Karya: Gutamining Saida
Pertemuan kedua setelah Hari Raya Idulfitri terasa begitu berbeda. Ada nuansa yang lebih hangat, lebih tenang, sekaligus penuh harapan. Pagi itu saya melangkah menuju kelas 8H dengan hati yang diliputi rasa syukur. Saya masuk tepat pada jam pembelajaran ke 1-2 . Setelah sebulan ditempa dalam madrasah Ramadan, saya percaya setiap anak membawa secercah perubahan dalam dirinya, sekecil apa pun itu.
Saat memasuki kelas, suasana masih terasa riuh, namun berbeda dari biasanya. Wajah-wajah mereka tampak lebih bersih, bukan hanya karena pakaian rapi yang dikenakan, tetapi juga karena hati yang mungkin telah dibersihkan melalui ibadah dan saling memaafkan. Saya membuka pembelajaran dengan mengucap salam, yang dijawab serempak dengan penuh semangat.
“Anak-anak, setelah kita saling memaafkan di hari yang fitri, mari kita isi hari-hari kita dengan ilmu yang bermanfaat,” ucap saya.
Saya memulai pembelajaran dengan membahas keadaan ekonomi Indonesia pada awal kemerdekaan. Saya jelaskan pengertiannya terlebih dahulu, bahwa kondisi ekonomi saat itu sangat memprihatinkan. Negara yang baru saja merdeka harus menghadapi berbagai kesulitan, mulai dari kekurangan sumber daya hingga belum stabilnya pemerintahan.
Kemudian saya lanjutkan dengan sebab-sebabnya. Saya sampaikan bahwa penjajahan yang begitu lama telah menguras kekayaan bangsa. Infrastruktur rusak, produksi menurun, dan rakyat hidup dalam keterbatasan. Ditambah lagi adanya inflasi tinggi karena beredarnya berbagai mata uang secara bersamaan.
Saya melihat beberapa siswa mulai mengangguk, mencoba memahami. Lalu saya ajak mereka merenung sejenak.
“Coba bayangkan, anak-anak, bagaimana rasanya hidup di masa itu? Saat makan saja sulit, pekerjaan tidak menentu, dan negara masih berjuang mencari jati diri,” kata saya pelan.
Suasana kelas menjadi lebih hening. Saya lanjutkan dengan menjelaskan permasalahan ekonomi yang dihadapi, seperti kas negara yang kosong, utang luar negeri, serta kurangnya tenaga ahli. Semua itu membawa akibat yang tidak ringan: kemiskinan merajalela, pengangguran meningkat, dan pembangunan terhambat.
Di balik semua itu, saya tekankan nilai pentingnya: perjuangan dan tawakal.
“Anak-anak, para pendahulu kita tidak menyerah. Mereka tetap berusaha, berikhtiar, dan tentu saja berdoa kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Karena mereka yakin, setelah kesulitan pasti ada kemudahan,” ujar saya sambil mengingatkan makna firman-Nya.
Saya ingin mereka tidak hanya memahami sejarah sebagai hafalan, tetapi sebagai pelajaran hidup.
Setelah materi selesai, saya merasa suasana perlu sedikit dicairkan. Namun tetap dalam koridor pembelajaran yang bermakna. Saya pun mengeluarkan beberapa lembar uang mainan yang sudah saya siapkan sebelumnya yaitu pecahan 100 ribu, 50 ribu, 20 ribu, 10 ribu, 2 ribu, dan 1 ribu. Uang tersebut berjumlah 40 biji. Jumlah siswa ada 32 anak. Tujuannya agar yang sudah menyelesaikan bisa langsung mengambil sisa uang yang ada di depan tanpa menunggu temannya selesai.
Mata mereka langsung berbinar.
“Wah, ada THR, Bu?” celetuk salah satu siswa.
Saya tersenyum. “Iya, ini THR… tapi bukan untuk dibelanjakan, melainkan untuk menambah ilmu dan diselesaikan.”
Mereka tertawa kecil, penasaran.
Saya menjelaskan bahwa di balik setiap uang terdapat pertanyaan. Siapa yang mengambil, harus menjawab pertanyaan tersebut. Jika benar, mereka boleh menyimpan uang itu sebagai simbol keberhasilan.
Permainan pun dimulai. Satu per satu siswa maju dengan penuh semangat. Ada yang mendapatkan pertanyaan mudah, ada pula yang harus berpikir lebih keras. Yang membuat saya terharu, mereka mengambil uang sesuai dengan keinginan mereka dan saling membantu. Jika ada teman yang kesulitan, yang lain memberi semangat, bahkan membantu mengingatkan.
Di situlah saya melihat nilai kebersamaan yang indah. Seorang siswa yang biasanya pendiam, hari itu memberanikan diri maju. Ia mendapatkan uang pecahan kecil, namun pertanyaannya cukup menantang. Ia sempat ragu, menunduk sejenak, lalu mencoba menjawab.
“Menurut saya… karena kas negara kosong, Bu,” jawabnya pelan.
“MasyaAllah, benar sekali,” kata saya.
Wajahnya langsung berseri. Teman-temannya memberi tepuk tangan. Saya melihat bukan sekadar permainan, tetapi ada rasa percaya diri yang tumbuh.
Permainan terus berlangsung dengan penuh antusias. Satu per satu siswa maju, menjawab, dan berhasil. Tidak ada yang menyerah, tidak ada yang diam. Bahkan siswa yang biasanya kurang percaya diri hari itu ikut mencoba. Dengan semangat yang luar biasa, akhirnya seluruh siswa berhasil menyelesaikan pertanyaan mereka dengan baik.
Setelah semua selesai, mereka pun dengan tertib mengumpulkan hasilnya kepada saya. Uang-uang mainan yang mereka pegang menjadi bukti usaha mereka. Mereka datang satu per satu, bahkan ada yang berbaris rapi, sambil berkata dengan penuh harap, “Bu, ini sudah saya kerjakan, mohon nilainya.”
Saya tersenyum haru melihat pemandangan itu. Ada kesungguhan, ada tanggung jawab, dan ada keinginan untuk dihargai atas usaha mereka.
“MasyaAllah, luar biasa. Kalian semua hebat hari ini,” ucap saya sambil memberikan penilaian.
Di sela itu, saya menyisipkan pesan. “Anak-anak, uang yang kalian pegang ini hanya kertas. Tapi dalam kehidupan nyata, uang bisa menjadi ujian. Bisa membuat orang lupa diri, bahkan lupa bersyukur. Maka gunakanlah rezeki dengan cara yang baik, halal, dan bermanfaat.”
Mereka terdiam, mendengarkan. Saya lanjutkan, “Seperti para pejuang kita dahulu, meski hidup serba kekurangan, mereka tetap jujur dan berjuang dengan penuh keikhlasan. Itulah yang harus kita teladani.”
Permainan berakhir dengan penuh keceriaan. Tidak ada yang merasa kalah, karena semua telah berusaha dan berhasil. Saya menutup pembelajaran dengan refleksi sederhana.
“Apa yang kalian pelajari hari ini?” tanya saya.
Beberapa tangan terangkat.
“Belajar bersyukur, Bu.”
“Belajar tentang perjuangan.”
“Belajar berani menjawab.”
“Belajar bertanggung jawab, Bu, karena harus mengumpulkan hasil,” tambah salah satu siswa.
Saya tersenyum haru. Saya berdoa, semoga ilmu yang mereka dapatkan hari ini menjadi amal jariyah, tidak hanya untuk saya, tetapi juga untuk mereka di masa depan.
Sebelum keluar kelas pergantian jam pembelajaran, saya mengajak mereka membaca hamdalah bersama. Saya ingin setiap pembelajaran ditutup dengan rasa syukur.
Hari itu saya keluar kelas dengan hati yang senang. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan nilai. Saya yakin, sekecil apa pun kebaikan yang ditanam, suatu saat akan tumbuh menjadi sesuatu yang besar, atas izin Allah Subhanahu Wata'alla, Aamiin.
Cepu, 1 April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar