Senin, 06 April 2026

Halal Bihalal


Karya: Gutamining Saida

Sore itu langit tampak teduh, seolah ikut merestui langkah-langkah kecil kami menuju sebuah kebersamaan yang penuh makna. Saya melangkah menuju Bumool dengan hati yang ringan, meski tubuh terasa lelah setelah aktivitas seharian. Ada rasa rindu yang mengalir, bukan hanya pada air kolam yang menenangkan. Tetapi juga pada kebersamaan dengan teman-teman komunitas terapi, renang yang selalu menghadirkan energi positif.

Kegiatan sore itu diawali dengan renang dan terapi, seperti biasanya. Air menjadi sahabat yang setia, memeluk tubuh kami dengan kesejukan yang tak hanya menyentuh raga, tetapi juga jiwa. Setiap gerakan di dalam air terasa seperti pelepasan beban, seakan segala penat, lelah, dan pikiran yang mengganjal ikut larut bersama riak-riak kecil yang tercipta.

Di sela terapi, saya merenung. Betapa nikmat sehat itu seringkali baru terasa ketika kita hampir kehilangannya. Padahal, setiap helaan napas, setiap gerak tubuh, adalah anugerah yang tak ternilai dari Allah Subhanahu Wata'alla. Dalam doa terucap, “Ya Allah, terima kasih atas tubuh yang masih Engkau kuatkan, atas kesempatan untuk terus memperbaiki diri.”

Setelah sesi renang dan terapi selesai, kami tidak langsung pulang. Tanpa mandi dan tanpa berganti pakaian, kami bergegas menuju tempat yang telah disiapkan untuk acara berikutnya yaitu halal bihalal. Mungkin secara penampilan kami sederhana, bahkan masih basah dan bercampur aroma air kolam, tetapi di situlah letak keindahannya, kebersamaannya, kejujuran, kebersahajaan, dan ketulusan.

Di hadapan kami telah tersaji nasi tumpeng yang tertata rapi. Kuningnya nasi seakan melambangkan harapan dan doa, sementara lauk-pauknya mengingatkan bahwa kehidupan terdiri dari berbagai rasa . Lauknya terdiri dari mie goreng, urab sayuran, sambal goreng kentang, telur gulung, ayam. Semua itu ada manis, asin, gurih, bahkan pedas yang semuanya harus disyukuri.

Sebelum acara makan dimulai, Pak Gun, sebagai pelatih sekaligus sosok yang kami tuakan, diminta untuk memimpin doa. Kami semua hening. Suasana yang tadinya riuh perlahan berubah menjadi khidmat. Tangan-tangan terangkat, kepala tertunduk, dan hati pun mulai berbicara kepada Sang Pencipta.

Doa yang dipanjatkan terasa begitu dalam. Bukan hanya sekadar rangkaian kata, tetapi sebuah pengakuan bahwa kami adalah hamba yang lemah, yang selalu membutuhkan pertolongan-Nya. Dalam doa, terselip harapan agar kami diberikan kesehatan, keselamatan, keberkahan umur, serta keikhlasan dalam menjalani kehidupan.

Saya merasakan getaran haru. Di tengah kesederhanaan acara ini, ada nilai yang begitu tinggi silaturahmi yang terjalin karena Allah Subhanahu Wata'alla, kebersamaan yang dilandasi niat untuk saling menguatkan dalam kebaikan.

Setelah doa selesai, tibalah saat yang dinantikan. Sebagai bentuk penghormatan, pemotongan tumpeng diserahkan kepada Pak Gun. Dengan penuh rasa syukur dan kerendahan hati, beliau memotong bagian puncak tumpeng, sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan.

Kami semua tersenyum. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan. Semua duduk bersama, menikmati hidangan yang ada. Suasana hangat begitu terasa. Canda tawa mengalir, namun tetap dibalut rasa syukur yang mendalam.

Saat menikmati makanan, saya kembali merenung. Betapa indahnya hidup ini jika dijalani dengan hati yang penuh syukur. Makanan yang mungkin sederhana terasa begitu nikmat karena dimakan bersama orang-orang yang saling peduli.

Halal bihalal bukan sekadar tradisi. Ia adalah momen untuk membersihkan hati, saling memaafkan, dan mempererat tali persaudaraan. Dalam Islam, menjaga silaturahmi adalah salah satu amalan yang memiliki keutamaan besar. Bahkan Rasulullah SAW mengajarkan bahwa silaturahmi dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki.

Saya memandang teman-teman di sekitar. Mereka bukan hanya teman berenang, tetapi juga sahabat dalam perjalanan menjaga kesehatan dan keimanan. Kami saling mengingatkan, saling menyemangati, dan saling mendoakan.

Di tengah kebersamaan itu, saya menyadari satu hal yaitu sehat bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang hati yang tenang dan pikiran yang damai. Kebahagiaan sejati hadir ketika kita bisa berbagi, tersenyum, dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.

Alhamdulillah, sore itu menjadi pengingat bahwa hidup ini bukan hanya tentang mengejar dunia, tetapi juga tentang memperbaiki hubungan dengan sesama dan dengan Sang Pencipta. Komunitas kecil ini menjadi ladang amal, tempat kami belajar arti kebersamaan dan keikhlasan.

Semoga langkah kecil kami ini bernilai ibadah. Semoga setiap tawa yang terucap menjadi sedekah. Semoga setiap kebersamaan yang terjalin menjadi jalan menuju ridha Allah Subhanahu Wata'alla. Sehat dan bahagia bukan sekadar harapan, tetapi ikhtiar yang harus dijaga. Karena dengan tubuh yang sehat dan hati yang bahagia, kita bisa terus berbuat baik, memberi manfaat, dan menjadi pribadi yang lebih bermakna bagi lingkungan sekitar.

Sore itu pun berakhir dengan rasa syukur yang tak terhingga. Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, jika Engkau izinkan, pertemukan kami kembali dalam kebersamaan yang lebih indah, dengan iman yang lebih kuat, dan hati yang lebih bersih.” Aamiin

Cepu, 6 April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar