Karya: Gutamining Saida
Kamis pagi, udara di sekolah masih terasa segar. Burung-burung kecil terdengar berkicau di pepohonan halaman sekolah, sementara anak-anak kelas 7 sudah mulai bergerak menuju ruang kelas masing-masing. Hari itu adalah hari yang selalu saya tunggu, hari Kamis. Bukan hanya karena ada agenda piket yang membuat saya bisa berkeliling dan berinteraksi dengan banyak siswa, tetapi juga karena saya punya kesempatan khusus untuk lebih dekat dengan kelas 7G. Kelas yang selalu memberi warna berbeda dalam perjalanan saya sebagai guru.
Kelas 7G adalah kelas yang istimewa. Mereka mungkin bukan kelas yang paling mudah diatur, bahkan bisa dibilang paling menantang. Ada anak yang sangat sulit diatur, ada yang banyak bicara dan tak pernah kehabisan topik, ada pula yang begitu pendiam hingga seolah-olah menutup diri. Semua sifat dan karakter itu bercampur menjadi satu, seperti mozaik kehidupan yang indah meski tak selalu rapi. Saya paham, mereka masih berada dalam masa penyesuaian. Peralihan dari sekolah dasar ke sekolah menengah bukanlah hal yang ringan. Ada yang cepat beradaptasi, ada pula yang butuh waktu lebih lama.
Ketika saya sedang berjalan menyusuri lorong-lorong, tiba-tiba saya berpapasan dengan beberapa siswa yang keluar kelas sambil membawa scrabbook dan pensil. Dengan penasaran saya menghentikan langkah.
“Eh, mau ke mana ini?” tanya saya sambil tersenyum.
“Mau menggambar, Bu,” jawab salah satu dari mereka dengan penuh semangat.
“Oh begitu, coba mana gambarmu? Ibu ingin lihat,” pinta saya.
Ada yang dengan percaya diri langsung memperlihatkan gambar mereka. Wajah mereka tampak berbinar, seakan-akan karya itu adalah bagian dari diri mereka yang ingin dibanggakan. Dia adalah sang ketua kelas yang biasa disapa Jason Namun ada pula yang menunduk malu, menutup lembarannya dengan cepat karena merasa gambar mereka belum sempurna.
“Tidak apa-apa kalau masih kurang bagus,” saya menenangkan mereka. “Menggambar itu butuh latihan. Semakin sering kalian mencoba, semakin indah hasilnya. Semangat, ya!”
Mendengar itu, sebagian dari mereka tersenyum malu-malu, sebagian lagi tampak semakin bersemangat. Saya lalu meminta izin untuk mengambil foto. “Ibu boleh foto kamu dengan gambarmu? Bagus sekali, lho,” ujar saya. Mereka mengangguk, dan momen itu menjadi kenangan kecil yang berharga.
Saya kemudian melangkah mencari siswa lain. Ternyata ada yang memilih menggambar di sisi lapangan. Mereka duduk bersila di bawah rindangnya pohon, sambil sesekali bercanda dengan temannya. Ada juga yang duduk di dekat taman sekolah, tampak serius menorehkan pensil di atas kertas putih, sesekali berhenti untuk mengamati bunga dan pepohonan sebagai objek inspirasinya. Suasana begitu hidup, penuh dengan energi khas remaja yang tak bisa dipaksa diam terlalu lama.
Di kelas 7G, saya mengenal satu per satu siswanya dengan ciri khas mereka masing-masing. Ada Farel, yang hampir selalu jadi pusat perhatian. Posturnya tegap, suaranya lantang, dan tingkahnya sering membuat kelas heboh. Kadang ulahnya membuat saya harus menegur, tapi dalam hati saya tahu, tanpa Farel suasana kelas akan terasa hambar. Ia adalah “mesin penggerak” keceriaan kelas.
Lalu ada Alvino, siswa berpostur kecil tapi punya semangat besar. Meski tubuhnya mungil dibandingkan teman-teman lain, keberaniannya untuk mengutarakan pendapat patut diacungi jempol. Alvino sering tampak tidak serius mendengarkan, tapi di balik itu ia juga punya selera humor yang bisa mencairkan suasana.
Ada juga anak yang cerewet, selalu punya cerita baru untuk dibagikan. Kadang cerita itu tak ada hubungannya dengan pelajaran, tapi justru dari situlah keakraban di kelas terjalin. Suaranya yang riang seolah menjadi latar musik di ruang kelas.
Sementara itu, anak yang suka menggambar punya dunia sendiri. Ia bisa duduk berjam-jam dengan pensil dan buku gambar, tenggelam dalam coretan dan imajinasi. Saat hasil gambarnya saya lihat, ada kebanggaan terselip di wajahnya meski terkadang ia berusaha menutupi dengan malu-malu. Saya selalu bilang padanya, “Teruslah menggambar. Itu adalah bakat kalian .”
Ada pula siswa-siswa pendiam. Mereka lebih banyak diam, duduk di pojok kelas, sesekali mencatat dengan rapi. Meski tidak banyak bicara, saya percaya dalam diam mereka ada ide dan perasaan yang dalam. Tugas saya adalah memberi ruang agar mereka berani mengungkapkan diri.
Beberapa siswa mendekati saya hari itu, sambil tersenyum nakal. “Bu, nanti tolong tulis cerita tentang kelas kami ya. Kami pengen ada cerita khusus tentang 7G.”
Saya tertegun sejenak, hati saya hangat mendengar permintaan itu. Betapa polos namun penuh makna. Mereka ingin dikenang, ingin diakui keberadaannya. Saat itulah saya semakin yakin bahwa kelas 7G bukan sekadar kelas dengan segala tantangan, tetapi juga kelas yang menjadi penyemangat saya untuk terus berkarya.
Mengajar memang bukan hanya soal menyampaikan materi. Ada nilai lain yang lebih besar, yaitu memahami jiwa anak-anak yang sedang bertumbuh. Saya sering melihat wajah-wajah mereka saat jam pelajaran dimulai. Ada yang masih mengantuk, ada yang penuh semangat, ada yang kebingungan. Setiap tatapan mata menyimpan cerita berbeda. Tugas sayalah sebagai guru sekaligus wali kelas untuk menjembatani cerita itu agar bisa bertemu dalam satu ruang pembelajaran yang bermakna.
Di balik kenakalan mereka, saya tahu ada keinginan untuk dihargai. Di balik canda mereka, ada kebutuhan untuk didengar. Bahkan di balik diam mereka, ada harapan agar ada yang mau mengerti tanpa harus banyak kata.
Kamis ini saya belajar sesuatu dari 7G. Bahwa kreativitas bisa tumbuh di mana saja, bahkan di sela-sela obrolan ringan di bawah pohon atau di taman sekolah. Bahwa rasa percaya diri butuh dibangun dengan apresiasi sederhana, seperti pujian tulus atau sekadar mengambil foto karya mereka. Yang terpenting, bahwa sebuah kelas bukan hanya kumpulan siswa, melainkan keluarga kecil yang sedang belajar tumbuh bersama.
Ketika bel pergantian jam berbunyi, anak-anak berhamburan. Ada yang masih sibuk menyelesaikan gambarnya, ada yang segera berlari ke kelas. Saya tersenyum melihat mereka. Meski lelah, ada kebahagiaan tersendiri setiap kali berinteraksi dengan mereka. Saya merasa 7G adalah cermin semangat saya sebagai guru: penuh warna, penuh tantangan, tetapi selalu memberi alasan untuk tetap berjuang.
Cepu, 28 Agustus 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar