Rabu, 22 Oktober 2025

Ngemil Bareng Kelas 7C



Karya: Gutamining Saida

Senin pagi itu, matahari bersinar cukup terik. Jam dinding di ruang guru menunjukkan pukul 10.10, tanda bel masuk untuk jam pelajaran kelima. Saya menyiapkan buku, spidol, dan satu tas kresek berisi sesuatu yang sejak pagi sudah saya rancang dengan penuh semangat. Dalam hati, saya berkata pelan, “Semoga ide kali ini berhasil membuat anak-anak lebih semangat belajar IPS.”

Kelas 7C, tempat saya mengajar pagi ini, terkenal dengan suasana yang penuh canda. Kadang, ketika pelajaran berlangsung di jam-jam pagi seperti ini, semangat mereka mulai menurun. Wajar saja, setelah jam beristirahat sebentar, rasa kantuk pasti datang menyerang. Maka dari itu, saya tidak ingin pembelajaran IPS hari ini berjalan biasa-biasa saja. Saya ingin membuatnya berkesan.

Saat melangkah ke dalam kelas, saya sudah membawa tas kresek berisi bungkus-bungkus snack yang saya kumpulkan yaitu ada Mak Cabe, Taro, Potato, Arjuna, serta minuman instan Energen rasa kacang hijau dan jahe. Begitu saya masuk, beberapa siswa langsung menatap penasaran.

“Bu, itu apa, Bu?” tanya Algo sambil memiringkan kepala, matanya tertuju ke arah tas kresek saya.
“Acara apa, Bu?” sambung Rangga dari bangku belakang.

Saya tersenyum misterius sambil menaruh tas di meja guru. “Kita ngemil bareng hari ini, nanti jam ke enam,” jawab saya singkat. Seketika, seluruh kelas bersorak. Ada yang bertepuk tangan, ada yang tertawa, bahkan ada yang langsung berdiri mendekat karena penasaran.

“Nggak beneran ngemil, kan, Bu?” celetuk seseorang.
Saya mengangguk sambil tersenyum, “Iya, tapi ini ngemil versi IPS.”

Anak-anak semakin penasaran. Kita di jam ke lima melanjutkan materi dulu, setelah bel jam ke enam kita ngemil bareng. Waktu berputar serasa cepat. Tibalah bel berbunyi. Sebelum mulai, saya meminta mereka untuk membentuk delapan kelompok agar waktu bisa lebih efisien. “Langsung saja, bangku depan balik badan ke arah belakang, jadi satu kelompok empat orang,” instruksi saya. Mereka pun segera bergerak dengan antusias. Beberapa kursi berderit pelan, disertai tawa kecil saat mereka menata posisi.

Setelah semua siap, saya mengambil satu per satu bungkus snack dan menempelkannya di papan tulis menggunakan selotip warna-warni. Dari kejauhan, papan tulis tampak seperti etalase mini toko snack penuh warna, menggoda, dan mengundang rasa penasaran.

“Bu, boleh milih yang Mak Cabe nggak?” tanya Mahes, yang memang terkenal suka makanan pedas.
“Boleh, tapi nanti ambilnya bergiliran ya. Satu kelompok satu dulu.”

Anak-anak bersorak lagi. Saya lalu menjelaskan aturan mainnya. Di balik setiap bungkus snack dan Energen, sudah saya siapkan satu kertas kecil berisi pertanyaan seputar materi perubahan sosial. Mereka harus menjawab pertanyaan itu secara berkelompok. Setiap kali berhasil menjawab satu pertanyaan, kelompok tersebut boleh mengambil snack berikutnya.

Saya baru saja menyelesaikan penjelasan ketika Algo kembali bertanya dengan nada penasaran,
“Bu, itu di dalamnya ada isi snack-nya beneran apa kosong?”
Saya tertawa. “Ada isinya, tapi bukan buat dimakan. Isinya pertanyaan.”
“Oh, gituuu,” jawab Algo sambil nyengir.

Begitu permainan dimulai, suasana kelas berubah total. Semua siswa tampak hidup dan semangat. Masing-masing kelompok segera berembuk, membuka bungkus snack yang mereka pilih, lalu membaca pertanyaan di baliknya. Ada yang tertawa karena pertanyaannya mudah, ada yang garuk-garuk kepala karena harus berpikir keras.

Kelompok Rangga misalnya, mendapat pertanyaan tentang contoh perubahan sosial di masyarakat modern. Mereka tampak serius berdiskusi. Di sisi lain, kelompok Algo malah sudah teriak kegirangan karena berhasil menjawab pertanyaan dengan cepat.

“Bu, kelompok kami boleh ambil yang Taro, ya!” seru mereka sambil berlari kecil ke depan.

Saya hanya tersenyum melihat semangat itu. Rasanya luar biasa menyenangkan melihat bagaimana snack-snack sederhana itu mampu menghidupkan suasana belajar. Setiap kali satu kelompok berhasil menjawab pertanyaan, saya berikan pujian kecil, “Hebat! Lanjut ya, kelompok lain jangan mau kalah.”

Dalam waktu sekitar empat puluh menit, semua bungkus snack di papan tulis sudah berpindah tangan. Di akhir kegiatan, saya menanyakan kepada mereka, “Bagaimana? Belajar IPS sambil ngemil, seru nggak?”

“Seruuu, Bu!” jawab mereka serempak.
“Kalau bisa tiap pelajaran kayak gini, Bu,” celetuk salah satu siswa diiringi tawa teman-temannya.

Saya ikut tertawa, tapi dalam hati saya merasa benar-benar bahagia. Ada rasa lega sekaligus haru melihat wajah-wajah ceria itu. Mereka belajar tanpa merasa sedang belajar. Mereka berpikir, berdiskusi, bekerja sama, dan bersaing dengan sehat. Dan semua itu terjadi hanya karena ide sederhana bernama Ngemil Bareng IPS.

Sebelum bel akhir berbunyi, saya menutup pelajaran dengan pesan singkat, “Hari ini kalian hebat. Ingat, belajar itu tidak selalu harus tegang. Bisa juga sambil santai, asal tetap ada makna.”

Ketika saya melangkah keluar dari kelas, terdengar beberapa siswa masih bercanda, menirukan gaya saya saat bilang “ngemil bareng.” Saya tersenyum pelan. Di tengah panasnya siang, ada rasa sejuk yang tumbuh di hati saya. Sebuah rasa bahagia yang tak bisa diukur dengan apapun  bahagia karena telah melihat anak-anak belajar dengan tawa.

Sejak hari itu, setiap kali mereka melihat snack seperti Mak Cabe atau Energen, selalu saja ada yang berkata, “Bu, kapan kita ngemil bareng lagi?” Saya hanya tertawa kecil. “Nanti kalau kalian siap… kita lanjut cemilan bab berikutnya.”

Cepu, 20 Oktober 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar