Selasa, 31 Maret 2026

Hari Pertama Setelah Lebaran

 


Karya : Gutamining Saida

Hari Senin, 30 Maret 2026, menjadi hari pertama pembelajaran. Kita kembali memulai setelah libur panjang. Suasana sekolah terasa berbeda. Pagi itu udara masih segar, semangat siswa sudah mulai terasa sejak langkah kaki mereka memasuki gerbang sekolah. Ada wajah-wajah ceria yang penuh cerita tentang liburan, ada pula yang masih terbawa suasana santai khas hari-hari sebelumnya.

Bagi saya pribadi, hari itu sudah saya siapkan sejak sehari sebelumnya. Sebagai guru, tentu saya ingin hari pertama masuk setelah libur tidak terasa kaku atau membosankan. Saya menyadari betul bahwa siswa membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri kembali dengan ritme belajar. Oleh karena itu, saya mempersiapkan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) yang ringan, menarik, yang saya sesuaikan dengan keadaan lebaran.

Minggu sore, saya sudah membagikan LKPD tersebut melalui grup WhatsApp masing-masing kelas, termasuk kelas 8G. Saya juga menuliskan pesan singkat, “Anak-anak, besok jangan lupa LKPD-nya dibawa ya. Kita akan belajar dengan cara yang menyenangkan.” Saya berharap mereka benar-benar membaca dan mempersiapkan diri.

Waktu terus berjalan hingga tibalah giliran saya mengajar di jam terakhir di kelas 8G. Jam terakhir memang sering menjadi tantangan tersendiri. Energi siswa biasanya sudah mulai menurun, apalagi di hari pertama masuk sekolah. Saya mencoba masuk kelas dengan senyum dan semangat yang tetap utuh.

“Assalamu’alaikum, anak-anak!” sapa saya membuka pembelajaran.

“Wa’alaikumussalam, Bu!” jawab mereka serempak, meskipun beberapa masih terdengar lelah.

Saya memulai dengan obrolan ringan tentang liburan mereka. Ternyata benar, suasana kelas langsung mencair. Beberapa siswa bercerita tentang mudik, berkumpul dengan keluarga, hingga pengalaman lucu selama liburan. Tawa kecil pun mulai terdengar, membuat suasana kelas menjadi lebih hidup.

Setelah suasana cukup hangat, saya mulai masuk ke kegiatan inti.

“Anak-anak, siapa yang membawa LKPD?” tanya saya.

Hampir semua siswa mengangkat LKPD mereka dengan penuh percaya diri. Saya tersenyum melihat kesiapan mereka. Namun, seperti yang sudah saya duga, ada beberapa yang belum membawa.

Saya menghitung dengan cepat. Ternyata ada tiga siswa yang tidak membawa LKPD.

“Baik, tidak apa-apa,” kata saya dengan nada tetap tenang. “Ibu punya tugas khusus untuk kalian bertiga.”

Ketiga siswa itu tampak sedikit tegang, mungkin khawatir akan mendapatkan hukuman. Namun, Saya tidak ingin membuat mereka merasa tertekan. Sebaliknya, saya ingin tetap memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan.

“Kalian bertiga, tugasnya membuat tebakan atau teka-teki lebaran. Bebas, boleh tentang apa saja, tapi harus menarik dan nanti dibacakan di depan kelas.”

Wajah mereka yang tadinya tegang perlahan berubah. Ada sedikit kelegaan, bahkan mulai terlihat rasa penasaran. Teman-teman yang lain pun tampak tertarik.

Sementara itu, siswa yang membawa LKPD mulai mengerjakan tugas yang sudah saya siapkan. Mereka bekerja dengan cukup serius, meskipun sesekali masih diselingi obrolan kecil. Saya berkeliling kelas, membantu siswa yang mengalami kesulitan, dan memastikan semua berjalan dengan baik.

Di sudut kelas, tiga siswa yang mendapat tugas khusus tampak berdiskusi. Mereka terlihat berpikir keras, sesekali tertawa, dan mencoba merangkai kalimat tebakan yang unik. Saya memperhatikan mereka dari jauh dan merasa senang. Ternyata, dengan pendekatan yang berbeda, mereka justru menjadi lebih aktif.

Beberapa menit kemudian, saya meminta perhatian seluruh kelas.

“Sekarang, kita dengarkan hasil karya teman-teman kita yang membuat tebakan,” kata saya.

Salah satu siswa maju dengan sedikit malu-malu, namun tetap berani.

“Tebakan pertama, Bu… dan teman-teman…,” katanya.

Suasana kelas langsung hening, semua memperhatikan.

“Aku punya bentuk panjang. Aku terbalut daun pisang dan memiliki manfaat dapat membuat kenyang semua yang menikmati aku. Siapakah aku?”

Beberapa siswa langsung berbisik, mencoba menebak. Ada yang menjawab salah, ada yang tertawa.

“Lontong!” teriak salah satu siswa.

“Betul!” jawab siswa yang maju dengan wajah sumringah.

Tepuk tangan pun terdengar di seluruh kelas.

Siswa kedua maju dengan lebih percaya diri.

“Aku berada di kuah bersantan warnaku menarik untuk dilihat dan ada di saat lebaran. Biasa dinikmati bersama lontong, ketupat. Apa aku?”

Kelas kembali ramai dengan berbagai jawaban. Hingga akhirnya ada yang menjawab, “Opor ayam!”

“Ya, benar!” jawabnya dengan bangga.

Kini giliran siswa ketiga. Ia terlihat paling gugup, namun tetap mencoba.

“Aku bentuknya pipih, kotak membuat orang senang bila menerima. Apa aku?”

Kelas sempat terdiam, berpikir. Hingga akhirnya ada yang menjawab, “Tempe goreng?”

“Bukan…” katanya sambil tersenyum.

“Apa ya?” tanya teman-temannya penasaran.

“Jawabannya… Uang THR!” katanya.

Kelas langsung riuh. Ada yang tertawa, ada yang mengangguk paham.

Momen itu menjadi sangat berkesan. Siswa yang tidak membawa LKPD justru memberikan warna tersendiri dalam pembelajaran hari itu. Mereka tidak hanya belajar, tetapi juga menghibur dan menghidupkan suasana kelas.

Saya menutup pembelajaran dengan refleksi singkat.

“Anak-anak, hari ini kita belajar bahwa setiap orang punya kesempatan untuk berkontribusi. Yang membawa LKPD belajar dengan tugasnya, yang tidak membawa juga tetap belajar dengan cara yang berbeda.”

Mereka mengangguk pelan.

“Yang terpenting, kita tetap semangat dan bertanggung jawab, ya.”

“Siap, Bu!” jawab mereka kompak.

Hari pertama ditutup dengan perasaan hangat. Ternyata, pembelajaran tidak harus selalu sempurna sesuai rencana. Justru dari hal-hal kecil yang tidak terduga, muncul pengalaman yang berharga.

Jam terakhir di kelas 8G di hari pertama masuk sekolah pun menjadi salah satu momen yang tak terlupakan. Sebuah pengingat bahwa kreativitas dalam mengajar mampu mengubah keadaan sederhana menjadi luar biasa.

Cepu, 1 April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar