Rabu, 27 Agustus 2025

Kehebohan di Kelas 7A Esmega

 

Karya: Gutamining Saida

Suasana kelas 7A terasa begitu cerah ceria. Udara pagi yang masuk melalui jendela membuat semangat anak-anak semakin bertambah. Saya memasuki kelas dengan membawa semangat serta beberapa gambar yang sudah saya siapkan sebagai media pembelajaran. Seperti biasa, saya menyapa mereka dengan senyum, lalu mengucapkan salam. Sontak mereka menjawab dengan kompak, meskipun ada beberapa yang suaranya lebih nyaring dibanding yang lain.

Materi hari itu adalah Lambang Negara Indonesia. Saya mulai dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Anak-anak, tahukah kalian, apa lambang negara kita?” Hampir semua mengangkat tangan. Beberapa dengan lantang menjawab, “Garuda Pancasila, Bu!” Saya mengangguk sambil tersenyum, lalu berkata, “Betul sekali. Hari ini kita akan belajar lebih dalam tentang makna Garuda Pancasila.”

Saya tunjukkan gambar besar lambang negara Indonesia di depan kelas. Mata anak-anak tertuju pada burung garuda berwarna emas yang gagah, memegang pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika. Saya menjelaskan bahwa Garuda adalah burung yang melambangkan kekuatan, kejayaan, dan kebesaran. Warna emas melambangkan kemuliaan.

Kemudian saya bertanya, “Siapa yang tahu arti tulisan yang ada di pita itu?” Ada yang menjawab ragu-ragu, “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua, Bu.” Saya tersenyum puas, “Benar sekali. Itulah semboyan bangsa kita. Meskipun berbeda suku, agama, budaya, kita tetap satu, yaitu bangsa Indonesia.”

Setelah itu, saya mengajak mereka memperhatikan perisai di dada burung garuda. “Lihatlah perisai ini, anak-anak. Inilah simbol Pancasila, dasar negara kita.”

Saya uraikan satu per satu maknanya.

  • Sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Lambangnya bintang emas di tengah perisai berlatar belakang hitam. Saya jelaskan bahwa bintang berwarna emas melambangkan cahaya Tuhan, dan warna hitam berarti keabadian. Anak-anak tampak mengangguk-angguk. Sudut Bintang ada lima menunjukkan agama yang ada di Indonesia
  • Sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Simbolnya rantai emas dengan latar belakang merah. “Rantai ini tersusun dari mata rantai berbentuk persegi dan lingkaran, melambangkan laki-laki dan perempuan yang saling terhubung. Artinya, kita harus saling menghargai sebagai sesama manusia.”
  • Sila ketiga: Persatuan Indonesia. Gambar pohon beringin dengan latar putih. Saya menerangkan bahwa pohon beringin melambangkan persatuan dan tempat berlindung bagi semua, sementara warna putih berarti kesucian niat. Pohon yang kuat memiliki akar yang menghirup udara dan air bisa tumbuh dan hidup lama.
  • Sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Lambangnya kepala banteng berlatar merah. Saya jelaskan bahwa banteng adalah hewan yang suka berkumpul, suka tolong menolong melambangkan musyawarah.
  • Sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Simbolnya padi dan kapas dengan latar hijau. Saya terangkan bahwa padi melambangkan pangan negara Indonesia bercorak agraris, kapas melambangkan sandang, kebutuhan pokok semua orang. Warna hijau berarti kemakmuran.

Saya juga menjelaskan bahwa perisai berbentuk hati yang digaris tebal hitam melambangkan pertahanan bangsa. Jumlah bulu di sayap garuda pun bukan secara  kebetulan. 17 helai di setiap sayap, 8 helai di ekor, 19 helai di bawah perisai, dan 45 helai di leher, yang jika dirangkai menjadi 17 Agustus 1945, tanggal kemerdekaan bangsa Indonesia.

Anak-anak tampak kagum. Ada yang berbisik ke temannya, “Ooh… ternyata jumlah bulu juga ada artinya ya.” Saya tersenyum melihat rasa ingin tahu mereka.

Untuk menambah semangat, saya memberi mereka tugas menggambar burung garuda. “Sekarang, keluarkan kertas gambar kalian. Kita akan membuat karya masing-masing.” Begitu saya selesai bicara, kelas seketika menjadi heboh. Ada yang langsung sigap mengambil pensil dan penggaris, ada yang masih bingung harus mulai dari mana.

“Bu, saya belum pernah menggambar Garuda sebelumnya. Susah nggak, ya?” tanya seorang siswa. Saya menenangkan, “Tidak apa-apa, Nak. Mulailah dari bentuk sayapnya, nanti tinggal ditambahkan perisainya.” Ada juga yang berseru, “Asik! Saya sudah pernah menggambar ini waktu SD, Bu. Jadi lebih gampang.” Anak-anak yang sudah terbiasa tampak membantu teman di sebelahnya.

Suasana kelas menjadi hidup. Terdengar suara pensil yang menggores kertas, sesekali disertai tawa kecil ketika hasil gambar ada yang tidak sesuai. “Waduh, kepala garudanya jadi mirip bebek, Bu!” kata seorang siswa sambil tertawa, membuat teman-temannya ikut tergelak. Saya pun ikut tersenyum, “Namanya juga proses belajar, nanti bisa diperbaiki.”

Ada juga siswa yang sangat serius, wajahnya menunduk tanpa banyak bicara. Ia sibuk menambahkan detail perisai dengan warna yang sesuai. “Wah, rapinya. Kamu pasti suka menggambar, ya?” Saya memuji. Ia hanya tersenyum malu-malu.

Setelah beberapa saat, satu per satu mereka menunjukkan hasil karyanya. Ada yang sudah berwarna lengkap dengan detail pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika. Ada juga yang baru selesai bentuk kasar burungnya saja. Saya apresiasi semuanya, karena usaha mereka adalah yang terpenting.

Menjelang akhir pelajaran, saya minta beberapa anak maju untuk menunjukkan hasil gambar mereka ke depan kelas. Anak-anak lain memberi tepuk tangan meriah. Saya katakan, “Ingatlah, anak-anak, Garuda Pancasila bukan sekadar gambar. Ia adalah lambang persatuan dan jati diri bangsa kita. Dengan memahaminya, kita bisa lebih mencintai Indonesia.”

Sebelum bel berbunyi, saya menutup pelajaran dengan menyimpulkan kembali makna lambang negara dan mengingatkan mereka untuk selalu mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Kelas 7A benar-benar terasa hidup. Saya melihat betapa antusias dan hebohnya mereka ketika belajar, apalagi saat menggambar burung garuda. Ada kebanggaan tersendiri dalam hati saya, karena mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengekspresikannya lewat karya. Saya berharap pengalaman ini akan menjadi kenangan indah yang menumbuhkan rasa cinta tanah air di hati mereka sejak dini.

Cepu, 28 Agustus 2025

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar