Karya: Gutamining Saida
Sehari sebelum masuk sekolah semester genap, tepatnya hari Minggu, suasana terasa berbeda. Ada semacam jeda yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan sebelum kembali pada rutinitas mengajar, mendidik, dan membersamai para siswa. Jeda itu tidak diisi dengan tidur panjang atau bepergian jauh, tetapi dengan sesuatu yang sederhana yaitu MBG
MBG di sini bukanlah MBG seperti yang sering terdengar dari program pemerintah. MBG versi kami memiliki kepanjangan yang jauh lebih hangat dan penuh rasa: Makan Bersama Guru-guru. Memang benar, kata guru-guru sengaja saya tulis dengan tanda hubung, karena yang hadir bukan satu dua orang, melainkan lebih dari dua. Kebersamaan inilah yang justru menjadi inti dari cerita ini.
Percakapan sederhana, candaan ringan, namun di situlah terasa keakraban yang Allah tanamkan di antara kami. Bukan semata karena lapar, tetapi karena ada kerinduan untuk bertemu, bercengkerama, dan menguatkan satu sama lain sebelum kembali ke dunia kelas yang penuh dinamika.
Tujuan utama kami siang itu adalah makan bakso bareng. Bakso, makanan rakyat yang sederhana, namun memiliki rasa yang mampu menyatukan banyak orang dari berbagai latar belakang. Di warung bakso itu, pilihan menu begitu menggoda. Ada bakso biasa, bakso urat, bakso kribo, bakso telur, tetelan, iga, lava, hingga urat jumbo. Setiap mangkuk bakso seolah menjadi simbol pilihan hidup yaitu berbeda-beda, namun sama-sama mengenyangkan dan membahagiakan.
Kami memilih sesuai selera masing-masing. Tidak ada paksaan, tidak ada aturan rumit. Yang penting satu yaitu duduk bersama, makan bersama, dan menikmati kebersamaan. Siang itu kami MBG dengan menu pilihan sendiri dan bayar sendiri. Sederhana, mandiri, dan penuh keikhlasan.
Di sela kepulan uap bakso yang hangat, obrolan pun mengalir. Tentang sekolah, tentang murid, tentang keluarga, bahkan tentang harapan di semester genap yang akan segera dimulai. Tawa sesekali pecah, diselingi cerita ringan dan candaan yang membuat hati terasa lapang. Dalam kebersamaan itu, saya merasakan nikmat Allah yang sering kali luput kita sadari.
Betapa tidak, ketika tubuh sehat, menu apa pun terasa nikmat. Bakso yang mungkin biasa saja, hari itu terasa luar biasa. Bukan karena isinya, tetapi karena suasananya. Karena Allah menghadirkan kesehatan, waktu luang, dan teman-teman yang baik. Nikmat ini sungguh patut direnungkan.
MBG hari itu bukan sekadar makan bersama. Ia menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah sumber kekuatan. Sebagai guru, kami sering dituntut untuk kuat di depan siswa. Namun sesungguhnya, kami pun manusia biasa yang membutuhkan penguatan dari sesama. Dalam kebersamaan seperti inilah, hati dikuatkan, semangat diperbarui, dan niat diluruskan kembali.
Saya menyadari, sebelum masuk semester genap, Allah menghadirkan momen ini sebagai bekal batin. Bekal untuk kembali mengajar dengan hati yang lebih lapang, dengan rasa syukur yang lebih dalam. Karena mendidik bukan hanya soal materi pelajaran, tetapi juga tentang menularkan nilai diantaranya adalah kebersamaan, keikhlasan, dan rasa syukur.
Ketika akhirnya kami beranjak pulang, perut kenyang dan hati pun hangat. Tidak ada kemewahan, tidak ada acara besar. Justru dalam kesederhanaan itulah, nikmat Allah terasa begitu dekat. MBG telah usai, tetapi maknanya tinggal dan mengendap dalam hati.
Semoga kebersamaan kecil seperti ini terus Allah jaga. Semoga kami, para guru, selalu diberi kesehatan, keikhlasan, dan kekuatan dalam menjalankan amanah. Semoga kami tidak termasuk golongan orang-orang yang mendustakan nikmat-Nya, sekecil apa pun nikmat itu. Aamiin.
Cepu, 4 Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar