Hari ini saya mendapat jadwal
mengajar IPS di kelas 8F pada jam terakhir. Seperti biasa, saya sudah
menyiapkan materi dengan matang, yaitu tentang iklim dan cuaca. Materi ini
sebenarnya sudah pernah mereka dengar di kelas sebelumnya, tetapi kali ini saya
ingin memperdalam pemahaman mereka tentang perbedaan, faktor, dan manfaatnya
dalam kehidupan sehari-hari.
Saat saya masuk ke kelas, suasana
masih cukup segar. Anak-anak menyambut dengan salam dan senyum, lalu duduk rapi
menyiapkan buku. Saya membuka pelajaran dengan tanya jawab singkat tentang
perbedaan cuaca dan iklim. Ada beberapa siswa yang menjawab dengan tepat, ada
juga yang masih keliru sehingga menjadi kesempatan saya untuk meluruskan.
Pelajaran berjalan lancar, saya
menjelaskan bahwa cuaca adalah keadaan udara pada waktu singkat dan tempat tertentu, sedangkan iklim adalah
rata-rata cuaca dalam jangka waktu lama dan tempat yang luas. Saya beri contoh
bahwa pagi hari bisa cerah, siang mendung, sore hujan, itulah cuaca. Tetapi
Indonesia secara umum memiliki iklim tropis karena terletak di sekitar garis
khatulistiwa.
Awalnya mereka memperhatikan
dengan baik. Namun seiring waktu, apalagi karena ini jam terakhir, saya mulai
melihat tanda-tanda kelelahan. Ada yang merebahkan tubuh di meja, ada yang
bersandar sambil meletakkan kepala di atas tangan, bahkan ada yang terang-terangan
berkata, “Bu, saya sudah mulai ngantuk…” Saya tersenyum melihat tingkah mereka,
maklum, jam terakhir memang sering membuat siswa kurang bersemangat.
Tiba-tiba Rifki sang ketua kelas,
mengangkat tangan dan memanggil saya, “Bu, bu… kita ice breaking dulu biar
nggak ngantuk.” Saya berhenti sejenak, menatap kelas, lalu tersenyum. “Ada
benarnya juga ya,” jawab saya. Sontak beberapa siswa langsung bersorak kecil,
seolah sudah menantikan permainan yang bisa menyegarkan suasana.
Saya kemudian berkata, “Oke, kita
lakukan ice breaking 3 S.” Rifki dengan semangat menyahut, “Iya bu… 3 S itu
Salam, Sapa, Salim, kan?” Anak-anak lain tertawa mendengar jawabannya. Saya
menggeleng dan menjawab singkat, “Tidak, bukan itu.” Mereka semakin penasaran.
Saya pun menjelaskan, “S pertama
yaitu Sikut. Kalian pegang sikut teman di sebelah kalian.” Spontan
mereka bergerak, ada yang langsung meraih sikut temannya dengan cepat, ada yang
bingung karena duduk sendirian, sampai-sampai pindah kursi demi bisa ikut.
Suasana kelas langsung ramai dengan tawa dan kegembiraan.
Kemudian saya lanjutkan, “S kedua
yaitu Sakit. Kalian pegang perut seakan-akan sakit perut.” Hampir
seluruh siswa menunduk sambil meringis pura-pura kesakitan. Ada yang bahkan
sampai menambah suara, “Aduh, aduh, perutku sakit sekali, Bu…” Kelas pun pecah
dengan gelak tawa. Di tengah keriuhan, Monica tiba-tiba mengangkat suara, “Bu,
bu… pegang kepala aja sambil geleng-geleng, kayak orang pusing.” Saya pun
tertawa dan berkata, “Ooo boleh, usul diterima ya Monica.” Anak-anak bertepuk
tangan setuju.
Lalu saya menutup dengan
instruksi terakhir, “S ketiga yaitu Sikat. Kalian ambil pulpen di meja
masing-masing, lalu berebut dengan teman di sebelah kalian.” Dengan semangat
mereka mengacungkan pulpen masing-masing. Ada yang cepat sekali merebut, ada
yang sengaja pura-pura kalah, ada yang penggarisnya patah menjadi dua dan ada
pula yang tertawa terpingkal-pingkal karena terjatuh pulpen dari tangannya.
“Ya, Bu…” jawab mereka kompak,
tanda siap mengikuti aturan permainan. Saya memastikan semua sudah paham, lalu
memulai putaran pertama. Dengan wajah penuh senyum, mereka mengikuti setiap
instruksi. Saya lihat tidak ada yang keliru, karena mereka khawatir jika salah
akan saya suruh maju ke depan. Saya sengaja memberi sedikit tantangan itu agar
mereka fokus dan benar-benar konsentrasi.
Permainan saya ulang untuk
putaran kedua. Hasilnya tetap sama yaitu semua siswa mengikuti dengan baik,
tidak ada yang salah. Mereka tampak puas dan senang. Suasana kelas yang tadinya
lesu kini berubah menjadi cerah dan penuh semangat. Saya pun merasa bahagia
melihat perubahan itu.
Setelah selesai dua putaran, saya
katakan, “Cukup ya, sekarang kita kembali belajar.” Mereka menjawab dengan
serempak, “Siap, Bu!” Saya kemudian melanjutkan materi tentang manfaat iklim
dalam kehidupan. Saya jelaskan bagaimana iklim tropis di Indonesia membuat
petani bisa menanam padi dua sampai tiga kali setahun, bagaimana iklim
memengaruhi jenis tanaman, perikanan, hingga kegiatan pariwisata.
Anak-anak mendengarkan dengan
lebih fokus. Beberapa bahkan mengajukan pertanyaan. Ada yang bertanya tentang
dampak perubahan iklim, ada juga yang mengaitkan dengan pengalaman di rumah
masing-masing. Saya merasa pembelajaran jadi lebih hidup setelah adanya ice
breaking tadi.
Tidak terasa waktu berlalu dengan
cepat. Tiba-tiba terdengar pengumuman dari pengeras suara yaitu siswa diminta untuk mengambil jatah MBG
(Makan Bergizi Gratis). Suara itu menandakan bahwa pelajaran kami sudah
hampir selesai. Saya pun segera menutup pembahasan dengan kesimpulan, lalu
mengajak siswa mengucapkan salam penutup.
Mereka menjawab dengan kompak,
kemudian petugas segera bersiap untuk keluar kelas mengambil jatah MBG. Saya
tersenyum puas. Meski sempat lesu di jam terakhir, akhirnya pelajaran bisa
berjalan menyenangkan. Saya pun belajar bahwa terkadang hal sederhana seperti
ice breaking bisa mengembalikan energi siswa dan membuat pembelajaran lebih
bermakna.
Saya yakin anak-anak tidak hanya
belajar tentang cuaca dan iklim, tetapi juga mengalami sendiri bagaimana
suasana kelas bisa berubah menjadi lebih semangat hanya dengan sedikit
permainan. Itu adalah pengalaman berharga, baik bagi saya sebagai guru maupun
bagi mereka sebagai siswa.
Cepu, 24 Agustus 2025
seruu buu critanya sering' buatt critaa di 8f ya Buuđź’—
BalasHapusboleh
BalasHapusSering-sering buat cerita Bu Saidađź’ž
BalasHapus