Karya: Gutamining Saida
Pukul 14.12 WIB, di tengah perjalanan menuju Sambong, sebuah notifikasi masuk ke ponsel saya. Pesan dari panitia seleksi naskah artikel konten budaya lokal. Hati saya seketika berdebar. Pesan singkat itu berbunyi sederhana, “Bagaimana, sudah ada?”
Saya terdiam sejenak. Beberapa menit sebelumnya, saya sempat membuka akun Perpustakaan Kabupaten Blora di Instagram. Belum ada tanda-tanda pengumuman. Rasa penasaran yang sejak pagi saya tahan, kini kembali muncul.
Dalam hati, saya bergumam, “Ya Allah, apakah ini pertanda?”
Saya pun mencoba menenangkan diri. Sebagai manusia biasa, rasa ingin tahu tetap menguat. Saya akhirnya mencari nomor salah satu panitia yang pernah saya simpan beberapa waktu silam. Dengan sedikit ragu, saya memberanikan diri menghubungi, berharap mendapatkan kepastian.
Sambil menunggu jawaban, tangan ini tak berhenti membuka Instagram Perpustakaan. Berkali-kali saya refresh, berharap ada kabar terbaru. Perasaan saat itu benar-benar bercampur aduk antara harap, cemas, dan doa yang terus saya panjatkan dalam diam.
Di tengah perjalanan itu, saya mencoba mengalihkan pikiran. Saya melihat jalanan, pepohonan, dan langit yang seolah ikut menjadi saksi kegelisahan hati. Saya menarik napas perlahan dan beristighfar.
“Ya Allah, saya sudah berusaha. Jika ini baik untuk saya, mudahkanlah. Jika belum, kuatkanlah hati saya untuk menerima.”
Tak lama kemudian, mata saya kembali tertuju pada layar ponsel. Saat itulah sebuah unggahan baru muncul. Pengumuman Seleksi Konten Budaya Lokal. Tanpa sadar, saya langsung mengucap, “Alhamdulillah…”
Ucapan itu keluar begitu saja, bahkan sebelum saya mengetahui hasilnya. Entah mengapa, hati ini merasa lega hanya karena pengumuman akhirnya muncul. Seolah penantian panjang sejak pagi tadi mulai menemukan ujungnya.
Pengumuman itu hanya berupa sebuah tautan yang harus dibuka. Tidak langsung terlihat hasilnya. Sementara saya masih dalam perjalanan menuju Sambong, kondisi tidak memungkinkan untuk membuka dengan tenang dan fokus.
Rasa penasaran kembali memuncak. Saya ingin segera tahu, tetapi juga tidak ingin tergesa-gesa. Dalam situasi seperti itu, saya teringat seseorang rekan, sahabat, yang sudah saya anggap seperti anak sendiri. Tanpa berpikir panjang, saya menghubunginya. “Bisa tolong lihatkan pengumumannya?”chats saya singkat.
"Saya tidak punya IG bu, bisa dikirim linknya?" balasnya.
"Iya bisa." Jawab saya.
Saya kirim link dengan segera. Pesan itu saya kirim dengan penuh harap. Dalam hati, saya berdoa agar apa pun hasilnya, saya diberi kekuatan untuk menerimanya. Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Setiap detik seperti memiliki makna. Saya mencoba menenangkan diri dengan dzikir. Mengingat bahwa segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wata'alla jauh sebelum saya merencanakannya.
Tak berapa lama, balasan pun datang. Sebuah daftar nama. Lima puluh peserta yang lolos seleksi.
Jantung saya berdegup lebih kencang. Mata saya berusaha mencari satu nama di antara puluhan nama lainnya. Namun sebelum saya benar-benar menemukan nama saya sendiri, pesan berikutnya masuk.
“Alhamdulillah kita lolos lagi bu.”
Saya terdiam. Sejenak, dunia terasa hening. Lalu, perlahan, senyum mengembang di wajah saya. Air mata hampir menetes, bukan karena sedih, tetapi karena haru yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Ucapan itu mungkin sederhana, tetapi di dalamnya ada rasa syukur yang begitu dalam. Saya sadar, ini bukan semata-mata hasil dari usaha saya. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah, yang memberikan kesempatan kepada saya untuk terus belajar.
Saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk belajar bersama para pakar di Perpustakaan Kabupaten Blora. Kesempatan yang tidak semua orang dapatkan. Kesempatan untuk menimba ilmu, memperluas wawasan, dan memperdalam kemampuan menulis, khususnya dalam bidang konten budaya lokal.
Saya menyadari, tanpa kuasa dan ridho Allah, saya tidak mungkin sampai di titik ini. Banyak orang yang mungkin lebih hebat, lebih berpengalaman. Allah memilih saya untuk ikut dalam perjalanan ini. Di sinilah saya memahami satu hal bahwa rezeki tidak selalu tentang materi. Rezeki bisa berupa kesempatan, pengalaman, dan ilmu.
Perjalanan menuju Sambong hari itu terasa berbeda. Angin yang berhembus seolah membawa ketenangan. Langit tampak lebih cerah. Hati saya dipenuhi rasa syukur. Betapa indahnya cara Allah mengatur segalanya. Dari rasa cemas di pagi hari, penantian panjang di siang hari, hingga kebahagiaan yang datang di sore hari. Semua tersusun begitu rapi.
Hari ini bukan hanya tentang lolos atau tidak. Tetapi tentang perjalanan hati belajar sabar, belajar tawakal, dan akhirnya belajar bersyukur. Saya pun berjanji pada diri sendiri, bahwa kesempatan ini tidak akan saya sia-siakan. Saya ingin belajar dengan sungguh-sungguh, menggali ilmu sebanyak mungkin, dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang bermanfaat. Karena saya percaya, ilmu yang baik adalah ilmu yang diamalkan. Setiap langkah yang diniatkan karena Allah, akan selalu menemukan jalan menuju keberkahan. Aamiin.
Cepu, 8 April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar