Rabu, 12 Agustus 2026

Minggu Membara


Karya : Gutamining Saida

Minggu Sore, air kolam renang Bumool Dengok Padangan menjadi saksi sebuah perjuangan kecil yang ternyata menyimpan makna kehidupan begitu besar. Hari demi hari, kolam ini semakin ramai. Bukan hanya oleh anak-anak yang bermain air atau mereka yang datang untuk belajar berenang. Aktivitas olahraga pun semakin beragam.

Ada renang yang pesertanya mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Ada terapi untuk ibu-ibu yang ingin menjaga dan memulihkan kebugaran. Ada zumba yang dipenuhi ibu-ibu dengan gerakan penuh semangat. Ada pula aerobik yang membuat suasana semakin hidup.

Sore ini terasa berbeda. Para ibu tidak hanya diajak menggerakkan tubuh. Mereka diajak berdamai dengan ketakutan. Mereka dibawa ke kolam dengan kedalaman sekitar 200 sentimeter. Bagi orang yang sudah terbiasa berenang, mungkin angka itu biasa saja. Tetapi bagi seseorang yang takut air, kedalaman dua meter bisa terasa seperti jurang yang sangat dalam.

Di sinilah perjuangan itu dimulai. Saya melihat tangan-tangan yang terus berpegangan pada bibir kolam, Kuat bahkan sangat kuat.  Seolah-olah jika tangan itu terlepaskan, sesuatu yang buruk akan terjadi.

Wajah-wajah tampak tegang. Ada rasa takut. Ada keraguan. Ada kecemasan. Tetapi bukankah kita semua pernah seperti itu? Bukankah dalam kehidupan, kita juga sering berpegangan pada sesuatu karena takut kehilangan?

Kita berpegangan pada keluarga. Berpegangan pada pekerjaan. Berpegangan pada harta. Berpegangan pada orang yang kita cintai. Berpegangan pada sesuatu yang membuat kita merasa aman. Padahal hidup mengajarkan bahwa tidak ada yang benar-benar kekal. Semua yang kita miliki hanyalah titipan. 

“Coba Tenggelam...” Instruksi diberikan oleh pak Gun

“Coba tenggelam, kemudian muncul kembali.”tambahnya

Sejenak suasana menjadi tegang. Tenggelam? Di kedalaman dua meter?

Bagi mereka yang takut, perintah itu tentu bukan perkara mudah. Satu demi satu mulai mencoba. Tubuh diturunkan. Wajah menyentuh air. Tenggelam. Kemudian muncul. Menarik napas. Mencoba lagi. Tenggelam. Muncul. Lagi. Dan lagi.

Pada awalnya tangan masih mencari pegangan. Kaki masih tegang. Napas belum teratur. Tetapi sesuatu mulai berubah. Rasa takut yang semula begitu besar, perlahan mulai mengecil. Bukankah ketakutan memang sering kali menjadi besar karena kita belum pernah mencoba menghadapinya?

Ketika kita berani mendekatinya, ternyata tidak selalu seburuk yang kita bayangkan. Ketika berani mencobanya, kita mulai berkata dalam hati,

"Ternyata saya bisa."

Kalimat sederhana. Bagi seseorang yang sedang berjuang melawan rasa takut, kalimat itu sangat berarti.

Sampai Tangan Itu Berani Lepas. Kemudian datang tahap yang lebih menggetarkan hati.

“Tangannya dilepas.”

Inilah saat yang mungkin paling sulit. Tangan yang sejak awal menjadi tempat bergantung harus dilepaskan. Perlahan. Pelan-pelan. Jari-jari mulai membuka. Pegangan dilepas. Tubuh tenggelam. Kemudian muncul. Tenggelam. Muncul. Berulang kali.

Setiap kali berhasil, ada sedikit keberanian yang tumbuh. Saya membayangkan, mungkin bukan hanya air yang sedang mereka lawan. Mungkin mereka sedang melawan suara di dalam hati yang selama ini berkata:

"Saya tidak bisa."

"Saya takut."

"Saya tidak berani."

"Bagaimana kalau saya gagal?"

Tetapi sore itu suara-suara itu perlahan dikalahkan oleh suara yang lain:

"Saya bisa."

"Saya berani."

"Saya mencoba."

Betapa indahnya sebuah keberanian yang lahir dari ketakutan. Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Berani adalah tetap melangkah meskipun rasa takut masih ada.

Air Mengajarkan Tentang Kehidupan. Di dalam air, kita belajar bahwa tubuh tidak selalu harus melawan. Ada saatnya kita harus rileks, saatnya kita harus mengatur napas, saatnya kita harus percaya bahwa tubuh kita mampu bertahan.

Bukankah kehidupan juga demikian? Terlalu banyak melawan terkadang membuat kita semakin lelah. Terlalu banyak mencemaskan masa depan membuat hati kehilangan ketenangan. Terlalu kuat menggenggam sesuatu membuat kita lupa bahwa segala sesuatu adalah milik Allah.

Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajarkan melalui air,

Belajarlah tenang.

Belajarlah percaya.

Belajarlah melepaskan.

Ketika kita menyerahkan segala sesuatu kepada Allah Subhanahu Wata'alla setelah melakukan ikhtiar terbaik, hati menjadi lebih ringan.

Allah berfirman dalam QS. Al-Insyirah ayat 5:

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Minggu sore saya melihat ayat tersebut seakan hadir dalam bentuk nyata.

Ada kesulitan.

Ada ketakutan.

Ada perjuangan.

Kemudian sedikit demi sedikit datang kemudahan.

Dari Takut Menjadi Percaya Diri

Setelah keberanian mulai tumbuh, latihan dilanjutkan. Gaya bebas dipraktikkan. Gaya dada dicoba. Gaya punggung dipelajari. Bahkan gaya dolphin pun diperkenalkan. Lengkap sudah ilmu sore itu. Tetapi sebenarnya bukan hanya teknik berenang yang didapat. Ada ilmu yang jauh lebih penting.

Ilmu tentang keberanian.

Ilmu tentang mengendalikan rasa takut.

Ilmu tentang percaya kepada kemampuan diri.

Yang paling penting, ilmu tentang bersyukur.

Tubuh KITA yang masih bisa bergerak adalah nikmat. Napas yang masih bisa diatur adalah nikmat. Kaki yang masih mampu menendang air adalah nikmat. Tangan yang masih mampu mengayuh adalah nikmat.

Kesempatan untuk berkumpul, belajar, tertawa dan menjaga kesehatan bersama adalah nikmat yang sering kali kita lupa syukuri.

Lingkaran yang Menenangkan Hati

Menjelang akhir kegiatan, semua peserta diminta membuat formasi lingkaran. Tubuh sudah lelah. Tetapi hati terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih tenang. Lingkaran itu seperti mengajarkan satu hal,

Tidak ada manusia yang harus berjalan sendirian.

Kita membutuhkan orang lain. Kita saling menguatkan. Saling menyemangati. Saling mendoakan. Di atas semua itu, kita membutuhkan Allah Subhanahu Wata'alla.

Minggu sore ada ibu yang datang membawa ketakutan. Tetapi ia pulang membawa keberanian. Ada yang datang dengan keraguan. Pulang dengan kepercayaan diri. Ada yang datang dengan kecemasan. Pulang dengan ketenangan.

Saya yakin, pengalaman sederhana di dalam kolam itu akan terbawa ke luar kolam. Ketika suatu hari menghadapi persoalan hidup, mungkin mereka akan teringat:

"Dulu saya takut masuk ke air sedalam dua meter. Tetapi saya mencoba. Saya berani melepaskan pegangan. Saya ternyata bisa."

Maka ketika menghadapi masalah kehidupan, semoga muncul keyakinan yang sama: "Saya pernah melewati ketakutan. Saya pasti bisa melewati ini. Dengan ikhtiar dan pertolongan Allah."

Semoga setiap tetes air menjadi saksi sebuah ikhtiar. Ikhtiar untuk sehat. Ikhtiar untuk berani. Ikhtiar untuk berdamai dengan diri sendiri. Ikhtiar untuk semakin dekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Bismillah dalam setiap langkah.
Tawakal setelah berusaha.
Syukur atas setiap nikmat yang Allah berikan.

Cepu, 10 Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar