Saya soe ini mendapat ide cerita dari hal sederhana. Sebuah percakapan ringan di grup komunitas terapi. Di sana, saya lebih sering menjadi pengamat. Membaca, tersenyum sendiri, kadang ikut merasakan hangatnya kebersamaan meski hanya lewat layar.
Pagi itu, grup tampak lebih ramai dari biasanya. Pak Gun, yang dikenal sebagai instruktur terapi sekaligus pelatih renang yang sabar dan telaten, mengirim sebuah foto. Bukan foto kolam, bukan pula aktivitas terapi, melainkan seekor kera kecil.
Sontak saja, anggota grup langsung ramai berkomentar.
“Kok punya monyet, Pak?” tulis salah satu anggota.
Balasan pun cepat muncul, khas candaan akrab di antara mereka.
“Ya, mau dipinang?” jawab Pak Gun.
“Gak pak!” sahut Bu Ika dengan emotikon tertawa.
Obrolan pun berlanjut. Ternyata kera itu dibeli oleh anak Pak Gun saat masih bayi, dengan harga tujuh ratus ribu. Kini usianya sudah satu tahun. Kata Pak Gun, kera itu sudah “manut”, sudah pintar, bahkan tampak jinak. Namun ada satu kekhawatiran yang beliau sampaikan, “Kalau saya tinggal, tidak ada yang merawat.”
Percakapan sederhana itu membuat saya terdiam sejenak. Entah mengapa, foto kera itu membuka kembali pintu kenangan yang sudah lama terkunci dalam ingatan saya.
Kenangan masa kecil.
Saat itu saya masih duduk di kelas tiga SD. Setiap sore, saya pergi ke sekolah diniyah. Suasana sore hari terasa hangat, jalanan tidak terlalu ramai, dan langkah kecil saya selalu diiringi semangat untuk belajar mengaji.
Namun, ada satu hal yang selalu membuat saya waspada. Ustadz yang mengajar kami memiliki seekor kera. Kera itu tidak dikurung dalam kandang, hanya diikat dengan tali panjang di halaman. Kadang terlihat tenang, kadang juga bergerak lincah, membuat kami anak-anak sedikit takut namun juga penasaran.
Suatu sore, kejadian itu terjadi.
Saya datang seperti biasa, berjalan pelan menuju tempat belajar. Tapi entah bagaimana, kera itu tiba-tiba lepas dari kendalinya. Tali yang mengikatnya tidak lagi membatasi geraknya. Dalam sekejap, suasana berubah tegang.
Kera itu berlari ke arah saya.
Saya panik. Jantung berdegup kencang. Tanpa pikir panjang, saya berlari sekencang yang saya bisa. Langkah kecil saya terasa berat, napas tersengal, dan ketakutan memenuhi seluruh tubuh saya.
Namun saya kalah cepat.
Saya tidak ingat persis apa yang terjadi setelah itu. Yang saya ingat hanyalah rasa takut yang luar biasa… lalu gelap.
Saat saya membuka mata, saya sudah berada di rumah. Dikelilingi keluarga yang cemas. Ternyata saya pingsan.
Sejak kejadian itu, saya menyimpan trauma. Setiap kali melihat kera, hati saya langsung berdebar. Rasa takut itu muncul begitu saja, bahkan hingga saya dewasa. Saya selalu berusaha menghindar jika melihat hewan tersebut.
Namun hari ini, melalui foto sederhana yang dikirim Pak Gun, Allah seperti mengajak saya untuk merenung.
Saya berpikir… apakah rasa takut itu masih harus saya pelihara?
Bukankah kera itu juga makhluk ciptaan Allah?
Bukankah semua yang Allah ciptakan memiliki peran dan tempatnya masing-masing di dunia ini?
Saya mulai mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Kera itu bukanlah makhluk yang harus ditakuti secara berlebihan. Ia hanyalah hewan, yang bertindak sesuai nalurinya. Mungkin dulu ia lepas bukan karena ingin mencelakai, tetapi karena tidak terkontrol.
Dalam Al-Qur’an dan ajaran agama, manusia diajarkan untuk menjadi khalifah di bumi. Artinya, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan melindungi seluruh ciptaan Allah, termasuk hewan.
Rasulullah pun mengajarkan kasih sayang kepada semua makhluk. Bahkan kepada hewan sekalipun. Ada kisah tentang seseorang yang diampuni dosanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Ada pula kisah tentang seseorang yang mendapat azab karena menyiksa hewan.
Dari sana saya sadar, bahwa ketakutan saya selama ini mungkin berlebihan. Trauma masa kecil memang tidak mudah hilang, tetapi bukan berarti harus terus dipelihara.
Perlahan, saya belajar menerima.
Saya mulai mengubah cara pandang saya. Jika suatu saat melihat kera, saya tidak lagi ingin langsung menjauh dengan rasa panik. Saya ingin belajar melihatnya sebagai makhluk Allah yang juga berhak hidup, berhak dirawat, dan berhak dilindungi.
Percakapan di grup komunitas terapi itu ternyata bukan sekadar candaan. Di balik itu, ada pelajaran yang Allah sisipkan untuk saya.
Bahwa setiap kenangan, bahkan yang menyakitkan sekalipun, bisa menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Bahwa setiap makhluk memiliki hikmah.
Dan bahwa rasa takut pun bisa berubah menjadi pemahaman, jika kita mau merenung.
Saya tersenyum sendiri sambil menatap kembali foto kera yang dikirim Pak Gun. Kali ini, tidak ada lagi rasa takut yang berlebihan. Yang ada justru rasa iba dan kesadaran.
Mungkin, kera itu tidak membutuhkan untuk ditakuti.
Tetapi membutuhkan untuk dipahami.
Dan saya pun berdoa dalam hati, semoga Allah melembutkan hati saya, menghilangkan sisa-sisa ketakutan, dan menggantinya dengan rasa kasih sayang kepada seluruh ciptaan-Nya.
Karena pada akhirnya, kita semua hidup di bumi yang sama, sebagai makhluk yang sama-sama bergantung pada kasih sayang Allah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar