Selasa, 06 Januari 2026

Ikhlas Dan Takdir

Karya : Gutamining Saida 
Hari kedua masuk sekolah membawa suasana yang berbeda dari hari sebelumnya. Selasa pagi  udara terasa sama, langit pun masih menaungi halaman sekolah dengan warna yang tak berubah. Namun hati banyak orang terutama para siswa tidak lagi berada pada keadaan yang sama. Ada sesuatu yang bergeser, sesuatu yang membuat langkah-langkah kecil mereka terasa lebih berat dari biasanya.

Siswa-siswi Esmega kelas tujuh yang semula berjumlah tujuh kelas kini berubah menjadi delapan kelas. Sebuah kebijakan yang datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, baik kepada siswa maupun wali murid. Setelah bel masuk berbunyi, seluruh kelas dikumpulkan di area outdoor sekolah. Mereka berdiri berjejer rapi, sebagian masih sempat bercanda kecil, namun lebih banyak yang terdiam, menunggu dengan rasa penasaran bercampur cemas.

Pengarahan pun dimulai oleh waka kurikulum. Nama siswa disebut satu per satu, lalu diarahkan menuju wali kelas yang telah berdiri di barisan depan. Di sanalah pembagian kelas baru dilakukan. Saya berdiri, masih dengan amanah yang sama yaitu menjadi wali kelas tujuh G. Namun susunan siswa di depan saya tak sepenuhnya sama seperti enam bulan sebelumnya. Ada wajah-wajah lama yang masih setia di kelas tujuh G, tetapi lebih banyak wajah baru yang datang dari kelas lain. Di sisi lain halaman, saya melihat beberapa anak tujuh G lama melangkah menjauh, menuju wali kelas yang lain.

Beberapa menit kemudian, perintah pun disampaikan agar siswa mengambil tas masing-masing dan segera menempati kelas baru. Saat itulah suasana berubah drastis. Tidak ada sorak kegembiraan, tidak ada celoteh riang seperti biasanya. Langkah kaki terdengar pelan, bahkan terasa berat. Anak-anak berjalan dengan wajah datar, sebagian menunduk, sebagian lagi menatap kosong ke depan.
Di mata mereka tersimpan tanya yang tak terucap. Di balik diam itu, ada kehilangan kecil yang sedang mereka rasakan. Kehilangan teman sebangku, teman bermain, teman bercanda, bahkan teman berbagi cerita. Enam bulan bukan waktu yang singkat bagi anak-anak seusia mereka. Enam bulan cukup untuk membangun kebersamaan, kekompakan, dan rasa memiliki satu sama lain.

Ketika telah duduk di dalam kelas baru, suasana masih hening. Bangku-bangku terasa asing, dinding kelas seolah belum bersahabat. Ada seorang siswa yang mengangkat tangan dengan suara lirih, “Kenapa diacak, Bu?” Pertanyaan sederhana, namun sarat makna. Ada pula yang tak bertanya apa-apa, namun matanya berkaca-kaca, menyimpan air mata yang siap jatuh kapan saja. Saya melangkah mendekat. Sebagai wali kelas, saya tahu bahwa tugas saya bukan hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga menenangkan hati. Saya mengajak mereka untuk menarik napas sejenak, menenangkan diri, dan membuka hati. Dengan suara pelan, saya sampaikan bahwa dalam hidup, tidak semua hal berjalan sesuai keinginan kita.

Ada kalanya Allah mengatur jalan yang berbeda dari rencana kita.
“Anak-anakku,” ucap saya perlahan.
“Berpisah kelas bukan berarti berpisah selamanya. Kalian hanya dipisahkan ruang dan waktu saat belajar. Saat istirahat, saat pulang, kalian masih bisa bertemu, bercanda, dan bersama kembali.” 
Saya melihat beberapa wajah mulai menoleh, mencoba memahami. Saya lanjutkan, bahwa setiap ketentuan yang terjadi pasti mengandung hikmah. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya, meski terkadang hati kita belum siap menerimanya. Mungkin dengan susunan kelas yang baru, Allah ingin memperluas pertemanan mereka, melatih keberanian untuk beradaptasi, dan mengajarkan arti ikhlas sejak dini.

Saya katakan pula bahwa perpisahan adalah bagian dari kehidupan. Sejak kecil hingga dewasa, manusia akan terus belajar tentang berpisah dan bertemu kembali dalam bentuk yang berbeda. Sekolah adalah tempat belajar bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar tentang kehidupan, tentang menerima, tentang sabar, dan tentang percaya kepada takdir Allah.

Perlahan suasana mulai mencair. Meski belum sepenuhnya hilang, ketegangan di wajah anak-anak mulai berkurang. Ada yang mulai menyeka matanya, ada yang mengangguk pelan. Saya mengajak mereka untuk saling menyapa teman baru di sebelahnya, meski hanya dengan senyum kecil.

Saya mohon kepada Allah Subhanahu Wata'alla agar anak-anak ini diberi kelapangan hati, agar tidak menyimpan luka berkepanjangan, dan agar kebersamaan baru yang terbentuk kelak membawa kebaikan. Saya yakin, tidak ada doa yang sia-sia, terlebih doa seorang guru untuk murid-muridnya.

Hari Selasa menjadi pelajaran berharga, bukan hanya bagi siswa, tetapi juga bagi saya. Bahwa mendidik bukan sekadar mengajar, melainkan menemani proses tumbuh, termasuk saat anak-anak belajar menerima kenyataan yang tidak selalu manis. Di balik perubahan yang membuat perih, Allah selalu menyimpan rencana yang indah.

Di kelas tujuh G yang baru, saya kembali melanjutkan amanah. Menjadi saksi bahwa dari perpisahan kecil, Allah sedang menyiapkan pertemuan-pertemuan yang lebih luas, lebih dewasa, dan lebih bermakna. Semoga anak-anak ini kelak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, sabar, dan mampu menerima setiap takdir dengan penuh keimanan. Aamiin.
Cepu, 6 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar