Karya : Gutamining Saida
Sabtu sore suasana kolam terasa tidak seramai biasanya. Justru keadaan cukup sepi, kami mendapatkan kesempatan untuk melakukan pemanasan dengan lebih leluasa. Kalau biasanya pemanasan dilakukan di dalam kolam, kali ini Pak Gun menghendaki kami memulai dari atas kolam. “Bu ibu, hari ini pemanasannya di atas saja. Satu baris cukup,” ujar Pak Gun.
Kami pun segera berbaris. Ibu-ibu yang biasanya begitu semangat bercanda dan tertawa di dalam air, sore itu mulai mengikuti gerakan pemanasan. Ada yang mengangkat tangan, menggerakkan bahu, memutar badan, menggerakkan kaki, dan melakukan beberapa gerakan sederhana lainnya. Kelihatannya mudah. Tetapi ternyata tubuh berkata lain.
Baru beberapa hitungan, napas mulai terasa berat. Gerakan yang awalnya ringan mulai terasa melelahkan. Ketika baru sampai hitungan kelima, beberapa ibu sudah mulai mengeluh.
“Wah, baru lima sudah tidak kuat,” kata Pak Gun sambil tersenyum.
Kami pun tertawa. Ada benarnya juga yang disampaikan Pak Gun. Selama ini mungkin kami merasa sudah banyak bergerak. Setiap hari tubuh tidak pernah benar-benar diam. Dari dapur ke ruang makan, dari ruang makan ke kamar, kemudian ke kamar mandi. Mencuci, menyapu, mengepel, memasak, menyiapkan makanan keluarga, membereskan rumah, mengambil sesuatu, mengantar keperluan keluarga, dan masih banyak pekerjaan rumah lainnya.
Saya sendiri pernah berpikir, bukankah semua itu sudah termasuk olahraga? Bukankah badan juga berkeringat? Bukankah badan juga lelah? Bukankah kaki juga pegal? Ternyata saya keliru. Pekerjaan rumah memang membuat tubuh bergerak dan menguras tenaga, tetapi tidak otomatis sama dengan olahraga yang dilakukan secara teratur dan terarah.
Ada perbedaan antara tubuh yang bergerak karena menyelesaikan pekerjaan dengan tubuh yang sengaja dilatih agar tetap kuat, lentur, sehat, dan bugar. Sebuah kesadaran sederhana tiba-tiba muncul dalam hati saya.
Ternyata selama ini saya lebih banyak mengolah makanan daripada mengolah badan. Lebih sering memikirkan menu untuk keluarga daripada memikirkan kebugaran tubuh sendiri. Lebih rajin membersihkan rumah daripada meluangkan waktu membersihkan tubuh dari kemalasan untuk bergerak.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup menampar kesadaran. Sebagai seorang ibu, sering kali kita memang begitu. Kepentingan keluarga ditempatkan paling depan. Sarapan harus tersedia. Rumah harus bersih. Pakaian harus dicuci. Keperluan anak harus disiapkan. Suami diperhatikan. Pekerjaan selesai. Sementara urusan diri sendiri sering berada di urutan paling belakang.
“Yang penting keluarga dulu,” begitu kira-kira yang sering ada dalam pikiran. Padahal tubuh ini juga amanah dari Allah. Tubuh yang diberikan Allah bukan sekadar alat untuk bekerja, memasak, membersihkan rumah, dan melayani keluarga. Tubuh juga harus dijaga. Kesehatan adalah nikmat yang sering baru terasa nilainya ketika mulai berkurang. Di usia yang sudah kepala lima, saya semakin menyadari hal itu.
Dulu badan masih terasa kuat. Kurang tidur tidak terlalu masalah. Lelah sehari bisa pulih setelah istirahat. Tetapi semakin bertambah usia, tubuh mulai memberikan tanda-tanda. Kekuatan tidak lagi seperti ketika masih muda. Kelenturan berkurang. Napas lebih cepat terengah. Otot membutuhkan perhatian. Persendian mulai meminta diperlakukan dengan lebih baik.
Allah Subhanahu Wata'alla telah memberikan tubuh ini kepada kita sebagai titipan. Maka menjaganya juga bagian dari rasa syukur. Saya teringat betapa sering kita berdoa meminta umur panjang. “Ya Allah, panjangkanlah umur kami.” Tetapi umur panjang tentu bukan sekadar panjang angka. Kita berharap umur yang panjang dalam kebermanfaatan. Panjang dalam kebaikan, ibadah., mendampingi keluarga,membantu orang lain, berbagi ilmu, menebarkan senyum dan kebahagiaan.
Lalu bagaimana mungkin kita ingin memiliki umur panjang yang bermanfaat kalau tubuh tidak pernah kita rawat? Olahraga bukan sekadar persoalan penampilan. Bukan hanya supaya badan terlihat bagus, supaya tidak mudah gemuk. Lebih jauh dari itu, olahraga bisa menjadi bagian dari ikhtiar menjaga amanah Allah Subhanahu Wata'alla.
Tidak ada orang yang langsung mahir hanya karena sekali masuk kolam. Ada latihan, ada kesalahan, ada rasa takut, ada napas yang tersengal, ada tubuh yang lelah, tetapi semuanya menjadi bagian dari proses.
Saya pun bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla karena masih diberikan kesempatan untuk belajar memahami pentingnya mengolah badan. Kesadaran itu mungkin sederhana, tetapi datang pada waktu yang tepat. Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kebiasaan. Masih diberi kesempatan untuk bergerak berkumpul dengan ibu-ibu, tertawa bersama serta belajar dari Pak Gun.
Yang paling penting dan utama, masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup agar semakin sehat dan semakin dekat kepada Allah. Saya memahami bahwa mengurus keluarga memang ibadah. Memasak untuk keluarga adalah bentuk kasih sayang. Membersihkan rumah juga bagian dari tanggung jawab. Tetapi menjaga kesehatan diri sendiri juga bukan sesuatu yang boleh diabaikan.
Di usia kepala lima, saya tidak ingin hanya sibuk menghitung berapa banyak pekerjaan yang sudah diselesaikan untuk keluarga. Saya juga ingin mulai menghitung berapa banyak langkah kecil yang sudah dilakukan untuk menjaga tubuh yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan. Semoga setiap gerakan yang dilakukan menjadi bagian dari ikhtiar, semakin memudahkan beribadah.
Semoga suatu hari nanti, ketika usia semakin senja, kita masih bisa berkata dengan penuh syukur:. “Alhamdulillah, Allah masih memberi kesempatan kepada saya untuk bergerak, beribadah, mencintai keluarga, dan memberi manfaat bagi sesama.”Sehat bukan tujuan akhir. Ia adalah bekal untuk menjalani perjalanan menuju kehidupan yang lebih bermakna, lebih bermanfaat, dan lebih dekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin.
Cepu, 15 Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar