Karya: Gutamining Saida
Jam terakhir pada hari Sabtu saya mengajar di kelas 8H terasa berbeda. Seperti biasa, setelah saya menutup pembelajaran dan kami berdoa bersama, suasana kelas langsung berubah. Anak-anak yang sejak tadi duduk rapi mulai bersiap menyambut bel pulang. Ada yang sigap mengangkat kursi ke atas meja, ada yang menyapu lantai, ada pula yang menata kembali buku-buku di rak kelas.
Saya berdiri di depan, mengamati mereka satu per satu. Dalam hati saya bersyukur, kebiasaan menjaga kebersihan kelas mulai tumbuh menjadi budaya. Bukankah kebersihan sebagian dari iman? Hal sederhana seperti menyapu dan menata meja ternyata bisa menjadi ladang pahala jika diniatkan karena Allah Subhanahu Wata'alla.
Di antara keramaian kecil itu, mata saya tertuju pada seorang siswi yang duduk di barisan depan. Wajahnya manis, tubuhnya kecil mungil. Anak itu biasa dipanggil Pipit. Raut wajahnya tidak seperti biasanya. Ia tampak gelisah. Celingak-celinguk ke kanan dan kiri. Tangannya membuka tas, lalu menutupnya lagi. Berdiri, duduk kembali. Wajahnya murung.
“Kebiasaan bagaimana?” tanya saya penasaran.
“Lupa naruh kunci motor, Bu,” jawab Early cepat sambil melangkah keluar kelas.
Salma langsung sigap membongkar tas Pipit. Buku-buku pelajaran dikeluarkan, tempat pensil dibuka, lembaran-lembaran kertas diperiksa. Saya ikut mengamati dari dekat. Pipit mendekati tasnya dengan wajah makin murung. Sepertinya ia sudah membayangkan akan dimarahi orang tua karena ceroboh.
Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, mudahkan urusan anak ini.”
Beberapa detik suasana menjadi hening. Anak-anak lain mulai ikut memperhatikan. Ada yang menahan tawa, ada yang ikut membantu mencari di bawah meja dan kursi.
Kami semua menoleh. Pipit justru tertawa kecil, wajahnya berubah cerah.
“Ada apa, Pit?” tanya saya heran.
Sejenak kelas hening, lalu pecah oleh tawa ringan. Saya pun ikut tersenyum lebar. Ternyata dari tadi ia sibuk mencari sesuatu yang memang tidak ia bawa.
“Aduuuh, Pipit… Pipit…” celetuk salah satu temannya.
Saya mendekatinya dan berkata lembut, “Nah, itu namanya manusia tempatnya lupa. Tapi jangan lupa belajar dari kejadian ini ya.”
Pipit mengangguk, masih dengan wajah kemerahan menahan malu. Betapa sering kita, bukan hanya anak-anak, mencari sesuatu dengan gelisah padahal sebenarnya tidak pernah kita miliki sejak awal. Kita panik, kita cemas, bahkan kadang menyalahkan keadaan. Padahal jika kita tenang dan mengingat kembali dengan jernih, masalah itu mungkin sederhana.
Mereka serempak menjawab, “Boleh, Bu.” “Saat kita merasa panik, jangan langsung cemas berlebihan. Tenanglah dulu. Istighfar. Ingat Allah Subhanahu Wata'alla. Kadang solusi itu muncul setelah hati kita tenang.”
Saya melihat beberapa anak mengangguk. Pipit pun tersenyum kecil.
“Satu lagi,” lanjut saya, “Biasakan berdoa sebelum berangkat dari rumah. Minta pada Allah SubhanahuWata'alla supaya dijaga dari lupa, dari kecerobohan, dan dari hal-hal yang tidak baik.”
Saya teringat doa yang sering diajarkan para ulama, agar Allah Subhanahu Wata'alla.melindungi dari sifat lalai dan lupa. Lupa memang manusiawi, tetapi jika terlalu sering bisa merugikan diri sendiri.
“Kita ini sering seperti itu. Mencari-cari sesuatu dengan gelisah, padahal Allah Subhanahu Wata'alla sudah mengatur semuanya dengan baik. Yang penting kita tetap tidak panik berlebihan, dan mau belajar.”
Pipit mengangguk pelan. Saya bersyukur bisa menyaksikan kepolosan anak-anak setiap hari. Dari mereka, saya belajar sabar. Belajar menahan tawa. Belajar menasihati tanpa menyakiti. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan nilai tentang ketenangan, kejujuran, dan kesadaran bahwa Allah selalu bersama kita dalam setiap kejadian kecil sekalipun.
Cepu, 15 Pebruari 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar