Karya : Gutamining Saida
Jum’at pertama di tahun 2026 hadir dengan suasana yang istimewa. Bukan karena cuaca, bukan pula karena tempat, melainkan karena ada rasa haru yang menyelinap di hati. Hari itu menjadi pengingat bahwa seorang cucu laki-laki akhirnya diajak berangkat ke masjid untuk melaksanakan salat Jum’at. Sebuah momen sederhana, penuh doa, dan harapan yang tak terucap dengan kata-kata.
Kesempatan ini terbilang jarang. Sang cucu tinggal di kota Tegal, sementara akungnya berada di tempat yang berbeda yaitu Cepu. Jarak dan kesibukan membuat kebersamaan tak selalu bisa terwujud. Biasanya, salat Jum’at dilaksanakan di tempat masing-masing, dengan rutinitas yang berjalan sendiri-sendiri. Liburan semester mempertemukan kembali langkah-langkah yang sempat berjauhan. Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan waktu, tempat, dan niat baik dalam satu hari yang istimewa.
Sebelum berangkat ke masjid, ada satu permintaan kecil yang lahir dari hati yaitu berpose sejenak untuk diabadikan. Bukan sekadar foto, melainkan kenangan. Foto itu kelak akan menjadi saksi bahwa di awal tahun 2026, seorang cucu pernah berjalan menuju rumah Allah bersama akungnya. Sebuah potret sederhana, namun memiliki nilai spiritual yang kelak bisa diceritakan kembali tentang langkah kecil menuju ketaatan.
Sejak kecil, cucu laki-laki itu memang sudah sering diajak ke masjid. Tidak selalu untuk salat wajib, kadang hanya duduk sebentar, mendengarkan azan, atau melihat orang-orang beribadah. Tujuannya bukan pamer kesalehan, melainkan melatih hati. Menanamkan kebiasaan. Membiasakan langkah menuju tempat ibadah agar kelak, saat dewasa, masjid bukanlah tempat asing baginya.
Mendidik anak dan cucu dalam urusan agama bukanlah perkara instan. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan doa yang terus dipanjatkan. Mengajak ke masjid sejak kecil adalah salah satu cara paling sederhana, namun sangat bermakna. Anak belajar bukan hanya dari kata-kata, tetapi dari apa yang ia lihat dan rasakan. Ketika ia melihat orang dewasa bergegas memenuhi panggilan azan, hatinya perlahan belajar bahwa Allah Subhanahu Wata'alla adalah prioritas utama dalam hidup.
Perjalanan menuju masjid, akung berjalan di samping cucunya. Langkahnya mungkin tak lagi secepat dulu, namun niatnya tetap teguh. Di dalam hati, terselip doa-doa lirih. “Ya Allah, jadikan cucuku anak yang saleh. Tanamkan iman di hatinya. Jadikan ia hamba-Mu yang taat, yang mencintai ibadah, dan istiqamah di jalan-Mu.”
Salat Jum’at bukan sekadar kewajiban mingguan bagi kaum laki-laki muslim. Ia adalah pertemuan iman, pengingat akan kebesaran Allah, dan momentum memperbaiki diri. Duduk berdampingan di masjid, mendengarkan khotbah, lalu menunaikan salat bersama, menjadi pengalaman berharga bagi sang cucu. Mungkin ia belum sepenuhnya memahami makna setiap kata dalam khotbah, namun kebiasaan baik sedang ditanamkan. Dan benih iman itu, insyaallah, akan tumbuh seiring waktu.
Belajar beribadah sejatinya adalah belajar berproses menjadi manusia yang taat kepada Tuhannya. Tidak semua langsung sempurna. Ada kalanya malas, lupa, atau lalai. Selama lingkungan keluarga memberikan contoh dan dukungan, jalan menuju ketaatan akan selalu terbuka. Akung menyadari betul bahwa tugas orang tua dan kakek-nenek bukan hanya mencukupi kebutuhan dunia, tetapi juga menyiapkan bekal akhirat.
Dalam Islam, anak saleh adalah investasi abadi. Doanya akan terus mengalir meski orang tua telah tiada. Bahkan disebutkan bahwa anak saleh kelak bisa menjadi sebab orang tuanya masuk surga. Inilah harapan terbesar yang tersimpan dalam hati akung: semoga cucunya kelak tumbuh menjadi muslim sejati, yang menjaga salatnya, akhlaknya, dan imannya. Bukan hanya membanggakan di dunia, tetapi juga menjadi penolong di akhirat.
Usai salat Jum’at, ada rasa lega dan syukur yang mendalam. Bukan karena telah menunaikan kewajiban semata, tetapi karena Allah masih memberi kesempatan untuk membersamai generasi penerus dalam kebaikan. Momen Jum’at pertama di tahun 2026 itu menjadi pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang hari ini, melainkan tentang warisan nilai yang kita tinggalkan.
Semoga langkah kecil menuju masjid itu menjadi langkah panjang menuju surga. Semoga foto yang diabadikan bukan hanya tersimpan di galeri, tetapi juga tertanam dalam ingatan dan hati. Semoga Allah meridai setiap usaha kecil dalam mendidik anak dan cucu agar menjadi hamba-Nya yang taat, beriman, dan berakhlak mulia. Aamiin.
Cepu, 3 Januari 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar