Karya: Gutamining Saida
Hari Kemerdekaan Republik Indonesia selalu menghadirkan suasana yang meriah. Bendera Merah Putih berkibar di berbagai tempat, lagu-lagu kebangsaan terdengar, berbagai perlombaan digelar, dan masyarakat bersama-sama mengenang perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Merayakan kemerdekaan tidak harus selalu dengan acara besar, panggung megah, atau hidangan yang mahal. Kadang-kadang, kemerdekaan justru terasa begitu dekat ketika beberapa orang berkumpul, duduk bersama, saling berbagi makanan, tersenyum, tertawa, dan mensyukuri nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang begitu banyak.
Saya bersama ibu-ibu tidak ingin ketinggalan untuk ikut merasakan semarak kemerdekaan. Kami mengadakan syukuran kecil-kecilan. Tidak ada panitia khusus, tidak ada daftar menu, tidak ada ketentuan siapa harus membawa makanan apa. Semuanya berjalan secara sederhana dan apa adanya. Masing-masing membawa bekal dari rumah sesuai kemampuan dan apa yang tersedia di rumah.
Semuanya mengalir begitu saja. Di situlah terasa indahnya kebersamaan. Setiap orang datang membawa sesuatu yang sederhana. Ketika semuanya dikumpulkan menjadi satu di meja, menjadi hidangan yang begitu beragam. Ada donat, tahu pentol, cakwe, aneka jajanan kering, dan berbagai makanan ringan lainnya. Yang awalnya hanya makanan dari rumah masing-masing, setelah dikumpulkan berubah menjadi sajian kebersamaan.
Menariknya, beberapa ibu ternyata membawa makanan yang sama. Sebagian besar membawa tahu pentol. Tidak ada yang merasa kecewa karena membawa jenis makanan yang sama. Tidak ada yang berkata, “Lho, kok saya membawa tahu juga?” Justru kami tertawa bersama. Ternyata tanpa janjian pun hati kami bisa memiliki pikiran yang sama (sehati).
Beginilah cara Allah Subhanahu Wata'alla menunjukkan rezeki tidak selalu datang melalui jalan yang kita rencanakan. Allah Subhanahu Wata'alla bisa mempertemukan banyak tangan dengan satu tujuan. Allah Subhanahu Wata'alla bisa membuat beberapa orang membawa makanan yang sama. Lalu menjadikannya bagian dari sebuah kebersamaan yang indah.
Makanan kemudian ditata dan disajikan di meja bulat. Semua duduk bersama. Tidak ada lagi makanan milik siapa. Setelah diletakkan di tengah, semuanya menjadi milik bersama untuk dinikmati bersama. Yang membawa donat tidak hanya makan donatnya sendiri. Yang membawa tahu tidak hanya mengambil tahu yang dibawanya. Yang membawa cakwe ikut menikmati makanan lainnya.
Di sinilah terasa makna berbagi. Satu makanan mungkin terlihat sederhana jika hanya dinikmati sendiri. Ketika dibagikan kepada banyak orang, nilainya menjadi jauh lebih besar. Bukan karena harganya, melainkan karena ada keikhlasan di dalamnya.
Bukankah rezeki memang akan terasa lebih nikmat ketika kita mau berbagi? Dalam ajaran agama, berbagi tidak harus menunggu menjadi kaya. Sedekah tidak selalu berupa uang. Memberikan makanan, membuat orang lain tersenyum, menyediakan sesuatu untuk dinikmati bersama, bahkan menghadirkan suasana bahagia pun dapat menjadi bentuk kebaikan apabila dilakukan dengan niat yang tulus.
Kami mungkin hanya membawa jajanan sederhana. Di balik tahu pentol, donat, cakwe, dan makanan ringan lainnya, ada doa yang tidak terlihat. Ada rasa syukur yang tumbuh. Ada silaturahmi yang terjaga. Ada persaudaraan yang semakin dekat.Kemerdekaan akhirnya tidak hanya kami rayakan dengan mengibarkan bendera Merah Putih. Kami juga merayakannya dengan mengibarkan rasa syukur di dalam hati.
Sesungguhnya, menjadi manusia yang merdeka bukan hanya terbebas dari penjajahan. Kita juga perlu belajar membebaskan hati dari keinginan untuk memiliki semuanya sendiri. Berbagi makanan mengajarkan kami akan kebahagiaan.
Ada hal lain yang membuat hati semakin bahagia. Setelah semua ibu menikmati hidangan, ternyata makanan masih tersisa cukup banyak. Kami pun tersenyum. “Berarti berkah,” mungkin begitu yang terlintas dalam pikiran kami.
Makanan yang tersisa bukan sekadar tanda hidangan yang dibawa terlalu banyak. Lebih jauh dari itu, kami memaknainya sebagai keberkahan. Allah Subhanahu Wata'alla telah mencukupkan rezeki kami. Allah Subhanahu Wata'allamemberi lebih dari yang kami perlukan. sesuatu yang berlebih sebaiknya tidak disia-siakan, melainkan dapat dibagikan kembali kepada orang lain.
Ketika memiliki kebahagiaan lebih, kita bisa menularkan kebahagiaan itu kepada orang lain. Begitulah keberkahan bekerja. Ia tidak selalu berbentuk bertambahnya jumlah harta. Kadang keberkahan hadir dalam bentuk hati yang tenang, tubuh yang sehat, persahabatan yang semakin erat, keluarga yang rukun, makanan yang cukup, dan perasaan bahagia setelah berkumpul dengan orang-orang yang kita sayangi.
Kita sering mencari kebahagiaan yang jauh, padahal Allah Subhanahu Wata'alla telah meletakkannya begitu dekat. Ada pada pertemuan. Ada pada persaudaraan. Ada pada makanan yang bisa dibagi. Ada pada kesempatan untuk tertawa bersama. Ada pada orang-orang yang hadir tanpa banyak tuntutan. Kami juga bersyukur atas kemerdekaan untuk berkumpul, bersilaturahmi, berbagi, dan menikmati rezeki Allah Subhanahu Wata'alla. dengan yang sesungguhnya bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, tetapi tentang kemampuan membebaskan hati.
Cepu, 17 Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar