Minggu, 03 Mei 2026

Epek-epek


Karya: Gutamining Saida

Suasana sore di kolam renang Bumool terasa lebih ramai. Matahari mulai condong. Permukaan air yang tenang, seolah ikut menyambut kehadiran empat "pendatang baru" di keluarga besar latihan renang.  Ada pemandangan yang cukup kontras, harmonis dua anak kecil yang tampak semangat sekaligus waspada, didampingi dua ibu-ibu yang ekspresinya merupakan campuran antara niat hidup sehat dan kekhawatiran akan gaya gravitasi di dalam air.

Kami, yang sudah lebih dulu akrab dengan bau kaporit, tentu saja tidak mau melewatkan momen ini. Ada semacam ritual tidak tertulis di sini yaitu setiap ada anggota baru, kami semua mendadak menjadi pengamat dari pinggir kolam. Sambil sesekali membetulkan posisi atau sekadar stretching ala kadarnya, mata kami tertuju pada proses perkenalan tersebut. Rasanya seperti melihat kilas balik ke masa lalu. Saya sendiri membayangkan saat pertama kali bergabung saat kaki ini gemetar hanya untuk sekadar menyentuh permukaan air, persis seperti yang sedang dirasakan para pemula ini.

Setelah sesi perkenalan formal dengan Pak Gun, dimulailah mengenalkan teori paling dasardi air. Beliau meminta keempat siswa baru itu duduk berjajar di bibir kolam. Kakinya terjuntai, bergerak-gerak kecil menciptakan riak-riak air yang pecah.

"Jangan buru-buru masuk, rasakan dulu airnya. Biar akrab, supaya tidak kaget," ujar Pak Gun dengan nada kebapakan. Setelah itu, mereka diminta membasahi seluruh tubuh, mulai dari kaki naik ke atas, agar suhu tubuh beradaptasi.

Sambil mereka berbasah-basah ria, Pak Gun mulai memberikan asupan teori. Beliau menjelaskan langkah-langkah teknis masuk ke kolam dengan aman dan efisien. Kami yang berada di sekitar pun ikut menyimak, sekadar menyegarkan ingatan atau mungkin mencari celah untuk belajar kembali. Untuk menguji sejauh mana pemahaman para siswa baru ini menangkap penjelasannya, Pak Gun tiba-tiba berhenti bicara dan melempar pertanyaan mendadak.

"Tadi Bapak sudah jelaskan tiga langkah penting untuk masuk ke kolam dan mulai bergerak. Coba, siapa yang bisa mengulang? Apa saja langkah-langkahnya?" tanya Pak Gun singkat namun penuh wibawa.

Salah satu anak dengan wajah polos dan sisa-sisa air yang masih menetes dari ujung rambutnya, langsung menyahut dengan penuh percaya diri. Sepertinya dia merasa telah menguasai seluruh ucapan dari sang guru renang. 

"Langkahnya... yang pertama meluncur, Pak!" serunya lantang. Pak Gun mengangguk mantap. "Bagus, lalu yang kedua?" "Kedua, kaki digerakkan!" lanjut si anak. "Mantap. Nah, yang terakhir apa?" pancing Pak Gun.

Si anak terdiam sejenak, matanya menatap langit-langit seolah mencari contekan di sana, lalu dengan wajah tanpa dosa dia menjawab, "Dan yang ketiga... epek-epek!"

Hening sejenak. Pak Gun yang biasanya punya jawaban untuk segala masalah teknis renang, kali ini tampak heran dengan istilah baru si anak.

"Lho... lho... kok epek-epek? Apaan itu?" sahut Pak Gun dengan nada bingung yang tidak bisa disembunyikan. Matanya mengerjap-ngerjap, mencoba mencari istilah "epek-epek" 

Seketika itu juga, ledakan tawa pecah di seluruh penjuru kolam. Kami yang semula hanya mengamati, langsung tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan ibu-ibu yang tadi sedang serius mengatur napas pun sampai harus memegang pinggiran kolam karena lemas menahan tawa.

"Apa katanya tadi? Epek-epek?" tanya seorang teman yang berada agak jauh, masih berusaha mencerna istilah baru tersebut. "Itu lho, ada istilah baru di dunia renang yaitu teknik epek-epek!" timpal yang lain sambil menyeka air di mata karena terlalu banyak tertawa.

Suasana menjadi sangat riuh. Si anak tampak bingung melihat orang-orang dewasa di sekitarnya tertawa sampai heboh sendiri. Dengan wajah yang masih sangat polos, dia mencoba membela diri.

"Itu lho Pak Gun... maksud saya tangannya digerak-gerakkan begini," katanya sambil memperagakan gerakan tangan  di atas air. Rupanya, dalam kamus pribadinya, gerakan tangan yang menepak-nepak air itu dinamakan "epek-epek."

Pak Gun akhirnya ikut tertawa lebar sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Oalah ... itu namanya gerakan tangan bukan epek-epek! Kalau epek-epek itu istilah buat telapak tangan di bahasa Jawa!"

Kejadian itu seketika mencairkan segala ketegangan. Rasa takut akan air yang tadinya menggelayut di wajah para siswa baru itu lenyap, berganti dengan suasana kekeluargaan yang hangat. Kami kembali melanjutkan latihan dengan semangat baru, sambil sesekali saling melempar candaan, "Ayo, jangan lupa epek-epeknya dikencangkan!" Bagi saya, "epek-epek" resmi menjadi istilah favorit baru yang akan selalu dikenang setiap kali melihat siswa baru bergabung di bawah asuhan Pak Gun. Sampai jumpa di episode mendatang.

Cepu, 4 Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar