Karya: Gutamining Saida
Saat saya sedang santai di masjid Esmega, menikmati suasana yang tenang selepas aktivitas pagi, tiba-tiba terdengar suara dari seberang. Awalnya samar, seperti orang memanggil dari kejauhan. Saya tidak terlalu menghiraukan, hingga suara langkah kaki terdengar semakin mendekat. Irama langkahnya pelan tapi pasti, seolah membawa kabar yang tidak biasa.
“Bu Saida, ini ada yang nyari,” ujar seseorang dari arah seberang.
Saya sedikit terkejut. Siapa ya yang mencari saya di saat seperti ini? Dengan rasa penasaran, saya langsung melonggok ke arah suara, sedikit mencondongkan badan ke luar untuk memastikan siapa gerangan.
Dari kejauhan, tampak sosok yang berjalan mendekat. Semakin jelas, semakin terasa ada sesuatu yang familiar. Lalu… senyum itu. Senyum yang hangat, yang rasanya sudah lama sekali tidak saya lihat. Bahkan mungkin sudah bertahun-tahun berlalu sejak terakhir kali kami bertemu.
“Oh… Bu Pengawas?” spontan saya berkata, hampir tidak percaya.
Beliau tersenyum lebar, langkahnya dipercepat sedikit. Saya pun segera bangkit dari tempat duduk, menyambut beliau dengan perasaan campur aduk antara kaget, senang, dan haru.
“Bu Saida… masih ingat saya?” tanyanya dengan nada lembut.
“MasyaAllah, tentu saja ingat, Bu. Bagaimana kabarnya?” jawab saya sambil menyalami beliau dengan hangat.
Pertemuan itu terasa seperti membuka kembali lembaran lama. Dulu, sering bersama di sekolah untuk melakukan kegiatan bersama. Sosoknya tegas penuh perhatian. Banyak cerita yang dilalui bersama, yang hingga kini masih saya ingat.
Kini, ada yang terasa berbeda. Dulu beliau sebagai teman mengajar satu sekolah, sementara beliau sekarang adalah sebagai pengawas. Ada jarak profesional yang secara tidak langsung tercipta. Tapi hari ini, di serambi masjid yang sederhana ini, semua terasa begitu cair. Tidak ada sekat, tidak ada jarak. Kami duduk berdampingan, berbincang layaknya dua sahabat lama yang dipertemukan kembali oleh waktu.
Kami pun larut dalam cerita-cerita masa lalu. Tentang hari-hari ketika kami sama-sama berjuang mendidik anak bangsa. Tentang kelas-kelas yang penuh dinamika, siswa-siswa dengan berbagai karakter, dan tantangan yang kadang membuat lelah namun selalu ada kebahagiaan di dalamnya. Kami tersenyum, bahkan tertawa kecil, mengingat momen-momen yang dulu terasa biasa, tetapi kini menjadi kenangan yang sangat berharga.
Saya memandang beliau dengan rasa hormat yang sama, bahkan mungkin lebih dalam. Kini saya menyadari, setiap orang memiliki jalan rezekinya masing-masing. Beliau diberi amanah sebagai pengawas, sebuah posisi yang tentu penuh tanggung jawab. Itu adalah rezeki yang Allah kehendaki untuk beliau. Tidak ada yang keliru, tidak ada yang tertukar.
Dan saya… tetap di jalan saya sebagai seorang guru. Awalnya mungkin pernah terlintas pertanyaan dalam hati, namun hari ini semua terasa begitu jelas. Menjadi guru pun adalah rezeki, kesempatan yang luar biasa untuk terus berjuang di dunia pendidikan. Setiap hari bertemu siswa, membimbing mereka, menanamkan nilai, dan melihat mereka tumbuh itulah kebahagiaan yang tidak ternilai.
“Ya Allah, terima kasih atas jalan yang Engkau pilihkan.” Saya merasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk memberi manfaat, tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi lingkungan sekitar. Semua ini semoga menjadi bekal di akhirat kelak.
Obrolan kami semakin hangat, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hingga akhirnya beliau berpamitan. Sebelum beranjak, beliau berkata, “Tetap semangat mengajar ya, Bu. Guru seperti panjenengan ini sangat dibutuhkan.” Saya tersenyum, kali ini dengan perasaan yang lebih mantap. “InsyaAllah, Bu. Mohon doanya selalu.”
Kami saling berpandangan sejenak, seolah saling memahami tanpa perlu banyak kata. Pertemuan ini bukan sekadar temu kangen, tetapi juga pengingat bahwa setiap langkah dalam hidup sudah diatur dengan sebaik-baiknya.
Saat beliau melangkah pergi, saya kembali duduk di serambi masjid. Angin berhembus pelan, membawa ketenangan yang berbeda. Hati saya terasa lebih lapang. Pertemuan singkat ini benar-benar menjadi penguat langkah saya. Bahwa di manapun posisi kita, selama itu dijalani dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab, maka semuanya akan bernilai ibadah. Saya pun kembali yakin, bahwa jalan saya sebagai guru adalah bagian dari perjuangan yang tidak boleh saya sia-siakan.
Cepu, 7 April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar