Jumat, 10 April 2026

Jalan Kenangan



Karya : Gutamining Saida

Siang itu, roda motor melaju lebih pelan dari biasanya. Bukan karena bensin akan menipis, tetapi karena hati sedang diajak kembali menyusuri jejak-jejak lama yang penuh kenangan. Saya sengaja memilih jalan ini. Jalan yang selama kurang lebih tujuh belas tahun menjadi saksi perjalanan hidup saya. Jalan yang setiap pagi dan siang saya lewati dengan berbagai rasa yaitu semangat, lelah, harap, bahkan kadang linangan air mata.

Di sepanjang jalan itu, begitu banyak kenangan yang seolah hidup kembali. Terbayang bagaimana dulu saya bergegas mengejar waktu agar tidak terlambat, kadang dengan langkah ngegas, kadang hampir gaspol. Sinar matahari yang menyengat pernah menjadi teman setia, begitu pula hujan deras yang tak jarang mengguyur tanpa ampun. Pernah roda depan ini terjerembab di genangan air, basah kuyup, namun tetap harus bangkit dan melanjutkan perjalanan. Semua itu kini terasa indah untuk dikenang.

Di kanan kiri jalan, pepohonan hijau masih berdiri, seakan menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Daunnya bergoyang pelan tertiup angin, seperti menyapa dan berkata, “Kamu pernah lewat sini, kamu pernah berjuang di sini.” Hati ini pun bergetar. Betapa banyak nikmat yang telah Allah Subhanahu Wata'alla berikan selama perjalanan panjang itu. Suka dan duka silih berganti, namun semuanya adalah bagian dari takdir yang telah digariskan.

Saya pun berbisik dalam hati, “Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah membersamai setiap langkahku. Engkau yang menguatkan saat lemah, Engkau yang menenangkan saat gelisah.” Tanpa pertolongan-Nya, mungkin saya tidak akan mampu melewati semua itu.

Tujuan siang ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ada undangan yang harus dipenuhi sebuah acara makan bersama sambil menyaksikan pentas ketoprak. Namun lebih dari itu, perjalanan ini terasa seperti  kenangan, mengunjungi masa lalu yang penuh pelajaran hidup.

Setibanya di lokasi, suasana sudah ramai. Warga berkumpul dengan wajah ceria. Anak-anak berlarian dengan riang, orang dewasa berbincang hangat, sementara para orang tua duduk santai menikmati suasana. Tikar-tikar digelar di tanah, kursi-kursi disusun rapi, menciptakan suasana kebersamaan yang sederhana namun penuh kehangatan.

Di tengah keramaian itu, pentas ketoprak menjadi pusat perhatian. Ketoprak adalah salah satu seni pertunjukan tradisional Jawa yang mengisahkan cerita kehidupan, sejarah, maupun legenda, biasanya dibalut dengan dialog, musik gamelan, dan sentuhan humor. Lebih dari sekadar hiburan, ketoprak mengandung pesan moral, nasihat kehidupan, serta nilai-nilai kebijaksanaan yang dapat diambil oleh penontonnya.

Melihat pentas itu, saya berpikir betapa indahnya budaya yang Allah izinkan tumbuh di tengah masyarakat Jawa. Seni ketoprak bukan hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan kebaikan, mengingatkan manusia tentang nilai kehidupan, bahkan kadang menyelipkan pesan religius tentang kejujuran, kesabaran, dan keikhlasan.

Para pemain tampil dengan penuh penghayatan. Dialog mereka mengalir, sesekali diselingi tawa penonton yang pecah karena humor yang ringan namun mengena. Anak-anak terlihat antusias, sementara orang dewasa menikmati dengan santai. Semua larut dalam suasana kebersamaan.

Di sela-sela pertunjukan, para pedagang makanan dan minuman hilir mudik menawarkan dagangan. Suara mereka terdengar bersahutan, namun tidak mengganggu, justru menambah hidup suasana. Ada yang menjajakan es teh, sosis, kacang godok, gorengan, hingga makanan ringan lainnya. Mereka tetap semangat, berharap rezeki dari Allah melalui keramaian hari itu.

“Begitulah Allah mengatur rezeki hamba-Nya. Ada yang datang sebagai penonton, ada yang datang sebagai pedagang, ada pula yang tampil sebagai penghibur. Semua memiliki peran masing-masing, dan semua sedang menjemput rezekinya.”

Makan bersama pun menjadi bagian yang tak kalah hangat. Sederhana, penuh rasa syukur. Setiap suapan, saya menyadari bahwa nikmat sekecil apa pun adalah pemberian dari Allah yang patut disyukuri. Kebersamaan ini juga menjadi pengingat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain.

Di tengah suasana itu, hati terasa damai. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan yang dipermasalahkan. Duduk bersama, menikmati momen yang sama. Inilah keindahan kebersamaan yang sering kali terlupakan di tengah kesibukan hidup.

Perjalanan siang ini bukan hanya tentang memenuhi undangan, tetapi juga tentang mengingat kembali perjalanan hidup, mensyukuri nikmat Allah, serta menikmati kebersamaan yang sederhana namun bermakna.

“Ya Allah, terima kasih atas setiap kenangan yang Engkau berikan. Jadikan setiap langkah kami bernilai ibadah, setiap pertemuan membawa keberkahan, dan setiap kenangan menjadi pengingat untuk selalu bersyukur kepada-Mu.”

Di sepanjang jalan kenangan, kehidupan terasa begitu hangat dan sederhana. Deretan penjual kecil berjajar dengan penuh keramahan, seolah menyapa setiap orang yang melintas. Aroma gorengan yang baru diangkat dari wajan menyebar menggoda, renyah di luar dan lembut di dalam, apalagi harganya begitu bersahabat membuat siapa saja sulit menolak untuk berhenti sejenak.

Tak jauh dari situ, tampak penjual es degan dengan tumpukan kelapa muda yang segar. Airnya yang jernih dan dagingnya yang lembut menjadi pelepas dahaga di tengah teriknya siang. Rasanya manis alami, menenangkan, seperti hadiah kecil dari alam.

Di sisi lain, ada penjual peyek ketumbar yang tak kalah menarik. Peyeknya tipis, gurih, dengan aroma khas ketumbar yang menggugah selera. Setiap gigitan menghadirkan sensasi kriuk yang membuat ingin menambah lagi. Sementara itu, potongan buah nanas kuning keemasan tersusun rapi, tampak segar dan menggoda. Rasanya manis sedikit asam, sangat pas untuk menyegarkan tenggorokan.

Alhamdulillah, siang itu menjadi momen yang sederhana namun penuh makna. Berhenti sejenak, membeli, dan menikmati hidangan dari tangan-tangan sederhana itu menghadirkan rasa syukur yang mendalam. Di balik kesederhanaan, tersimpan kenikmatan dan kebahagiaan yang tak ternilai. Siang ini berakhir dengan senyum bahagia. Kenangan bersama akan tetap hidup, tersimpan rapi dalam hati, menjadi bagian dari perjalanan panjang yang penuh hikmah. 

Cepu, 10 April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar