Karya: Gutamining Saida
Tanggal 8 April 2026 menjadi hari yang begitu saya nantikan. Sejak beberapa hari sebelumnya, hati ini sudah berdebar menunggu saat pengumuman hasil seleksi naskah. Bukan sekadar pengumuman biasa, tetapi sebuah penentu apakah tulisan yang saya kirimkan akan lolos atau tidak.
Saya teringat proses panjang yang telah berlalu. Menyusun kata demi kata, merangkai kalimat menjadi paragraf, hingga menjadi sebuah naskah yang layak dikirimkan. Tidak mudah. Ada waktu yang harus dikorbankan, ada tenaga yang dikeluarkan, bahkan ada keraguan yang sempat datang. Saya terus menguatkan diri bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan sia-sia di hadapan Allah Subhanahu Wata'alla.
Saya berbisik, “Ya Allah, saya sudah berusaha. Untuk hasilnya, saya serahkan sepenuhnya kepada-Mu.”
Saya sadar, sebagai manusia, tugas saya hanyalah berikhtiar. Sedangkan hasil adalah hak prerogatif Allah. Jika Allah SubhanahuWata'alla berkehendak, sesuatu yang sulit pun bisa menjadi mudah. Sebaliknya, jika Allah belum mengizinkan, maka apa pun usaha yang telah dilakukan bisa saja belum membuahkan hasil sesuai harapan.
Hari Rabu pun tiba. Tanggal 8 April. Sejak pagi, hati ini terasa berbeda. Ada harap, ada cemas, ada doa yang terus dipanjatkan. Setiap selesai salat, saya sisipkan doa agar diberikan hasil yang terbaik bukan hanya menurut keinginan saya, tetapi menurut kehendak Allah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
Waktu terus berjalan. Jam demi jam berlalu. Saya tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, tetapi pikiran sesekali melayang pada pengumuman yang dinanti. Hingga akhirnya jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB.
Namun, belum ada tanda-tanda pengumuman. Hati mulai gelisah. Rasa tidak sabar perlahan muncul. Saya mencoba menenangkan diri, tetapi tetap saja ada rasa ingin segera mengetahui hasilnya. Dalam kondisi seperti itu, saya kembali mengingatkan diri sendiri, “Sabar adalah bagian dari iman.”
Sebagai manusia biasa, rasa penasaran tetap ada. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kepada panitia. Saya berharap mendapatkan kepastian.
Hanya dua kata, tetapi cukup membuat saya terdiam sejenak. Saya menyadari bahwa ternyata saya harus belajar satu hal lagi hari itu: menunggu dengan sabar.
Menunggu bukanlah hal yang mudah. Apalagi ketika yang ditunggu adalah sesuatu yang sangat diharapkan. Dalam penantian itu, saya merenung. Bukankah dalam kehidupan ini, kita sering diminta untuk menunggu? Menunggu doa dikabulkan, menunggu rezeki datang, menunggu hasil dari usaha yang telah dilakukan.
Dan di situlah letak ujian kesabaran. Saya pun mencoba berdamai dengan keadaan. Saya menarik napas panjang, lalu beristighfar. Saya ingat bahwa Allah Subhanahu Wata'alla selalu bersama orang-orang yang sabar. Saya juga percaya bahwa tidak ada yang sia-sia dari setiap usaha yang telah dilakukan.
Saya menyadari bahwa dalam hidup ini hanya ada dua kemungkinan yaitu lolos atau tidak. Keduanya adalah takdir yang harus diterima dengan lapang dada. Jika lolos, itu adalah bentuk karunia dan nikmat yang patut disyukuri. Jika tidak, itu pun tetap merupakan kebaikan, meskipun mungkin belum saya pahami saat ini.
Saya mencoba melihat dari sudut pandang yang lebih luas. Jika tidak lolos, mungkin Allah sedang mengajari saya untuk lebih giat belajar, lebih banyak membaca, lebih dalam menggali ide, dan lebih tekun dalam menulis. Mungkin Allah ingin saya naik ke level yang lebih tinggi melalui proses yang tidak instan.
Bukankah sering kali kegagalan justru menjadi pintu menuju keberhasilan yang lebih besar? Saya tersenyum kecil. Hati ini mulai terasa lebih tenang. Saya tidak lagi terlalu gelisah seperti sebelumnya. Saya mulai menikmati proses menunggu itu sendiri sebagai bagian dari pembelajaran hidup.
Waktu terus berjalan, tetapi kali ini saya tidak lagi memandangnya sebagai beban. Saya mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Saya yakin, ketika waktunya tiba, pengumuman itu akan datang dengan sendirinya.
Hari itu mengajarkan saya banyak hal. Tentang ikhtiar, tentang tawakal, dan tentang sabar. Saya semakin yakin bahwa sebagai manusia, kita hanya bisa merencanakan dan berusaha. Selebihnya, Allah yang menentukan.
Saya pun menutup hari itu dengan perasaan yang lebih damai. Tidak lagi dikuasai rasa cemas, tetapi dipenuhi keyakinan bahwa apa pun hasilnya nanti, itu adalah bagian dari rencana terbaik Allah. Karena saya percaya, apa yang ditetapkan Allah tidak pernah salah, dan apa yang ditunda Allah tidak pernah sia-sia. Aamiin.
Cepu,8 April 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar