Hari Sabtu tanggal 2 Februari
2025, saya mendapat undangan perpisahan di SMPN 1 Kedungtuban. Perpisahan ini bersama
ibu-ibu Dharma Wanita. Dua hari sebelumnya, undangan itu sudah dikirim ke grup
Dharma Wanita. Begitu saya membacanya, ada sesuatu yang mengganjal di pikiran
saya. Waktu pelaksanaan acara yang tertera di undangan terasa janggal. Biasanya
acara pertemuan diadakan siang hari
pukul 13.00 WIB, setelah jam pelajaran selesai. Undangan tertulis bahwa acara
dimulai pukul 08.00 pagi hari.
Saya berulang kali membaca
undangan itu, memastikan apakah saya salah lihat. Namun, tidak ada yang keliru
dari tulisan di sana. Hal inilah yang
membuat saya bertanya-tanya. Bukankah pagi hari ruangan masih dipakai untuk
kegiatan pembelajaran? Mengapa acara perpisahan diadakan pagi? Apakah ada
kesalahan dalam penulisan jam pelaksanaan?
Tak ingin menduga-duga sendiri,
saya pun mengetik pesan di grup, bertanya apakah waktu yang tercantum di
undangan itu sudah benar atau ada kesalahan. Saya berharap seseorang akan
segera memberikan penjelasan yang masuk akal.
Beberapa menit kemudian,
notifikasi berbunyi. Saya segera membuka grup dan melihat balasan dari Mbak
Yayuk. Alih-alih menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengirimkan emoji senyum.
Saya mengerutkan dahi, merasa semakin bingung. Apakah ini berarti undangan itu
memang benar? Atau Mbak Yayuk sendiri juga tidak yakin?
Seribu pertanyaan mulai berputar
di kepala saya. Apakah saya yang kurang informasi? Apakah ada perubahan jadwal
pembelajaran? Ataukah mungkin ada acara
lain yang membutuhkan ruangan pada siang hari, sehingga perpisahan harus
diadakan lebih pagi?
Lalu, muncul balasan lain dari Bu
Heny. Pesannya singkat saja:” Iya bu.”
Saya membaca ulang pesan itu
beberapa kali, mencoba mencari petunjuk di balik kata-kata yang begitu
sederhana, Iya bu. Jadi memang acaranya
pagi? Saya masih belum puas dengan jawaban itu.
Dalam hati, saya masih merasa
ragu. Tumben sekali acara perpisahan diadakan pagi. Bukankah biasanya ruangan
masih digunakan untuk pembelajaran pada jam tersebut? Tapi kalau Bu Heny sudah
membenarkan, berarti memang tidak ada kesalahan dalam undangan.
Saya menarik napas panjang dan
mencoba menerima kenyataan. Mungkin ada alasan tertentu yang membuat acara
diadakan lebih pagi dari biasanya. Mungkin bapak Kepala Sekolah mempunyai
pertimbangan sendiri, atau panitia sudah mengatur semuanya sedemikian rupa agar
tidak mengganggu aktivitas belajar-mengajar.
Rasa penasaran itu tetap belum
hilang sepenuhnya. Saya ingin bertanya lagi, tapi takut dianggap terlalu banyak
tanya atau justru membuat orang lain bingung. Akhirnya, saya memutuskan untuk menelpon
sekertaris Dharma Wanita.
Jika memang benar acaranya pagi,
saya akan datang sesuai waktu yang tertera di undangan. Jika ternyata ada
kesalahan, setidaknya saya sudah berusaha memastikan. Yang jelas, saya tidak
ingin menjadi orang yang datang terlambat atau malah melewatkan acara hanya
karena sebuah kesalahan kecil dalam membaca undangan.
Hari Sabtu pun tiba. Saya
berangkat pagi-pagi, masih dengan sedikit rasa penasaran. Begitu sampai di SMPN
1 Kedungtuban, saya langsung melihat suasana yang berbeda dari biasanya. Di
depan sekolah, situasi ramai banyak anak-anak sekolah SD berpakaian pramuka. Bapak ibu Pembina
pramuka. Orang tua wali siswa SD. Di depan pagar sekolah SMPN 1 Kedungtuban
dari ujung timur sampai barat berjajar penjual aneka makanan. Mobil, Elep, Colt
tepak banyak parkir di beberapa tempat. Kendaraan sepeda motor dibeberapa area.
Di pintu gerbang bapak, ibu guru berdiri berjajar menyambut beberapa tamu yang
hadir yaitu peserta pesta siaga se kecamatan Kedungtuban. SMPN 1 Kedungtuban
sebagai tuan rumah pesta siaga.
Saat masuk ke dalam ruang kelas
IXF sebagai tempat pertemuan. Saya
melihat kursi-kursi telah tertata rapi. Para ibu-ibu sudah duduk, hampir semua
kursi terisi dengan mengenakan seragam batik bebas. Mereka tampak bahagia. Termasuk
ibu ketua Dharma Wanita terpancar kebahagiaan saat melihat banyak anggota yang
hadir.
Saya akhirnya paham. Mungkin sengaja
diadakan acara ini pagi agar tidak terlalu mengganggu. Atau mungkin mereka
ingin memastikan bahwa semua anggota bisa hadir sebelum ada kegiatan lain di
sekolah. Apa pun alasannya, yang jelas acara ini berjalan dengan baik dan
lancar.
Pada akhirnya, saya tersenyum
sendiri. Ternyata, rasa penasaran dan kebingungan saya selama dua hari terakhir
hanya karena sesuatu yang sebenarnya tidak perlu terlalu dipikirkan. Yang
penting, saya datang tepat waktu dan hadir di perpisahan yang penuh makna ini.
Cepu, 2 February 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar