Karya: Gutamining Saida
Dua jam terakhir pelajaran IPS di kelas 7H sering menjadi waktu yang paling menantang. Rasa lelah mulai datang, kantuk perlahan menyerang, dan semangat belajar siswa biasanya menurun. Bagi saya, setiap waktu adalah amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Saya teringat bahwa dalam setiap aktivitas, termasuk mengajar, ada nilai ibadah jika diniatkan karena Allah Subhanahu Wata'alla.
Siang itu, saya sudah menyiapkan sesuatu yang berbeda: permainan “pencarian harta karun”. Bukan sekadar permainan biasa, tetapi saya ingin menyelipkan pelajaran tentang usaha, kejujuran, kerja sama, dan semangat. Harta karun yang akan mereka cari bukan emas atau perhiasan, melainkan uang rupiah dengan berbagai nominal diantaranya adalah seribu, dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh ribu, lima puluh ribu, hingga seratus ribu rupiah.
Sebelum masuk kelas, saya sudah menyiapkan 35 lembar uang dari berbagai jenis nominal tersebut. Di balik setiap uang, saya tempelkan pertanyaan-pertanyaan terkait materi IPS tentang permasalahan sosial budaya. Saya juga sudah menyusun strategi tempat persembunyian di serambi kelas, di balik pot bunga, di sela tanaman, di bawah kursi, bahkan di dekat gasebo.
Mereka mengangguk. Saya kemudian menjelaskan bahwa hari ini mereka akan melakukan pencarian harta karun. Seketika suasana kelas berubah. Mata yang tadinya sayu menjadi berbinar.
Permainan pun dimulai. Dengan penuh semangat, mereka keluar menuju serambi kelas untuk mencari “harta karun” yang telah saya sembunyikan. Ada yang berlari kecil, ada yang tertawa, ada yang saling memberi petunjuk.
Mendengar itu, siswa tampak semakin senang. Ada kelompok yang memilih duduk santai di gazebo sambil berdiskusi, menikmati angin sepoi-sepoi. Ada yang tetap di dalam kelas karena merasa lebih fokus. Ada pula yang memilih di lapangan, duduk melingkar di lapangan sambil saling bertukar pendapat.
Pemandangan itu begitu indah. Mereka belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari pengalaman. Saya berjalan mengamati setiap kelompok. Di gazebo, saya melihat siswa berdiskusi dengan serius, sesekali tersenyum. Di lapangan, ada yang sempat bercanda, tetapi tetap kembali fokus saat mengerjakan. Di kelas, suasana lebih tenang, penuh konsentrasi.
Saya merasa bahagia melihat mereka belajar dengan cara yang menyenangkan namun tetap bermakna. Dalam hati saya berdoa, semoga ilmu yang mereka dapatkan hari itu benar-benar melekat. Diskusi pun berjalan. Saya melihat ada kelompok yang saling berbagi tugas, ada yang membaca, ada yang menulis, ada yang memberi pendapat. Ada juga yang sempat berselisih kecil karena perbedaan jawaban. Di situlah saya mendekat dan mengingatkan dengan lembut.
Saya teringat bahwa dalam ajaran Islam, musyawarah adalah cara terbaik untuk mencapai keputusan bersama. Saya merasa inilah momen yang tepat untuk menanamkan nilai tersebut secara langsung. Setelah waktu diskusi selesai, saya meminta semua kelompok kembali ke kelas. Satu per satu mereka masuk kembali dengan membawa hasil kerja kelompok masing-masing. Wajah mereka terlihat puas, meskipun sebagian tampak lelah setelah beraktivitas di luar.
Di dalam kelas, suasana kembali tertata. Saya meminta mereka mengumpulkan hasil diskusi. Saya melihat wajah-wajah bahagia. Bukan hanya karena menemukan “harta karun”, tetapi karena mereka berhasil bekerja sama dan menyelesaikan tantangan bersama.
Suasana kelas menjadi lebih tenang. Beberapa siswa terlihat merenung dan berpikir. Saya menutup dengan doa, berharap apa yang kami lakukan hari itu menjadi amal kebaikan. “Semoga ilmu hari ini bermanfaat dan membawa keberkahan bagi kita semua.”
Ketika bel berbunyi, saya melihat senyum di wajah mereka. Dua jam terakhir yang biasanya melelahkan, hari itu berubah menjadi penuh makna. Saya bersyukur. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan nilai kehidupan. Saya percaya, sekecil apa pun usaha yang dilakukan dengan niat karena Allah, akan bernilai ibadah. Aamiin, semoga menginspirasi.
Cepu, 8 April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar