Karya: Gutamining Saida
Sudah pernah menikmati bakso iga? Kalau saya pribadi, sejujurnya belum pernah. Selama ini, bayangan tentang bakso iga hanya berputar-putar di kepala, sebatas angan-angan yang terbentuk dari cerita orang dan foto-foto di media sosial. Di benak saya, bakso iga itu pasti berupa potongan iga sapi yang diletakkan begitu saja di dalam mangkuk, berdampingan dengan mie kuning, pentol bakso, bihun, lalu disiram kuah panas yang gurih. Sebuah sajian yang tampak lazim dan tidak jauh berbeda dari bakso pada umumnya hanya saja ditambah iga sapi sebagai pelengkap.
Siang ini anggapan itu runtuh seketika. Siang ini kami berenam berburu bakso yang sedang viral di media sosial. Entah bagaimana awalnya, satu unggahan muncul, lalu disusul unggahan lain. Komentar demi komentar bermunculan, memuji rasa, harga, dan porsinya. Rasa penasaran pun tumbuh. Bukan sekadar ingin ikut tren, tetapi lebih pada keinginan untuk membuktikan bahwa benarkah bakso ini memang layak diburu?
Ketika kami tiba di warung bakso, suasana sudah ramai. Dari kejauhan terlihat antrean yang cukup panjang. Beberapa orang berdiri sabar, sebagian lainnya duduk di teras depan warung. Penjualnya bahkan hampir tidak terlihat, tertutup oleh banyaknya pembeli dan kesibukan melayani pesanan. Sebagian besar pembeli memilih dibungkus untuk dibawa pulang, mungkin agar bisa dinikmati bersama keluarga di rumah. Sementara pembeli yang ingin makan di tempat, baru bisa masuk ke dalam warung dan duduk lesehan di tikar.
Pembeli sabar dengan aturan yang ada. Tidak ada keluhan, tidak ada wajah kesal. Justru suasana terasa tertib. Mungkin karena semua orang punya tujuan yang sama yaitu menikmati semangkuk bakso yang katanya istimewa, dengan harga yang terjangkau bahkan bisa dibilang murah.
Pilihan menu terpampang jelas. Ada bakso iga, bakso urat, bakso lava, dan beberapa pilihan lain. Setiap orang bebas memilih sesuai selera. Ada yang mantap memilih bakso iga karena penasaran, ada yang setia dengan bakso urat, dan ada pula yang tertantang mencoba bakso lava yang terkenal dengan sensasi pedasnya. Saya sendiri memperhatikan satu per satu pilihan itu sambil membayangkan rasa dan porsinya.
Ketika pesanan bakso iga bu Wiwik disajikan, saya terdiam sejenak. Ternyata bakso iga tidak seperti yang selama ini saya bayangkan. Iga sapi itu tidak diletakkan begitu saja di dalam mangkuk. Ia dibalut dengan adonan pentol bakso, membungkus daging dan tulangnya. Tulang iga dibiarkan terlihat sebagian, seolah sengaja diperlihatkan sebagai penanda keistimewaan. Akibatnya, pentol bakso itu tampak besar sekali bahkan sangat besar. Sekilas melihatnya saja, saya sudah merasa kenyang.
Mangkuk bakso itu seperti menantang logika perut. “Apa ini bisa dihabiskan?” batin saya bertanya. Kuahnya bening, mengepul, aroma kaldu sapi tercium kuat. Di dalamnya tetap ada mie putih, taoge dan pelengkap lain, namun fokus mata langsung tertuju pada bakso iga raksasa itu. Kami memiliki selera berbeda sehingga pesan bakso yang farian berbeda juga.
Saya perhatikan wajah-wajah di sekitar. Ada yang tersenyum puas begitu mangkuknya datang, ada yang langsung sibuk mengabadikan momen dengan ponsel, dan ada pula yang tertawa kecil melihat ukuran bakso yang tidak biasa. Siang itu, warung bakso tidak hanya menjual makanan, tetapi juga pengalaman.
Saat suapan pertama masuk ke mulut, rasa syukur spontan terucap. Alhamdulillah, enak. Kuahnya gurih, tidak berlebihan. Daging baksonya terasa, tidak didominasi tepung. Iga di dalamnya empuk, mudah dilepaskan dari tulang. Tidak heran jika banyak orang rela antre. Harga yang ditawarkan terasa sepadan, bahkan lebih murah dibanding porsi dan kualitas yang didapatkan.
Saya pun menyadari satu hal penting yaitu rasa nikmat itu bukan hanya soal makanan. Ia hadir karena banyak faktor yang menyertainya. Ada kesehatan yang Allah berikan sehingga kita bisa menikmati. Ada rezeki yang cukup sehingga kita bisa membeli tanpa rasa berat. Ada waktu luang untuk duduk, mengunyah perlahan, dan berbincang. Ada pula kebersamaan yang membuat rasa bakso menjadi berlipat nikmatnya.
Di tengah hiruk pikuk media sosial yang sering memamerkan kemewahan, pengalaman menikmati bakso sederhana ini justru terasa menenangkan. Makanan rakyat, harga terjangkau, rasa yang memuaskan. Sebuah pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal yang mahal. Terkadang, ia hadir dalam mangkuk bakso hangat di siang hari, ditemani antrean panjang dan senyum orang-orang yang sama-sama menunggu giliran.
Ketika melihat mangkuk mulai kosong, saya kembali berpikir. Benar kata orang, sering kali angan-angan kita berbeda dengan kenyataan. Tidak semua perbedaan berujung kekecewaan. Ada kalanya, kenyataan justru melampaui bayangan. Seperti bakso iga hari ini yang tidak sesuai dengan gambaran di kepala, tetapi justru memberikan pengalaman baru yang mengesankan.
Kami pulang dengan perut kenyang dan hati yang ringan. Viral atau tidak, bakso ini telah memberi pelajaran sederhana yaitu tentang kesabaran saat mengantre, tentang rasa syukur atas nikmat yang ada, dan tentang menikmati hidup apa adanya. Karena selama masih bisa makan dengan lahap dan tersenyum puas setelahnya, itu sudah lebih dari cukup.
Cepu, 4 Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar