Karya: Gutamining Saida
Suasana kelas 7A terasa begitu cerah ceria. Udara pagi yang masuk melalui jendela membuat semangat anak-anak semakin bertambah. Saya memasuki kelas dengan membawa semangat serta beberapa gambar yang sudah saya siapkan sebagai media pembelajaran. Seperti biasa, saya menyapa mereka dengan senyum, lalu mengucapkan salam. Sontak mereka menjawab dengan kompak, meskipun ada beberapa yang suaranya lebih nyaring dibanding yang lain.
Materi hari itu adalah Lambang
Negara Indonesia. Saya mulai dengan sebuah pertanyaan sederhana,
“Anak-anak, tahukah kalian, apa lambang negara kita?” Hampir semua mengangkat
tangan. Beberapa dengan lantang menjawab, “Garuda Pancasila, Bu!” Saya
mengangguk sambil tersenyum, lalu berkata, “Betul sekali. Hari ini kita akan
belajar lebih dalam tentang makna Garuda Pancasila.”
Saya tunjukkan gambar besar
lambang negara Indonesia di depan kelas. Mata anak-anak tertuju pada burung
garuda berwarna emas yang gagah, memegang pita bertuliskan Bhinneka Tunggal
Ika. Saya menjelaskan bahwa Garuda adalah burung yang melambangkan
kekuatan, kejayaan, dan kebesaran. Warna emas melambangkan kemuliaan.
Kemudian saya bertanya, “Siapa
yang tahu arti tulisan yang ada di pita itu?” Ada yang menjawab ragu-ragu,
“Berbeda-beda tetapi tetap satu jua, Bu.” Saya tersenyum puas, “Benar sekali.
Itulah semboyan bangsa kita. Meskipun berbeda suku, agama, budaya, kita tetap
satu, yaitu bangsa Indonesia.”
Setelah itu, saya mengajak mereka
memperhatikan perisai di dada burung garuda. “Lihatlah perisai ini, anak-anak.
Inilah simbol Pancasila, dasar negara kita.”
Saya uraikan satu per satu
maknanya.
- Sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa.
Lambangnya bintang emas di tengah perisai berlatar belakang hitam. Saya
jelaskan bahwa bintang berwarna emas melambangkan cahaya Tuhan, dan warna
hitam berarti keabadian. Anak-anak tampak mengangguk-angguk. Sudut Bintang
ada lima menunjukkan agama yang ada di Indonesia
- Sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Simbolnya rantai emas dengan latar belakang merah. “Rantai ini tersusun
dari mata rantai berbentuk persegi dan lingkaran, melambangkan laki-laki
dan perempuan yang saling terhubung. Artinya, kita harus saling menghargai
sebagai sesama manusia.”
- Sila ketiga: Persatuan Indonesia. Gambar
pohon beringin dengan latar putih. Saya menerangkan bahwa pohon beringin
melambangkan persatuan dan tempat berlindung bagi semua, sementara warna
putih berarti kesucian niat. Pohon yang kuat memiliki akar yang menghirup
udara dan air bisa tumbuh dan hidup lama.
- Sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Lambangnya
kepala banteng berlatar merah. Saya jelaskan bahwa banteng adalah hewan
yang suka berkumpul, suka tolong menolong melambangkan musyawarah.
- Sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia. Simbolnya padi dan kapas dengan latar hijau. Saya terangkan
bahwa padi melambangkan pangan negara Indonesia bercorak agraris, kapas
melambangkan sandang, kebutuhan pokok semua orang. Warna hijau berarti
kemakmuran.
Saya juga menjelaskan bahwa
perisai berbentuk hati yang digaris tebal hitam melambangkan pertahanan bangsa.
Jumlah bulu di sayap garuda pun bukan secara kebetulan. 17 helai di setiap sayap, 8 helai
di ekor, 19 helai di bawah perisai, dan 45 helai di leher, yang jika dirangkai
menjadi 17 Agustus 1945, tanggal kemerdekaan bangsa Indonesia.
Anak-anak tampak kagum. Ada yang
berbisik ke temannya, “Ooh… ternyata jumlah bulu juga ada artinya ya.” Saya
tersenyum melihat rasa ingin tahu mereka.
Untuk menambah semangat, saya
memberi mereka tugas menggambar burung garuda. “Sekarang, keluarkan kertas
gambar kalian. Kita akan membuat karya masing-masing.” Begitu saya selesai
bicara, kelas seketika menjadi heboh. Ada yang langsung sigap mengambil pensil
dan penggaris, ada yang masih bingung harus mulai dari mana.
“Bu, saya belum pernah menggambar
Garuda sebelumnya. Susah nggak, ya?” tanya seorang siswa. Saya menenangkan,
“Tidak apa-apa, Nak. Mulailah dari bentuk sayapnya, nanti tinggal ditambahkan
perisainya.” Ada juga yang berseru, “Asik! Saya sudah pernah menggambar ini
waktu SD, Bu. Jadi lebih gampang.” Anak-anak yang sudah terbiasa tampak
membantu teman di sebelahnya.
Suasana kelas menjadi hidup.
Terdengar suara pensil yang menggores kertas, sesekali disertai tawa kecil
ketika hasil gambar ada yang tidak sesuai. “Waduh, kepala garudanya jadi mirip
bebek, Bu!” kata seorang siswa sambil tertawa, membuat teman-temannya ikut
tergelak. Saya pun ikut tersenyum, “Namanya juga proses belajar, nanti bisa
diperbaiki.”
Ada juga siswa yang sangat
serius, wajahnya menunduk tanpa banyak bicara. Ia sibuk menambahkan detail
perisai dengan warna yang sesuai. “Wah, rapinya. Kamu pasti suka menggambar,
ya?” Saya memuji. Ia hanya tersenyum malu-malu.
Setelah beberapa saat, satu per
satu mereka menunjukkan hasil karyanya. Ada yang sudah berwarna lengkap dengan
detail pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika. Ada juga yang baru selesai
bentuk kasar burungnya saja. Saya apresiasi semuanya, karena usaha mereka
adalah yang terpenting.
Menjelang akhir pelajaran, saya
minta beberapa anak maju untuk menunjukkan hasil gambar mereka ke depan kelas.
Anak-anak lain memberi tepuk tangan meriah. Saya katakan, “Ingatlah, anak-anak,
Garuda Pancasila bukan sekadar gambar. Ia adalah lambang persatuan dan jati
diri bangsa kita. Dengan memahaminya, kita bisa lebih mencintai Indonesia.”
Sebelum bel berbunyi, saya
menutup pelajaran dengan menyimpulkan kembali makna lambang negara dan
mengingatkan mereka untuk selalu mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam
kehidupan sehari-hari.
Kelas 7A benar-benar terasa
hidup. Saya melihat betapa antusias dan hebohnya mereka ketika belajar, apalagi
saat menggambar burung garuda. Ada kebanggaan tersendiri dalam hati saya,
karena mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengekspresikannya lewat
karya. Saya berharap pengalaman ini akan menjadi kenangan indah yang
menumbuhkan rasa cinta tanah air di hati mereka sejak dini.
Cepu, 28 Agustus 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar