Karya: Gutamining Saida
Hari Raya Idul Fitri selalu datang membawa suasana yang berbeda. Ada haru, ada rindu, ada syukur yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata sederhana. Suasana, rumah terasa lebih hidup dari biasanya. Suara takbir yang semalam berkumandang masih terngiang di telinga, seakan menjadi pengingat bahwa hari kemenangan telah tiba. Hari di mana hati kembali bersih, dosa-dosa diharapkan luruh, dan silaturahmi kembali terjalin dengan hangat.
Di tengah suasana itu, tanpa direncanakan sebelumnya, tiba-tiba terlintas sebuah ide sederhana dalam benak saya yaitu mengabadikan momen kebersamaan. Sebuah keinginan yang mungkin terlihat sepele, tetapi sesungguhnya menyimpan nilai yang sangat bersejarah. Saya sadar, waktu tidak pernah bisa diulang. Momen berkumpul lengkap seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa terjadi setiap saat.
Sebagai anak tertua, saya mencoba mengajak semua yang hadir untuk berfoto bersama. Ada ibu saya, sosok yang menjadi pusat kasih sayang dalam keluarga. Ada adik-adik, anak-anak, serta para ipar yang turut meramaikan suasana. Ajakan itu ternyata disambut dengan penuh antusias. Tidak ada penolakan, tidak ada alasan untuk menunda. Semua seolah memahami bahwa momen ini terlalu berharga untuk dilewatkan.
Persiapan pun berlangsung sangat sederhana. Hanya satu kursi yang disiapkan, khusus untuk ibu. Sebuah simbol penghormatan dan cinta, beliau adalah pusat dari kebersamaan ini. Tidak ada yang sibuk mencari pakaian terbaik, tidak ada yang berlari ke kamar untuk berdandan. Semuanya berjalan spontan, alami, apa adanya.
Para perempuan hanya merapikan jilbab seadanya. Tangan-tangan mereka bergerak cepat, saling membantu, tanpa cermin pun tetap tersenyum. Wajah-wajah itu memancarkan ketulusan, bukan karena make up, tetapi karena kebahagiaan yang tulus dari hati. Anak-anak berlari kecil mencari posisi, sementara yang lain mengikuti arahan dengan canda tawa.
Saat semua mulai mengambil posisi, suasana semakin hangat. Ada yang salah berdiri, ada yang terlambat masuk ke dalam frame, ada yang justru membuat gaya lucu yang mengundang tawa. Gelak tawa pecah begitu saja, tanpa dibuat-buat. Momen itu terasa begitu hidup, penuh warna, dan sangat membahagiakan.
Betapa Allah Subhanahu Wata'alla begitumemberikan kesempatan ini. Tidak semua orang bisa merasakan kebersamaan seperti ini. Tidak semua keluarga bisa berkumpul lengkap, tertawa bersama di hari yang suci. Ada yang terpisah oleh jarak, ada yang terhalang oleh kesibukan, bahkan ada yang harus merelakan orang tercinta karena telah lebih dulu dipanggil oleh-Nya.
Kebersamaan ini adalah nikmat. Seperti yang sering kita dengar, nikmat yang jarang disadari justru adalah nikmat yang paling besar. Duduk bersama di satu tempat, tertawa tanpa beban, merasakan kehangatan keluarga semua itu adalah karunia yang tidak ternilai.
Saat kamera mulai diarahkan dan hitungan mundur dimulai, saya melihat wajah ibu. Ada senyum yang sederhana, tetapi penuh makna. Senyum yang seolah berkata bahwa beliau bahagia melihat anak-anaknya berkumpul. Dalam senyum itu, ada doa yang tak terucap, ada harapan agar kebersamaan ini bisa terus terjaga.
“Bahagia itu mahal harganya,” batin saya. Bukan mahal karena harus dibeli dengan materi, tetapi karena tidak semua orang bisa merasakannya di waktu yang sama. Bahagia itu sederhana, namun sering kali kita melewatkannya karena terlalu sibuk mencari hal-hal besar.
Foto itu akhirnya berhasil diambil. Satu demi satu jepretan, tetapi menyimpan ribuan cerita. Sebuah potret yang bukan sekadar gambar, melainkan rekaman rasa bahwa cinta, syukur, kebersamaan, dan kehangatan keluarga.
Setelahnya, kami kembali berbincang, menikmati hidangan sederhana, dan saling bertukar cerita. Momen foto tadi tetap terasa istimewa. Ia menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada kemewahan, tetapi pada kebersamaan yang tulus.
Semoga Allah Subhanahu Wata'alla selalu menjaga keluarga ini. Memberikan kesehatan, umur panjang yang penuh berkah, serta kesempatan untuk kembali berkumpul di hari-hari berikutnya. Semoga kebersamaan ini tidak hanya terjadi di dunia, tetapi juga bisa terulang kembali di surga-Nya kelak.
Karena pada akhirnya, hidup ini hanyalah perjalanan singkat. Waktu terus berjalan, usia terus bertambah, dan kesempatan tidak selalu datang dua kali. Maka ketika Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan momen indah seperti ini, sudah seharusnya kita mensyukurinya dengan sepenuh hati.
Hari Raya yang penuh berkah, kami belajar satu hal penting bahwa kebersamaan adalah anugerah, dan mengabadikannya adalah cara sederhana untuk mensyukuri nikmat dari-Nya. Aamiin.
Cepu, 22 Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar