Karya : Gutamining Saida
Tanggal 1 Maret 2026 menjadi tanggal yang saya lingkari di kalender. Bukan karena pesta, bukan pula karena perjalanan jauh, tetapi karena sebuah janji kepada diri sendiri yaitu berbenah. Saya ingin menata ulang jiwa dengan ilmu yang telah saya pelajari, lalu mempraktikkannya dengan setia melalui terapi menulis pada pagi dan sore hari.
Anak saya sering berkata bahwa saya ini termasuk orang sibuk. Mengajar, mengurus keluarga, menghadiri kegiatan sosial, menyiapkan administrasi, membersamai siswa dengan segala dinamika remaja mereka. Lalu mengapa masih menambah kesibukan dengan terapi menulis?
Jawabannya sederhana yaitu saya ingin sehat. Terutama sehat jasmani, rohani dan kantong. Saya ingin umur panjang yang tidak sekadar panjang angka, tetapi panjang manfaat. Saya percaya, usia yang berkah adalah usia yang digunakan untuk mendekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla dan menebar kebaikan bagi sesama.
Dulu saya mengira terapi menulis itu seperti yang biasa saya lakukan menulis cerita pengalaman, merangkai kenangan, mengabadikan peristiwa. Sehari satu cerita. Itu sudah saya coba dan menjadi kebiasaan. Sesuai arahan mentor saya, Kak Wayan, sehari satu tulisan, dikumpulkan selama setahun, insyaallah akan menjadi satu buku. Saya membayangkan rak kecil di rumah dengan tambahnya satu buku yang lahir dari kisah saya sendiri. Benar, setiap kali tulisan terwujud, ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan. Bahagia karena berhasil menaklukkan rasa malas. Bahagia karena satu hari tidak berlalu sia-sia.
Akhir Februari, saya menemukan lagi istilah yang sama yaitu terapi menulis. Saya membaca informasi penuh penasaran. Saya merasa seperti menemukan pintu lain dari rumah yang sama. Ternyata, praktiknya berbeda. Bukan mengetik. Bukan membuat cerita panjang. Tetapi menulis dengan tangan. Di atas kertas atau buku tulis. Beberapa lembar halaman harus disetorkan mentor setiap pagi dan sore hari sekaligus mendapatkan bonus koreksi kakak mentor.
Awalnya saya terdiam. Menulis tangan? Di tengah kesibukan seperti ini? Tetapi justru di situlah saya merasa Allah sedang menguji niat. Bukankah segala sesuatu yang bernilai memerlukan kesungguhan? Bukankah ibadah pun menuntut disiplin waktu?
Hari pertama saya memulai, suasana masih hening. Setelah salat Subuh, saya duduk dengan buku tulis terbuka. Pena saya genggam perlahan. Di hari praktik pertama, saya memiliki keinginan segera selesai. Pikiran saya tergesa-gesa. Saya ingin cepat menuntaskan lembaran-lembaran tulisan. Akibatnya, tulisan menjadi amburadul. Banyak huruf yang salah, beberapa kata terlewat, tulisan tidak rapi. Hati saya sempat kecewa. Mengapa sesuatu yang terlihat sederhana ternyata tidak mudah?
Saat itu saya tersadar, ternyata tergesa-gesa bukan hanya merusak tulisan, tetapi juga merusak ketenangan jiwa. Saya seperti bercermin. Bukankah dalam kehidupan pun sering kali saya ingin hasil cepat? Ingin masalah segera selesai? Ingin perubahan instan?
Padahal Allah mengajarkan proses. Di tulisan kedua, saya mengubah niat. Saya bertekad menulis pelan-pelan. Menarik napas lebih panjang. Mengatur posisi duduk. Menghadirkan kesadaran. Saya mencoba menyelaraskan pikiran dengan gerakan tangan. Namun ternyata tetap saja ada kesalahan. Masih ada huruf yang kurang tepat. Masih ada kalimat yang kurang rapi. Waktu yang dibutuhkan pun lebih lama.
Di situlah saya belajar bahwa menulis dengan tangan membutuhkan ketenangan pikiran. Ia bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi pertemuan antara niat, pikiran, dan tindakan. Ketiganya harus sejalan. Jika pikiran melompat-lompat, tangan pun ikut goyah. Jika hati gelisah, tulisan pun kehilangan arah.
Saya mulai memahami bahwa terapi ini sedang mendidik saya untuk sabar. Untuk menerima bahwa proses tidak bisa dipercepat seenaknya. Ada jeda yang harus dihormati. Ada irama yang harus diikuti. Setiap goresan tinta menjadi latihan sinkronisasi antara pikiran dan tindakan. Ketika saya menulis satu kalimat, saya harus benar-benar memikirkan maknanya. Tidak bisa sambil memikirkan hal lain. Tidak bisa setengah hati. Jika pikiran tidak fokus, hasilnya langsung terlihat di atas kertas.
Sore hari setelah segala aktivitas finis saya kembali membuka buku. Rasa lelah sering menyapa. Kadang mata sudah berat. Tetapi kini saya lebih berhati-hati. Saya tidak lagi mengejar cepat selesai. Saya mengejar hadir sepenuhnya. Saya belajar menikmati setiap huruf, setiap lengkungan tinta.
Saya teringat firman Allah dalam Al-Qur’an tentang pena dan tulisan. Betapa Allah memuliakan ilmu dan proses belajar. Bukankah menulis adalah salah satu bentuk dzikir dalam wujud yang berbeda? Ketika saya menulis kalimat-kalimat kebaikan berulang-ulang, saya seperti sedang menanam benih di dalam hati.
Terapi ini perlahan mengajarkan saya makna tawakal. Saya hanya bisa berusaha menulis sebaik mungkin. Hasilnya saya serahkan kepada Allah. Jika masih ada kesalahan, itu bagian dari proses belajar. Jika tulisan belum rapi, itu tanda saya masih perlu sering latihan.
Saya menyadari bahwa selama ini saya sering menuntut diri untuk sempurna. Padahal kesempurnaan hanyalah milik Allah. Manusia diberi ruang untuk salah, agar belajar rendah hati.
Setiap kesalahan huruf menjadi pengingat bahwa hidup pun penuh koreksi. Jika salah, perbaiki. Jika kurang rapi, ulangi. Jika belum tenang, tarik napas dan mulai lagi. Saya mulai merasakan bahwa terapi ini bukan hanya menyehatkan pikiran, tetapi juga menundukkan ego. Ego yang ingin cepat. Ego yang ingin hasil instan. Ego yang tidak sabar melihat kekurangan diri.
“Ya Allah, ajarkan aku sabar dalam proses. Selaraskan pikiranku dengan tindakanku. Tenangkan hatiku dalam setiap usaha memperbaiki diri. Jadikan tulisan ini saksi bahwa aku pernah berjuang melawan diriku sendiri.”
Perjalanan terapi ini masih panjang satu bulan ke depan baru selesai. Tulisan saya mungkin belum sempurna. Saya percaya, selama saya terus melangkah dengan niat yang lurus, Allah asubhanahu Wata'alla akan menuntun setiap goresan pena sebagai buktinya. Semoga menginspirasi
Cepu, 5 Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar