Minggu, 17 Agustus 2025

Pilihan Yang Sulit

Karya : Gutamining Saida 
Siang itu, tepat setelah jam istirahat kedua, matahari terasa terik menembus kaca jendela kelas 7F. Saya melangkah ke dalam kelas dengan membawa setumpuk semangat meski saya tahu, kelas ini berbeda dengan kelas lain. Tidak selalu mudah, tapi selalu ada kejutan yang membuat situasi berwarna.

Kali ini saya akan membahas materi IPS tentang permukaan bumi. Sebelum masuk ke inti pelajaran, saya sengaja memberi pertanyaan pemantik.

"Anak-anak, bagaimana bentuk bumi?" tanya saya sambil menatap ke seluruh penjuru kelas.

Tanpa ragu, mereka menjawab serempak, "Bulaaaat  bu!"
Saya tersenyum, “Betul sekali!”

Kemudian saya lanjutkan, "Kalau permukaan bumi, bagaimana?"
Belum sempat ada yang menjawab, saya menambahkan instruksi, "Sebelum menjawab, coba kalian raba wajah masing-masing."

Beberapa siswa langsung memegang pipinya, ada yang memegang hidung, dahi dan ada pula yang menatap temannya sambil tertawa.

"Nah, seperti itu permukaan bumi. Ada yang menonjol, ada yang cekung, ada yang berlobang, dan lain sebagainya," ucap saya. "Di permukaan bumi ada gunung, pegunungan, bukit, lembah, dan sebagainya."

Untuk memastikan mereka benar-benar memperhatikan, saya menunjuk satu per satu. “Fahri, bagaimana wajah kamu kalau diraba?”

Fahri, dengan ekspresi santai, mengelus janggut tipisnya sambil berkata, “B aja, Bu,” jari-jarinya dilengkungkan seolah sedang memegang sesuatu yang sangat penting.

Saya sempat terdiam. “B aja” ini maksudnya apa? Tidak ingin mengira-ngira sendiri, saya melangkah ke salah satu siswa perempuan untuk meminta penjelasan.

“B aja itu maksudnya biasa aja, Bu,” jawabnya sambil terkikik.

“Oooo…” saya mengangguk-angguk, mencoba terlihat paham, meski dalam hati saya berpikir, “Generasi sekarang ini memang aneh-aneh. Kadang saya tidak bisa langsung mengerti bahasa mereka.”

Lalu saya menoleh ke arah Syafa. “Kalau kamu, Syafa, bagaimana?” tanya saya dengan nada santai.

Syafa tersenyum tipis, lalu dengan percaya diri menjawab, “Kalau wajah saya..... Ini pilihan yang sulit bu!"

Kelas langsung pecah dengan tawa. Saya sempat terkejut, bahkan agak bingung harus merespons bagaimana. Dalam hati saya bergumam,  antara mau menanggapi serius sebagai jawaban ilmiah, atau ikut tertawa bersama yang lain.

Akhirnya saya hanya bisa tersenyum sambil berkata, “Ya, betul juga. Permukaan bumi memang ada yang halus dan kasar… Syafa.”

Jawaban Syafa itu membuat saya sadar, bahwa kadang pertanyaan sederhana bisa melahirkan jawaban tak terduga. Mereka menjawab dengan polos, tapi justru dari situlah suasana kelas jadi hidup.

Setelah tawa mereda, saya beralih ke Arya, siswa yang rumahnya di Megal. Arya ini punya pembawaan yang khas. Selalu tersenyum, jarang terlihat marah, dan kalau diberi tugas menggambar atau membuat peta, ia selalu punya cara unik menyelesaikannya.

“Kalau kamu, Arya, bagaimana?” tanya saya singkat.

Arya hanya tersenyum lebar, lalu dengan sigap mengambil  gambar yang barusan digambar. Tidak banyak bicara, ia mulai menggoreskan pensil. Saat saya menghampiri, ia sudah menggambar gunung kembar dengan garis-garis tegas. Lalu ia menambahkan awan di atasnya. Saya pikir, ini pemandangan alam biasa. Tapi saya terkejut ketika ia mulai menambahkan gambar orang tawuran di kaki gunung, lengkap dengan dua kelompok yang saling berhadapan.

Tidak berhenti di situ, Arya menambahkan sungai yang mengalir dari sela gunung, lalu hutan di sisi kanan. Semua tergambar jelas, dengan warna-warna yang ia ambil dari kotak pensilnya.

“Bagus… bagus sekali, Arya,” kata saya sambil menahan tawa. Gaya berpikirnya memang di luar dugaan. Dalam imajinasinya, gunung tidak hanya tentang alam, tapi juga bisa menjadi latar kejadian manusia.

Kelas pun menjadi lebih hidup. Siswa-siswa lain mulai penasaran dengan gambar Arya, sebagian meniru, sebagian malah menambahkan hal-hal kocak seperti bendera one pisces di atas awan atau perahu di puncak gunung.

Di tengah-tengah pembelajaran, saya menyadari bahwa anak-anak seperti Syafa, Fahri, dan Arya mengajarkan saya satu hal penting yaitu metode belajar tidak selalu harus kaku. Kadang kita perlu masuk ke dunia mereka, memahami bahasa, canda, dan imajinasi mereka. Bahkan ketika mereka menjawab “B aja,” mengibaratkan wajah seperti bantal, atau menggambar gunung kembar dengan adegan tawuran itu semua adalah bentuk ekspresi yang jujur dari pikiran mereka.

Waktu belajar hampir habis. Saya menutup pelajaran dengan mengingatkan, “Permukaan bumi itu beragam, sama seperti wajah kalian yang unik. Ada yang halus, ada yang berbintik, ada yang penuh senyum seperti Arya, ada yang penuh gaya seperti Fahri, dan ada yang selembut bantal.”

Saat bel pulang berbunyi, Arya menghampiri saya sambil berkata, “Bu, gunungnya nanti saya warnai di rumah, biar lebih hidup.” Saya mengangguk sambil tersenyum. Dalam hati saya merasa lega meski kelas 7F punya tantangan tersendiri, selalu ada momen yang membuat saya bersyukur berada di depan mereka.

Materi tentang permukaan bumi telah tersampaikan, tapi yang lebih penting, saya membawa pulang cerita unik tentang gunung kembar, generasi B aja, pilihan sulit dari Syafa, dan imajinasi tak terbatas di kelas 7F. Semoga menginspirasi. 
Cepu, 17 Agustus 2025 



1 komentar: