Rabu, 08 April 2026

Berburu Harta Karun

 


Karya: Gutamining Saida

Dua jam terakhir pelajaran IPS di kelas 7H sering menjadi waktu yang paling menantang. Rasa lelah mulai datang, kantuk perlahan menyerang, dan semangat belajar siswa biasanya menurun. Bagi saya, setiap waktu adalah amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Saya teringat bahwa dalam setiap aktivitas, termasuk mengajar, ada nilai ibadah jika diniatkan karena Allah Subhanahu Wata'alla.

Siang itu, saya sudah menyiapkan sesuatu yang berbeda: permainan “pencarian harta karun”. Bukan sekadar permainan biasa, tetapi saya ingin menyelipkan pelajaran tentang usaha, kejujuran, kerja sama, dan semangat. Harta karun yang akan mereka cari bukan emas atau perhiasan, melainkan uang rupiah dengan berbagai nominal diantaranya adalah seribu, dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh ribu, lima puluh ribu, hingga seratus ribu rupiah.

Sebelum masuk kelas, saya sudah menyiapkan 35 lembar uang dari berbagai jenis nominal tersebut. Di balik setiap uang, saya tempelkan pertanyaan-pertanyaan terkait materi IPS tentang permasalahan sosial budaya. Saya juga sudah menyusun strategi tempat persembunyian di serambi kelas, di balik pot bunga, di sela tanaman, di bawah kursi, bahkan di dekat gasebo.

Ketika saya masuk kelas, beberapa siswa terlihat lesu. Saya tersenyum dan mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” jawab mereka serempak, meski belum sepenuhnya bersemangat.

Saya memulai dengan mengajak mereka meluruskan niat.
“Anak-anak, belajar hari ini kita niatkan karena Allah ya. Semoga apa yang kita lakukan menjadi ilmu yang bermanfaat.”

Mereka mengangguk. Saya kemudian menjelaskan bahwa hari ini mereka akan melakukan pencarian harta karun. Seketika suasana kelas berubah. Mata yang tadinya sayu menjadi berbinar.

Saya membagi mereka menjadi beberapa kelompok, masing-masing terdiri dari empat, lima siswa. Saya tekankan bahwa dalam Islam, kerja sama adalah hal yang dianjurkan. “Kalau bekerja sama dengan baik, InsyaAllah hasilnya juga baik,” pesan saya.

Permainan pun dimulai. Dengan penuh semangat, mereka keluar menuju serambi kelas untuk mencari “harta karun” yang telah saya sembunyikan. Ada yang berlari kecil, ada yang tertawa, ada yang saling memberi petunjuk.

Di tengah keceriaan itu, saya mengingatkan,
“Ingat, jangan berebut ya. Rezeki setiap kelompok sudah Allah atur.” Kalimat itu sederhana, tetapi saya berharap tertanam dalam hati mereka bahwa segala sesuatu sudah diatur oleh Allah Subhanahu Wata'alla, dan kita hanya perlu berusaha dengan cara yang baik.

Satu per satu mereka menemukan uang-uang tersebut. “Bu, dapat seratus ribu!” teriak salah satu siswa dengan wajah sumringah. Yang lain tak kalah semangat, “Kami dapat lima puluh ribu, Bu!”

Saya kembali mengingatkan,
“Yang penting bukan besar kecilnya uang, tapi bagaimana kalian menjawab pertanyaannya.”

Setelah semua kelompok mendapatkan beberapa uang, saya memberikan kebebasan kepada mereka untuk menentukan tempat berdiskusi.
“Silakan kalian memilih tempat yang nyaman. Bisa di gazebo, di kelas, atau di lapangan. Yang penting tetap tertib dan fokus.”

Mendengar itu, siswa tampak semakin senang. Ada kelompok yang memilih duduk santai di gazebo sambil berdiskusi, menikmati angin sepoi-sepoi. Ada yang tetap di dalam kelas karena merasa lebih fokus. Ada pula yang memilih di lapangan, duduk melingkar di lapangan sambil saling bertukar pendapat.

Pemandangan itu begitu indah. Mereka belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari pengalaman. Saya berjalan mengamati setiap kelompok. Di gazebo, saya melihat siswa berdiskusi dengan serius, sesekali tersenyum. Di lapangan, ada yang sempat bercanda, tetapi tetap kembali fokus saat mengerjakan. Di kelas, suasana lebih tenang, penuh konsentrasi.

Saya merasa bahagia melihat mereka belajar dengan cara yang menyenangkan namun tetap bermakna. Dalam hati saya berdoa, semoga ilmu yang mereka dapatkan hari itu benar-benar melekat. Diskusi pun berjalan. Saya melihat ada kelompok yang saling berbagi tugas, ada yang membaca, ada yang menulis, ada yang memberi pendapat. Ada juga yang sempat berselisih kecil karena perbedaan jawaban. Di situlah saya mendekat dan mengingatkan dengan lembut.

“Perbedaan itu biasa. Yang penting diselesaikan dengan musyawarah.”

Saya teringat bahwa dalam ajaran Islam, musyawarah adalah cara terbaik untuk mencapai keputusan bersama. Saya merasa inilah momen yang tepat untuk menanamkan nilai tersebut secara langsung. Setelah waktu diskusi selesai, saya meminta semua kelompok kembali ke kelas. Satu per satu mereka masuk kembali dengan membawa hasil kerja kelompok masing-masing. Wajah mereka terlihat puas, meskipun sebagian tampak lelah setelah beraktivitas di luar.

Di dalam kelas, suasana kembali tertata. Saya meminta mereka mengumpulkan hasil diskusi. Saya melihat wajah-wajah bahagia. Bukan hanya karena menemukan “harta karun”, tetapi karena mereka berhasil bekerja sama dan menyelesaikan tantangan bersama.

Sebelum menutup pelajaran, saya mengajak mereka untuk mengambil hikmah. “Anak-anak, hari ini kita belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu, kita harus berusaha. Tapi ingat, usaha harus dibarengi dengan semangat, kejujuran, kerja sama, dan doa.”

Saya melanjutkan, “Uang yang kalian temukan hanyalah simbol. Harta yang sebenarnya adalah ilmu. Kalau kalian bersungguh-sungguh mencari ilmu, InsyaAllah itu akan menjadi bekal dunia dan akhirat.”

Suasana kelas menjadi lebih tenang. Beberapa siswa terlihat merenung dan berpikir. Saya menutup dengan doa, berharap apa yang kami lakukan hari itu menjadi amal kebaikan. “Semoga ilmu hari ini bermanfaat dan membawa keberkahan bagi kita semua.”

Ketika bel berbunyi, saya melihat senyum di wajah mereka. Dua jam terakhir yang biasanya melelahkan, hari itu berubah menjadi penuh makna. Saya bersyukur. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan nilai kehidupan. Saya percaya, sekecil apa pun usaha yang dilakukan dengan niat karena Allah, akan bernilai ibadah. Aamiin, semoga menginspirasi.

Cepu, 8 April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar