Senin, 25 Agustus 2025

Tiga "S" di kelas 8F

Karya: Gutamining Saida

Hari ini saya mendapat jadwal mengajar IPS di kelas 8F pada jam terakhir. Seperti biasa, saya sudah menyiapkan materi dengan matang, yaitu tentang iklim dan cuaca. Materi ini sebenarnya sudah pernah mereka dengar di kelas sebelumnya, tetapi kali ini saya ingin memperdalam pemahaman mereka tentang perbedaan, faktor, dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Saat saya masuk ke kelas, suasana masih cukup segar. Anak-anak menyambut dengan salam dan senyum, lalu duduk rapi menyiapkan buku. Saya membuka pelajaran dengan tanya jawab singkat tentang perbedaan cuaca dan iklim. Ada beberapa siswa yang menjawab dengan tepat, ada juga yang masih keliru sehingga menjadi kesempatan saya untuk meluruskan.

Pelajaran berjalan lancar, saya menjelaskan bahwa cuaca adalah keadaan udara pada waktu singkat  dan tempat tertentu, sedangkan iklim adalah rata-rata cuaca dalam jangka waktu lama dan tempat yang luas. Saya beri contoh bahwa pagi hari bisa cerah, siang mendung, sore hujan, itulah cuaca. Tetapi Indonesia secara umum memiliki iklim tropis karena terletak di sekitar garis khatulistiwa.

Awalnya mereka memperhatikan dengan baik. Namun seiring waktu, apalagi karena ini jam terakhir, saya mulai melihat tanda-tanda kelelahan. Ada yang merebahkan tubuh di meja, ada yang bersandar sambil meletakkan kepala di atas tangan, bahkan ada yang terang-terangan berkata, “Bu, saya sudah mulai ngantuk…” Saya tersenyum melihat tingkah mereka, maklum, jam terakhir memang sering membuat siswa kurang bersemangat.

Tiba-tiba Rifki sang ketua kelas, mengangkat tangan dan memanggil saya, “Bu, bu… kita ice breaking dulu biar nggak ngantuk.” Saya berhenti sejenak, menatap kelas, lalu tersenyum. “Ada benarnya juga ya,” jawab saya. Sontak beberapa siswa langsung bersorak kecil, seolah sudah menantikan permainan yang bisa menyegarkan suasana.

Saya kemudian berkata, “Oke, kita lakukan ice breaking 3 S.” Rifki dengan semangat menyahut, “Iya bu… 3 S itu Salam, Sapa, Salim, kan?” Anak-anak lain tertawa mendengar jawabannya. Saya menggeleng dan menjawab singkat, “Tidak, bukan itu.” Mereka semakin penasaran.

Saya pun menjelaskan, “S pertama yaitu Sikut. Kalian pegang sikut teman di sebelah kalian.” Spontan mereka bergerak, ada yang langsung meraih sikut temannya dengan cepat, ada yang bingung karena duduk sendirian, sampai-sampai pindah kursi demi bisa ikut. Suasana kelas langsung ramai dengan tawa dan kegembiraan.

Kemudian saya lanjutkan, “S kedua yaitu Sakit. Kalian pegang perut seakan-akan sakit perut.” Hampir seluruh siswa menunduk sambil meringis pura-pura kesakitan. Ada yang bahkan sampai menambah suara, “Aduh, aduh, perutku sakit sekali, Bu…” Kelas pun pecah dengan gelak tawa. Di tengah keriuhan, Monica tiba-tiba mengangkat suara, “Bu, bu… pegang kepala aja sambil geleng-geleng, kayak orang pusing.” Saya pun tertawa dan berkata, “Ooo boleh, usul diterima ya Monica.” Anak-anak bertepuk tangan setuju.

Lalu saya menutup dengan instruksi terakhir, “S ketiga yaitu Sikat. Kalian ambil pulpen di meja masing-masing, lalu berebut dengan teman di sebelah kalian.” Dengan semangat mereka mengacungkan pulpen masing-masing. Ada yang cepat sekali merebut, ada yang sengaja pura-pura kalah, ada yang penggarisnya patah menjadi dua dan ada pula yang tertawa terpingkal-pingkal karena terjatuh pulpen dari tangannya.

“Ya, Bu…” jawab mereka kompak, tanda siap mengikuti aturan permainan. Saya memastikan semua sudah paham, lalu memulai putaran pertama. Dengan wajah penuh senyum, mereka mengikuti setiap instruksi. Saya lihat tidak ada yang keliru, karena mereka khawatir jika salah akan saya suruh maju ke depan. Saya sengaja memberi sedikit tantangan itu agar mereka fokus dan benar-benar konsentrasi.

Permainan saya ulang untuk putaran kedua. Hasilnya tetap sama yaitu semua siswa mengikuti dengan baik, tidak ada yang salah. Mereka tampak puas dan senang. Suasana kelas yang tadinya lesu kini berubah menjadi cerah dan penuh semangat. Saya pun merasa bahagia melihat perubahan itu.

Setelah selesai dua putaran, saya katakan, “Cukup ya, sekarang kita kembali belajar.” Mereka menjawab dengan serempak, “Siap, Bu!” Saya kemudian melanjutkan materi tentang manfaat iklim dalam kehidupan. Saya jelaskan bagaimana iklim tropis di Indonesia membuat petani bisa menanam padi dua sampai tiga kali setahun, bagaimana iklim memengaruhi jenis tanaman, perikanan, hingga kegiatan pariwisata.

Anak-anak mendengarkan dengan lebih fokus. Beberapa bahkan mengajukan pertanyaan. Ada yang bertanya tentang dampak perubahan iklim, ada juga yang mengaitkan dengan pengalaman di rumah masing-masing. Saya merasa pembelajaran jadi lebih hidup setelah adanya ice breaking tadi.

Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat. Tiba-tiba terdengar pengumuman dari pengeras suara yaitu siswa diminta untuk mengambil jatah MBG (Makan Bergizi Gratis). Suara itu menandakan bahwa pelajaran kami sudah hampir selesai. Saya pun segera menutup pembahasan dengan kesimpulan, lalu mengajak siswa mengucapkan salam penutup.

Mereka menjawab dengan kompak, kemudian petugas segera bersiap untuk keluar kelas mengambil jatah MBG. Saya tersenyum puas. Meski sempat lesu di jam terakhir, akhirnya pelajaran bisa berjalan menyenangkan. Saya pun belajar bahwa terkadang hal sederhana seperti ice breaking bisa mengembalikan energi siswa dan membuat pembelajaran lebih bermakna.

Saya yakin anak-anak tidak hanya belajar tentang cuaca dan iklim, tetapi juga mengalami sendiri bagaimana suasana kelas bisa berubah menjadi lebih semangat hanya dengan sedikit permainan. Itu adalah pengalaman berharga, baik bagi saya sebagai guru maupun bagi mereka sebagai siswa.

Cepu, 24 Agustus 2025

 


 

3 komentar: