Rabu, 25 Maret 2026

Memaafkan Di Hari Lebaran



Karya : Gutamining Saida

Lebaran selalu datang dengan suasana yang membahagiakan. Tidak hanya tentang baju baru, hidangan istimewa, atau rumah yang ramai oleh keluarga. Lebaran adalah momen ketika hati diajak kembali ke fitrah bersih, lapang, dan penuh keikhlasan. Di saat itu, manusia seolah diingatkan bahwa sebesar apa pun kesalahan, selalu ada pintu maaf yang terbuka, selama kita mau mengetuknya dengan tulus.

Setelah menunaikan salat Id, saya duduk sejenak memandangi layar ponsel. Satu per satu pesan ucapan selamat Idulfitri masuk. Grup keluarga, grup sekolah, grup guru, hingga grup siswa semuanya ramai. Kalimat yang hampir seragam, terasa hangat yaitu mohon maaf lahir dan batin.

Saya pun mulai menyusun kata. Tidak sekadar formalitas, tetapi benar-benar ingin menyampaikan permohonan maaf yang tulus. Saya kirimkan pesan itu ke berbagai grup siswa, teman, rekan guru, bahkan grup sekolah. Dalam hati, saya berharap bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga menjadi pengingat bagi diri saya untuk benar-benar memperbaiki hubungan dengan sesama.

Tak lama, balasan mulai berdatangan. Ada yang panjang, ada yang singkat, ada pula yang hanya membalas dengan emotikon. Namun, semuanya membawa pesan yang sama: saling memaafkan.

Di tengah banyaknya balasan itu, ada satu pesan yang membuat saya berhenti sejenak. Pesan itu datang dari seorang teman. Awalnya ia membalas dengan kalimat umum, “Sama-sama, saya juga minta maaf.” Beberapa saat kemudian, muncul pesan lagi darinya.

“Eeee… keduluan, padahal saya banyak dosa.” tulisnya

Saya tersenyum membaca kalimat itu. Ada kejujuran di dalamnya, ada kerendahan hati yang terasa begitu tulus. Tanpa berpikir panjang, saya membalas singkat, “Gak cari kalah atau menang.”

Tak lama kemudian, ia bertanya lagi, “Lha terus?”

Saya menatap layar, lalu mengetik perlahan, “Yang utama saling untuk memaafkan.”

Percakapan sederhana itu ternyata menyimpan makna yang dalam. Di balik candaan ringan, terselip pelajaran besar tentang keikhlasan. Betapa sering manusia tanpa sadar menjadikan permintaan maaf seperti sebuah “perlombaan”. Siapa yang lebih dulu, siapa yang lebih banyak dosanya, bahkan siapa yang lebih pantas meminta maaf.

Menurut ajaran agama islam, meminta maaf bukanlah tentang kalah atau menang. Bukan tentang gengsi atau harga diri. Melainkan tentang keberanian untuk merendahkan hati di hadapan sesama manusia, demi mendapatkan ridha Allah Subhanahu Wata'alla.

Saya terdiam sejenak, merenungi percakapan itu. Betapa indahnya jika kebiasaan meminta maaf ini tidak hanya hadir saat Lebaran. Andai dalam kehidupan sehari-hari, setiap kali kita melakukan kesalahan, kita langsung berani mengakui dan meminta maaf tanpa menunggu momen khusus seperti lebaran.

Kenyataannya, tidak semudah itu. Ego sering kali menjadi penghalang. Rasa gengsi, takut dianggap lemah, atau bahkan merasa diri lebih benar membuat kata “maaf” terasa berat untuk diucapkan.

Padahal, dalam pandangan Allah  Subhanahu Wata'alla, orang yang mau meminta maaf justru adalah orang yang mulia. Ia mampu mengalahkan hawa nafsunya sendiri. Ia berani jujur pada dirinya bahwa ia tidak luput dari kesalahan.

Begitu pula dengan memberi maaf. Tidak semua orang mudah melakukannya. Ada luka yang dalam, ada kekecewaan yang sulit dilupakan. Lebaran mengajarkan bahwa memaafkan adalah jalan menuju ketenangan hati. Saat kita memaafkan, sejatinya kita sedang membebaskan diri dari beban yang kita pikul sendiri.

Saya kembali membuka pesan-pesan yang masuk. Di sana, saya melihat begitu banyak orang yang saling merendahkan hati, saling mengakui kekurangan, dan saling memaafkan. Sebuah pemandangan yang indah, meski hanya melalui layar kecil.

Dalam hati saya berbisik, “Ya Allah, andai kebiasaan ini bisa terus kami jaga, tidak hanya di hari raya.”

Saya teringat dengan sabda Rasulullah bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya. Dan salah satu bentuk akhlak yang mulia adalah mudah meminta maaf dan mudah memaafkan.

Percakapan singkat dengan teman tadi menjadi pengingat yang kuat bagi saya. Bahwa dalam hidup ini, tidak perlu ada yang merasa paling benar. Tidak perlu ada yang merasa paling suci. Karena pada hakikatnya, kita semua adalah hamba yang penuh dosa dan kekurangan.

Yang membedakan hanyalah siapa yang lebih cepat menyadari, siapa yang lebih berani meminta maaf, dan siapa yang lebih lapang dalam memberi maaf. Lebaran bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah latihan hati. Latihan untuk menundukkan ego, melembutkan jiwa, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Sebelum menutup ponsel, saya kembali mengetik satu kalimat di grup kecil bersama teman dekat.

“Semoga setelah Lebaran ini, kita tidak hanya pandai meminta maaf, tapi juga terbiasa melakukannya setiap hari.” Saya tersenyum. Karena sejatinya, kemuliaan bukan terletak pada siapa yang lebih tinggi derajatnya di mata manusia, tetapi pada siapa yang paling mampu merendahkan hati di hadapan sesamanya. Dan di situlah, nilai Lebaran menemukan maknanya yang paling berarti.

Cepu,25 Maret 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar