Karya: Gutamining Saida
Hari libur bagi sebagian orang adalah waktu untuk beristirahat. Bagi saya, hari libur justru menjadi ruang untuk melakukan hal-hal yang selama hari kerja sulit saya sentuh. Setelah urusan rumah selesai, saya duduk sejenak memegang ponsel. Terlintas keinginan untuk membantu anak saya yang sedang merintis jalan sebagai terapis akupunktur.
Akupunktur. Sebuah kata yang bagi sebagian orang masih terdengar asing, bahkan menyeramkan. Padahal terapi ini sudah dikenal ribuan tahun dan menjadi bagian dari pengobatan tradisional di Tiongkok. Di Indonesia sendiri, praktik akupunktur juga telah diakui dan berada di bawah pembinaan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tetap saja, pemahaman masyarakat belum merata.
Saya mulai membuat story promo sederhana. Tidak muluk-muluk, hanya penjelasan singkat tentang akupunktur. Akupungtur adalah terapi tanpa obat yang menggunakan jarum halus pada titik-titik tertentu tubuh untuk membantu meredakan nyeri, memperbaiki sirkulasi, hingga meningkatkan keseimbangan energi tubuh. Saya sertakan vidio ruang praktik yang bersih, rapi, dan nyaman serta sebuah foto. Saya ingin orang-orang melihat bahwa ini bukan sesuatu yang menakutkan.
Setiap unggahan di media sosial selalu mengundang beragam tanggapan. Ada yang bertanya dengan tulus, “Itu sakit nggak, Bu?” Ada yang penasaran, “Bisa untuk asam lambung?” Ada pula yang langsung bercanda, “Jarumnya segede paku ya?” Bahkan ada komentar negatif yang bernada meremehkan, “Ah, paling cuma sugesti.” "Ngeri , wajahe dicoblosi jarum." Bisa di wajah juga , bu?"
Saya membaca satu per satu dengan hati yang mencoba tetap lapang. Memang tidak semua orang memahami. Banyak yang membayangkan jarum akupunktur sebesar jarum suntik di rumah sakit. Padahal jarumnya sangat tipis, jauh lebih halus dari jarum suntik biasa. Saat dimasukkan pun sebagian besar pasien hanya merasakan sensasi ringan kadang seperti digigit semut, kadang hanya rasa hangat atau kesemutan kecil.
Saya teringat cerita anak saya. Pasien yang datang biasanya bukan orang yang benar-benar baru mengenal akupunktur. Mereka datang karena sudah pernah merasakan manfaatnya. Ada yang datang dengan keluhan nyeri punggung menahun, sudah minum obat ke sana kemari. Ada yang sulit tidur. Ada yang sering migrain. Setelah beberapa kali terapi, mereka merasakan perubahan. Dari situlah kabar menyebar dari mulut ke mulut.
Yang belum pernah mencoba justru sering kali takut duluan. Takut karena membayangkan jarum besar. Takut karena belum tahu. Takut karena mendengar cerita yang belum tentu benar. Saya memahami ketakutan itu. Bahkan dulu, pertama kali mendengar kata “akupunktur”, saya juga membayangkan sesuatu yang ngeri.
Dalam story berikutnya, saya mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana. Saya tulis bahwa akupunktur bukan sekadar menusukkan jarum sembarangan. Ada titik-titik tertentu di tubuh yang sudah dipelajari secara ilmiah maupun tradisional. Terapis pun tidak boleh sembarangan; harus memiliki pendidikan dan sertifikasi yang jelas. Saya ingin orang tahu bahwa ini bukan praktik asal-asalan.
Komentar pun terus berdatangan. Ada teman lama yang bertanya serius tentang terapi untuk nyeri lutut. Ada wali murid yang mengirim pesan pribadi, menanyakan apakah aman untuk lansia. Bahkan ada yang awalnya bercanda, kemudian menghubungi lebih lanjut karena ternyata ibunya sering sakit kepala.
Tentu tetap ada yang iseng. Ada yang sengaja menulis komentar untuk memancing perdebatan. Dahulu mungkin saya mudah tersinggung. Kali ini saya memilih melihatnya sebagai bagian dari proses. Setiap usaha pasti ada ujiannya. Setiap niat baik pasti akan disertai tantangan.
Saya belajar satu hal yaitu promosi bukan hanya soal menawarkan jasa, tetapi juga soal edukasi. Masyarakat perlu diberi pemahaman perlahan-lahan. Tidak bisa instan. Tidak bisa sekali posting langsung semua percaya. Bahkan perlu berkali-kali penjelasan agar rasa takut berubah menjadi rasa ingin tahu.
Hari libur terasa berbeda. Bukan hanya karena saya membuat story promo, tetapi karena saya ikut membersamai perjuangan anak saya. Saya tahu merintis usaha di bidang kesehatan tidak mudah. Kepercayaan adalah kunci. Kepercayaan tidak dibangun dalam sehari.
Setiap komentar baik yang positif maupun negatif adalah tanda bahwa orang membaca, bahwa mereka mulai memperhatikan. Dari yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Dari yang awalnya takut menjadi bertanya. Dari yang awalnya ragu mungkin suatu saat akan mencoba.
Saya percaya, rezeki tidak akan tertukar. Tugas kami hanya berikhtiar dan memberikan informasi yang benar. Soal siapa yang akhirnya datang terapi, itu adalah bagian dari perjalanan masing-masing.
Saya belajar bahwa di balik jarum kecil yang sering dibayangkan menakutkan, ada harapan besar untuk kesembuhan. Ada doa seorang ibu untuk anaknya agar langkahnya dimudahkan, usahanya diberkahi, dan ilmunya bermanfaat bagi banyak orang. Membantu kesembuhan pasien. Semoga bermanfaat.
Cepu, 16 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar