Karya : Gutamining Saida
Suasana di sekolah masih terasa hangat meskipun acara HUT ke-46 SMPN 3 Cepu telah selesai beberapa menit sebelumnya. Di berbagai sudut sekolah, tampak wajah-wajah ceria siswa yang masih larut dalam suasana perayaan. Panggung yang belum sepenuhnya dibongkar menjadi saksi bahwa hari itu adalah hari yang penuh kenangan.
Ketika saya melangkah menuju ruang guru, pandangan saya tertuju pada sekelompok siswa kelas 7A yang sedang berkumpul di outdoor. Mereka terlihat berbeda raut wajahnya begitu segar, matanya berbinar-binar, dan tawa mereka terdengar renyah. Di tangan mereka masing-masing mengenggam benda-benda yang baru saja mereka menangkan dari acara pembagian hadiah lomba.
“Bu Saidaaa… lihat, Bu! Aku dapat hadiah Super PAN!” teriak Rafif, sambil mengangkat tinggi-tinggi sebuah wajan baru yang masih terbungkus kardus. Tangannya kokoh memegangnya, wajahnya begitu sumringah seolah baru saja memenangkan undian besar. Saya tertawa kecil melihat semangatnya. “Wah, hebat, Rafif! Itu tandanya kamu rajin membantu nenek di dapur nanti, ya,” saya menggoda. Rafif langsung tertawa malu, sementara teman-temannya ikut menggoda, “Hati-hati, Fif, nanti disuruh goreng tempe tiap hari!”
Tak jauh dari Rafif, Richi tampak sibuk memperlihatkan tempat minum baru kepada teman-temannya. “Lihat, Bu, warna birunya keren, kan?” katanya sambil memutar botol itu ke segala arah. Botol itu berkilau terkena sinar matahari yang menembus jendela Saya tahu betul Richi, anak yang sopan dan selalu antusias mengikuti kegiatan sekolah. Meskipun tidak sebesar hadiah Rafif, ia tampak begitu menghargai apa yang diperolehnya. “Bagus sekali, Richi. Itu hadiah yang cocok buat anak rajin sepertimu. Jangan lupa dibawa setiap hari biar nggak beli minum di kantin terus,” ucap saya dengan lembut. Richi mengangguk sambil tersenyum lebar, “Siap, Bu Saida!”
Sementara itu, Lala, siswi dengan senyum manis dan rambut dikuncir ke belakang tampak memeluk erat cangkir minum berwarna hijau toska. Ia menunjukkan cangkir itu kepada teman-temannya dengan penuh kebanggaan. “Aku suka banget warnanya, Bu, mirip warna kesukaanku!” katanya bersemangat.
Saya mendekat dan berkata, “Cangkir itu memang cocok untukmu, Lala. Semoga setiap kali kamu minum dari situ, kamu selalu ingat momen bahagia hari ini.” Lala tertawa kecil, lalu berkata, “Iya, Bu. Aku mau pakai cangkir ini nanti di rumah biar Ibu tahu kalau aku dapat hadiah dari sekolah.”
Tak kalah gembira, Rehan datang sambil membawa air fryer dalam kotak besar. Ia tampak sedikit kewalahan karena ukurannya cukup besar, tapi semangatnya tidak kalah dari yang lain. “Bu, lihat, saya dapat air fryer! Katanya bisa goreng tanpa minyak!” katanya sambil tertawa lebar.
Saya mengangguk kagum. “Wah, Rehan, itu hadiah luar biasa! Nanti bantu Ibu di rumah, ya. Bisa masak kentang goreng tanpa minyak, sehat sekali.”
Rehan menjawab dengan ceria, “Siap, Bu! Nanti saya mau coba bikin ayam goreng untuk keluarga!”
Saya sempat meminta mereka berhenti sejenak untuk berfoto. Mereka berdiri memegang hadiah masing-masing dengan bangga. Saya mengangkat ponsel dan berkata, “Senyum, ya! Tiga, dua, satu…”
Klik! Dalam bidikan kamera itu, terekam wajah-wajah ceria siswa-siswa kelas 7A: polos, bahagia, dan penuh semangat. Tidak ada yang berpura-pura. Semua tawa itu asli dari hati mereka yang gembira karena merasa dihargai dan diperhatikan.
Setelah saya ambil beberapa foto, mereka kembali berjalan ke sana kemari, masih memamerkan hadiah kepada teman kelas lain yang belum sempat melihat. Ada yang memeluk hadiahnya erat, ada pula yang mengangkatnya tinggi-tinggi agar semua orang tahu.
“Bu, boleh saya bawa pulang sekarang?” tanya Rafif sambil memeluk wajan.
“Tentu saja boleh. Tapi hati-hati di jalan, ya. Jangan sampai jatuh,” jawab saya.
“Iya, Bu. Saya mau langsung kasih lihat ke nenek
di rumah. Pasti beliau senang banget!” katanya sambil berlari kecil menuju gerbang.
Betapa indah kebahagiaan anak-anak ketika mereka mendapat penghargaan, meskipun bentuknya sederhana. Hadiah-hadiah itu mungkin hanya benda biasa seperti wajan, botol minum, cangkir, air fryer tapi makna di baliknya luar biasa besar. Di sana ada semangat, kerja keras, dan rasa bangga yang tumbuh dalam diri mereka.
Saya pun teringat pesan kepala sekolah pagi tadi, “Hadiah tidak selalu harus mahal. Yang penting adalah rasa bahagia yang tertanam di hati anak-anak. Itulah yang akan mereka ingat sampai nanti.” Dan benar saja, melihat senyum Rafif, Richi, Lala, dan Rehan sore itu membuat saya yakin bahwa kebahagiaan di sekolah bisa lahir dari hal-hal kecil yang penuh ketulusan.
Sebelum saya masuk ke ruang guru, saya menoleh sekali lagi. Dari kejauhan, saya melihat keempat anak itu masih berjalan di halaman sekolah sambil membawa hadiah mereka. Sesekali mereka berhenti, tertawa, lalu berjalan lagi dengan langkah ringan. Hadiah-hadiah itu mereka tenteng terus, bukan karena beratnya benda, tetapi karena beratnya rasa bahagia di hati.
Saya tersenyum sendiri. Hari in bukan hanya hari ulang tahun sekolah, tapi juga hari ulang tahun kebahagiaan bagi anak-anak 7A. Mereka mungkin akan lupa siapa yang memenangkan lomba tahun depan, tetapi mereka tidak akan lupa betapa bahagianya hari ini . Terutama saat mereka menerima hadiah, tertawa bersama, dan merasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar SMPN 3 Cepu.
Cepu, 4 November 2025
Kangen buuu
BalasHapus