Karya: Gutamining Saida
Bulan Maret 2026 menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan terapi saya. Di bulan itu, saya mengikuti terapi menulis yang awalnya saya anggap hanya sebagai kegiatan biasa. Seiring waktu, saya menyadari bahwa terapi ini bukan sekadar merangkai kata, melainkan sebuah jalan untuk mengenal diri, menata hati, melatih disiplin dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'alla.
Prosesnya, saya memahami satu hal yang sangat sulit ,banyak rintangan. Semua terapi, apapun bentuknya, tidak bisa dilakukan hanya sekali dua kali tampak hasilnya. Ia membutuhkan pengulangan, kesabaran, dan ketekunan. Minimal satu bulan untuk mulai membentuk kebiasaan tentunya tanpa bolong. Bahkan hasil yang lebih terasa akan hadir jika dilakukan secara konsisten hingga tiga bulan tanpa bolong. Dari situlah pembiasaan terbentuk, dan perubahan perlahan tumbuh dalam diri.
Menulis setiap hari menjadi latihan yang tidak hanya mengasah pikiran, tetapi juga menyentuh hati. Setiap tulisan, saya seperti diajak berdialog dengan diri sendiri. Saya belajar disiplin, konsisten, tidak tergesa-gesa, rasa syukur atas nikmat yang sering terlewat. Bahkan mengurai kegelisahan yang selama ini terpendam, serta memohon ampun atas dosa-dosa yang mungkin tak saya sadari. Menulis berubah menjadi bentuk merenungi perjalanan hidup, menyadari kekurangan, dan memperbaiki arah langkah.
Saya pun harus jujur bahwa perjalanan ini tidak selalu berjalan lurus. Ada hari-hari di mana semangat menurun. Kesibukan datang silih berganti, waktu terasa sempit, dan saya pun mengakui bahwa saya belum pandai dalam mengelola waktu. Di situlah ujian datang. Beberapa hari saya bolong, tidak menyetorkan tugas. Awalnya terasa biasa saja, tetapi semakin lama, ada perasaan bersalah yang mulai muncul dalam hati.
Hingga suatu sore, Allah Subhanahu Wata'alla seakan mengirimkan teguran lembut melalui seorang perantara. Saya menerima chat pribadi dari mentor terapi yang bernama Pak Afif. Pesannya sederhana, tetapi begitu mengena di hati, “Bagaimana belajarnya? Bila beberapa hari bolong tugas gak apa-apa. Ayo dimulai lagi, semangat. Ditunggu responnya.”
Waduh… saya benar-benar tertegun. Di tengah kesibukan beliau yang mengadakan berbagai terapi dengan tema yang berbeda, ternyata beliau masih memperhatikan peserta satu per satu, bahkan sampai mengetahui bahwa saya tidak menyetorkan tugas selama beberapa hari. Saat itu, hati saya terasa disentuh. Bukan dengan teguran keras, tetapi dengan ajakan yang penuh kelembutan.
Saya merasa itu bukan sekadar pesan dari seorang mentor, tetapi seperti sapaan dari Allah yang mengingatkan saya agar tidak berhenti di tengah jalan. Rasa malas yang sempat menguasai perlahan runtuh. Berganti dengan rasa haru, rasa malu, sekaligus semangat baru yang tumbuh dalam hati.
Saya pun tergerak untuk kembali melanjutkan tugas demi tugas yang tersisa, apalagi waktu terapi sudah hampir berakhir. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharga ini hanya karena kelalaian saya sendiri.
Saya semakin salut kepada Pak Afif. Tidak semua orang mampu memberikan perhatian sedetail itu. Di tengah banyaknya peserta dan beragam kegiatan terapi yang beliau kelola, beliau tetap memantau perkembangan kami. Itu menunjukkan bahwa beliau tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing dengan hati.
Lebih dari itu, setiap tugas yang kami setorkan pun mendapatkan umpan balik. Dari sanalah saya merasa dihargai. Setiap tulisan tidak hanya dibaca, tetapi juga diperhatikan, diarahkan, dan diberi masukan. Hal ini membuat saya sadar bahwa proses ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan benar-benar sebuah perjalanan pembelajaran.
Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa istiqomah adalah kunci, tetapi istiqomah bukan berarti tanpa cela. Akan selalu ada jeda, akan ada bolong dalam perjalanan. Namun yang terpenting adalah kemauan untuk kembali bangkit. Dalam Islam, kita diajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang mau bertaubat dan memperbaiki diri.
Saya juga menyadari bahwa Allah Subhanahu Wata'alla tidak melihat seberapa sempurna amal kita, tetapi seberapa tulus dan sungguh-sungguh usaha kita. Bahkan ketika kita terjatuh, selama kita mau kembali, pintu kebaikan selalu terbuka.
Terapi menulis ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan. Ia menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla, jalan untuk mengenal diri, dan jalan untuk belajar tentang kesabaran serta keikhlasan. Saya percaya, setiap kata yang saya tulis, setiap usaha kecil yang saya lakukan, semuanya akan menjadi saksi di hadapan-Nya.
Dan mungkin, dari pengalaman sederhana ini, Allah ingin mengajarkan saya satu hal penting bahwa kebaikan tidak harus sempurna, tetapi harus terus diupayakan. Karena dalam setiap langkah kecil yang kita jaga, di situlah keberkahan perlahan tumbuh dan menguatkan jiwa.
Malam itu kembali menjadi momen yang menggetarkan hati saya. Setelah sore hari berlalu tanpa setoran tugas, saya kembali menerima pesan dari Pak Afif. Sebuah pengingat sederhana, ajakan untuk tetap semangat dan tidak menyerah. Padahal idealnya, tugas disetorkan dua kalipagi dan sore. Saya pun terdiam sejenak. Hati ini terasa tersentuh, sekaligus muncul rasa malu yang sulit saya sembunyikan dari diri sendiri.
Malu… karena kelalaian yang berulang. Malu… karena sudah diingatkan, tetapi belum juga bergegas. Namun justru dari rasa malu itulah muncul kesadaran. Bahwa ini bukan sekadar tugas yang harus diselesaikan, tetapi bagian dari proses melatih diri agar lebih disiplin dan bertanggung jawab.
Di pagi harinya, saya berusaha menepati janji pada diri sendiri. Saya sempatkan waktu untuk menulis. Tidak menunggu waktu luang, tetapi “memaksa” diri untuk menyediakan waktu. Dalam keterbatasan, saya mulai menuliskan kata demi kata. Tidak perlu sempurna, yang penting bergerak. Dan alhamdulillah, saya berhasil menyetorkan tugas. Lebih dari itu, saya juga mendapatkan umpan balik yang kembali menguatkan langkah saya.
Dari pengalaman sederhana ini, saya semakin memahami bahwa semua kebiasaan baik memang tidak lahir begitu saja. Ia harus dilatih, bahkan terkadang harus “dipaksa”. Dipaksa untuk bangun lebih awal, dipaksa untuk melawan rasa malas, dipaksa untuk tetap berjalan meski hati belum sepenuhnya siap.
Saya teringat perkataan suami, “Allahumma paksa dan paksa.” Sebuah ungkapan sederhana namun dalam maknanya. Seakan menjadi doa sekaligus pengingat, bahwa dalam kebaikan, memaksa diri bukanlah hal yang buruk. Justru di situlah letak perjuangannya. Memaksa diri untuk tetap berada di jalan yang benar, hingga akhirnya hati pun akan terbiasa dan merasa ringan menjalaninya.
Bukankah dalam ibadah pun demikian? Awalnya terasa berat, tetapi jika terus dilatih, akan menjadi kebutuhan. Bahkan jika ditinggalkan, justru terasa ada yang kurang. Saya menyadari, mungkin inilah cara Allah mendidik saya. Melalui rasa malu, melalui teguran lembut dari seorang mentor, melalui dorongan kecil dari orang terdekat, hingga akhirnya saya belajar untuk melangkah kembali.
Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa perubahan tidak datang secara instan. Ia butuh proses, butuh perjuangan, dan butuh kesungguhan. Dan dalam setiap usaha kecil yang dipaksa dengan niat baik, ada harapan besar bahwa suatu hari nanti, semua itu akan berubah menjadi kebiasaan yang ringan, bahkan menjadi kebutuhan jiwa.Alhamdulillah, satu langkah kecil itu kembali saya ambil. Saya percaya, selama masih mau berusaha dan tidak berhenti, Allah akan selalu membuka jalan untuk menjadi lebih baik.
Cepu, 26 Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar