumpul untuk persiapan pulang. Dalam hati saya berdoa semoga perjalanan ini membawa manfaat, menambah wawasan, mempererat persaudaraan, dan menjadi kenangan indah yang kelak selalu dikenang.
Bandung bukan sekadar kota yang kami kunjungi. Bandung menjadi ruang belajar tentang rasa syukur. Dari wahana yang menegangkan, saya belajar tentang keberanian. Dari foto-foto yang diabadikan Saya semakin yakin bahwa setiap langkah yang Allah izinkan untuk kita tempuh selalu menyimpan hikmah yang berharga bagi kehidupan.
Cepu, 16 Juni 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar