Karya : Gutamining Saida
Jam mengajar sedang kosong. Suasana sekolah terasa lebih tenang. Sebagian guru memanfaatkan waktu untuk bersantai, ada yang berbincang dengan rekan sejawat, dan ada pula yang sekadar menikmati minuman. Saya memilih membuka telepon genggam. Bukan untuk mencari hiburan, melainkan membaca percakapan di grup Swimming Squad 2. Grup yang sering menghadirkan pelajaran hidup .
Mata saya tertuju pada tulisan dari Pak Gun. Beliau menuliskan tiga kalimat pendek berbentuk pertanyaan.
Mencegah sakit?
Menjaga sehat?
Mengobati sakit?
Hanya tiga kalimat. Tidak panjang, tidak disertai penjelasan. Justru karena singkat, pertanyaan itu mengajak setiap anggota grup untuk berpikir. Masing-masing orang tentu memiliki jawaban berdasarkan pengalaman hidupnya.
Beberapa menit saya membaca tanpa memberi komentar. Saya mencoba memahami maksud pertanyaan tersebut. Saya teringat pengalaman saat mengikuti latihan di kolam renang. Peserta datang dengan berbagai latar belakang. Ada yang memiliki keluhan pada tulang, pinggang, lutut, bahkan jantung. Ada pula yang sebenarnya sehat, tetapi ingin mempertahankan kebugarannya agar tetap bisa menikmati hari-hari bersama keluarga.
Akhirnya saya memberanikan diri menulis satu kalimat singkat.
"Salah satu caranya yaitu dengan terapi di air."
Tidak lama kemudian Pak Gun memberikan tanggapan.
"Mendengar, memahami, melihat, memperhatikan, mencoba."
Saya tersenyum membaca balasan itu. Kata sederhana, tetapi terasa begitu dalam maknanya. Saya spontan menuliskan komentar lagi.
"4M nich..."
Saat itu saya mengira hanya ada empat langkah penting. Saya membacanya sekilas sehingga belum benar-benar menghitung dengan teliti. Grup kembali sunyi. Tidak ada komentar lanjutan. Seperti biasanya, setiap anggota mungkin sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Rasa penasaran membuat saya membuka kembali percakapan tersebut beberapa saat kemudian. Saya membaca perlahan, satu demi satu kata yang ditulis Pak Gun.
"Mendengar..."
"Memahami..."
"Melihat..."
"Memperhatikan..."
"Mencoba..."
Saya menghitung ulang.
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima.
Saya tersenyum sendiri. Ternyata bukan 4M, melainkan 5M. Saya terlalu cepat menyimpulkan sehingga melewatkan satu langkah penting. Peristiwa kecil itu mengingatkan saya bahwa dalam kehidupan kita sering kali terburu-buru memberikan penilaian. Padahal, jika kita mau membaca lebih teliti, memperhatikan lebih saksama, dan memahami lebih dalam, kita akan menemukan pelajaran yang jauh lebih bermakna.
Kelima kata tersebut ternyata bukan hanya berlaku di kolam renang. Semuanya juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah pertama adalah mendengar. Mendengar bukan sekadar suara masuk ke telinga. Mendengar berarti membuka hati terhadap nasihat, pengalaman, dan ilmu dari orang lain. Banyak orang gagal berkembang bukan karena tidak memiliki kesempatan, melainkan karena merasa sudah tahu segalanya sehingga enggan mendengar.
Langkah kedua adalah memahami. Setelah mendengar, jangan buru-buru menyimpulkan. Pahami maksudnya terlebih dahulu. Tidak semua nasihat langsung bisa dimengerti dalam sekali dengar. Kadang kita perlu merenungkannya agar menemukan hikmah yang tersembunyi.
Langkah ketiga adalah melihat. Kita belajar bukan hanya dari teori, tetapi juga dari contoh nyata. Di kolam renang, peserta baru biasanya mengamati gerakan pelatih dan teman-temannya terlebih dahulu sebelum mencoba sendiri. Dari pengamatan itulah muncul gambaran yang benar tentang apa yang harus dilakukan.
Langkah keempat adalah memperhatikan. Melihat saja belum cukup. Memperhatikan berarti fokus pada hal-hal kecil yang sering terabaikan. Posisi tangan, cara bernapas, keseimbangan tubuh, hingga ketenangan pikiran menjadi bagian penting dalam latihan. Demikian pula dalam kehidupan. Keberhasilan sering lahir dari perhatian terhadap hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
Barulah langkah kelima adalah mencoba. Tidak ada ilmu yang benar-benar menjadi milik kita jika hanya didengar dan dipahami tanpa dipraktikkan. Keberanian mencoba akan melahirkan pengalaman. Pengalaman akan melahirkan kemampuan. Kemampuan yang terus diasah akan menjadi kebiasaan baik.
Saya kemudian teringat bahwa bonus dari semua proses itu adalah bisa berenang dengan lebih baik. Sesungguhnya bonus yang lebih besar bukan hanya kemampuan berenang. Bonus terindah adalah tubuh yang lebih sehat, pikiran yang lebih segar, hati yang lebih bahagia, serta persahabatan yang semakin erat.
Kolam renang ternyata bukan hanya tempat berolahraga. Ia menjadi ruang belajar yang unik. Di sana tidak ada batasan usia. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lanjut usia dapat belajar bersama. Tidak ada yang merasa paling hebat karena setiap orang memiliki prosesnya masing-masing.
Saya juga belajar kesehatan tidak datang secara instan. Ia harus dijaga dengan kesungguhan, kedisiplinan, dan kesabaran. Mencegah sakit jauh lebih ringan daripada mengobati ketika penyakit sudah datang. Menjaga kesehatan merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan.
Percakapan singkat di grup WhatsApp hanya berlangsung beberapa menit. Hikmah yang saya peroleh terasa jauh lebih panjang daripada jumlah kalimat yang tertulis. Terkadang Allah menghadirkan pelajaran melalui sebuah pertanyaan sederhana yang mampu menggugah hati.
Kini saya tidak lagi mengingatnya sebagai 4M, melainkan 5M: Mendengar, Memahami, Melihat, Memperhatikan, dan Mencoba. Lima langkah sederhana yang dapat diterapkan bukan hanya saat belajar berenang, tetapi saat belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
Menjelang siang, pak Gun kembali komentar, "Naaaaahhhh." Saya jadi malulah 😊
Cepu, 25 Juli 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar