Senin, 05 Januari 2026

Kejutan

 


Karya: Gutamining Saida

Selasa yang masih menyisakan embun di dedaunan, siswa siswi kelas tujuh dikumpulkan di area outdoor sekolah. Matahari belum sepenuhnya meninggi, sinarnya lembut menembus sela pepohonan, seakan ikut menjadi saksi atas peristiwa yang akan terjadi. Barisan siswa berdiri rapi, seragam mereka tampak kontras dengan hamparan lapangan yang masih basah oleh sisa hujan malam. Beberapa siswa bercanda pelan, namun sebagian lain memilih diam, menunggu dengan rasa penasaran.

Tak lama kemudian, wakil kepala sekolah bidang kurikulum bersama wakil kepala sekolah bidang humas melangkah ke depan. Suasana mendadak hening. Ada aura keseriusan yang terasa, seolah pagi itu bukan sekadar apel biasa. Dengan suara yang tenang namun tegas, disampaikanlah sebuah pengumuman bahwa adanya penambahan kelas dan pelaksanaan rolling kelas bagi siswa kelas tujuh. Kalimat demi kalimat meluncur pelan, namun maknanya mengguncang hati banyak anak kelas tujuh.

Sebagian siswa tampak tertegun. Wajah-wajah polos itu menyimpan beragam rasa kaget, cemas, bahkan takut. Mereka yang selama ini merasa nyaman bersama teman sebangku, teman bercanda, dan teman berbagi bekal, kini harus bersiap menerima perubahan. Perubahan yang tidak mereka minta, tetapi harus mereka jalani.

Menurut agama Islam, perubahan adalah sunnatullah. Allah berfirman bahwa tidak ada satu pun keadaan yang tetap, kecuali perubahan itu sendiri. Namun, memahami hikmah di balik perubahan sering kali lebih sulit daripada sekadar menerimanya. Itulah yang dirasakan anak-anak pagi itu.

Satu per satu nama siswa mulai disebutkan. Mereka diminta berjalan menuju wali kelas masing-masing, yang telah berdiri berjajar di deretan depan. Langkah kaki kecil itu terdengar pelan di atas tanah lapangan, seolah setiap langkah membawa beban perasaan yang tak terlihat. Ada yang berjalan cepat tanpa menoleh, ada yang melangkah ragu, menoleh ke belakang, mencari wajah teman yang selama ini menemani hari-harinya.

Tiba-tiba, suasana yang tadinya tertib pecah oleh isak tangis seorang siswi. Air matanya mengalir deras. Ia harus berpisah dengan sahabat yang selalu duduk di sampingnya sejak hari pertama masuk sekolah. Tangis itu bukan sekadar tangis anak-anak, melainkan luapan rasa kehilangan. Kehilangan ruang aman, kehilangan tempat berbagi cerita, dan kehilangan rasa “bersama” yang telah terbangun.

Raut wajah sedih pun menyelinap di antara barisan siswa lainnya. Ada mata yang berkaca-kaca, bibir yang digigit menahan tangis, dan kepala yang tertunduk pasrah. Di sudut lain, tampak pula wajah-wajah bahagia. Ada siswa yang tersenyum lebar karena kembali bertemu teman dekatnya dari kelas lain. Ada pula yang merasa bersyukur karena bisa satu kelas dengan teman yang dulu hanya bisa ditemui saat istirahat.

Allah Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya. Tak satu pun perasaan itu luput dari pengawasan-Nya. Tangis dan tawa, sedih dan bahagia, semuanya tercatat rapi dalam catatan amal. Bahkan air mata seorang anak yang jatuh karena perpisahan pun bernilai doa, jika ia berserah dan percaya bahwa Allah sedang menyiapkan kebaikan.

Sementara itu, siswa laki-laki tampak lebih datar. Hampir tak ada ekspresi yang mencolok di wajah mereka. Mereka berdiri tegak, melangkah sesuai arahan, seolah semua baik-baik saja. Bukan berarti mereka tidak merasakan apa-apa, melainkan mereka pandai menyembunyikan perasaan. Sejak kecil, banyak anak laki-laki diajarkan untuk tegar, untuk tidak mudah menunjukkan air mata. Di balik wajah yang tampak biasa saja itu, mungkin ada kegelisahan yang sama, hanya disimpan rapi di dalam hati.

Wali kelas yang berdiri di depan memperhatikan semua itu dengan perasaan haru. Mereka memahami bahwa keputusan rolling kelas bukanlah perkara mudah, baik bagi siswa maupun guru.  Kebijakan ini diambil dengan harapan terbaik adalah agar siswa belajar beradaptasi, memperluas pertemanan, dan membangun karakter yang lebih kuat. Bukankah hidup pun demikian? Kita tidak selalu berada di lingkungan yang sama, bersama orang-orang yang sama. Kadang Allah Subhanahu wata'alla memindahkan kita agar kita belajar tumbuh.

Dalam hati, para wali kelas berdoa. Semoga anak-anak ini diberi kelapangan dada. Semoga Allah menanamkan rasa ikhlas dan sabar di hati mereka. Sebab ikhlas bukan berarti tidak sedih, tetapi tetap melangkah meski hati terasa berat. Sabar bukan berarti tidak menangis, tetapi percaya bahwa setelah tangis ada hikmah yang menunggu.

Sekolah bukan hanya tempat belajar matematika, bahasa, atau ilmu pengetahuan lainnya, tetapi juga tempat belajar kehidupan. Belajar tentang perpisahan, pertemuan, kehilangan, dan penerimaan. Semua itu adalah bekal penting untuk masa depan mereka.

Ketika barisan mulai bubar dan siswa menuju kelas masing-masing, matahari semakin terang. Seolah Allah ingin menyampaikan pesan sederhana bahwa setelah gelap dan sendu, selalu ada cahaya. Setelah tangis, akan ada senyum. Di balik setiap perubahan, selalu tersimpan rencana-Nya yang terbaik.

Anak-anak itu mungkin belum sepenuhnya memahami hikmah hari itu. Suatu saat, ketika mereka dewasa, mereka akan mengingat Selasa pagi di lapangan sekolah adalah sebagai hari ketika mereka pertama kali belajar menerima takdir kecil dalam hidup, dan belajar berserah kepada Allah dengan hati yang sederhana. Semoga kalian segera beradaptasi dan sukses buat kalian semuanya.

Cepu, 6 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar