Kamis, 05 Februari 2026

Roti Sisir


Karya: Gutamining Saida

Roti sisir. Hanya dua kata, tetapi ketika saya mengucapkannya, ingatan saya seketika berlari jauh ke masa kecil. Sebuah masa yang sederhana, apa adanya, dan jauh dari hiruk-pikuk pilihan seperti hari ini. Pada masa itu, roti sisir adalah satu-satunya roti yang saya kenal sebagai roti terenak. Tidak ada roti lain yang menyainginya, baik dari rasa maupun bentuknya. Roti sederhana, tetapi begitu istimewa.

Waktu kecil, roti bukanlah makanan yang bisa kami nikmati setiap hari. Roti adalah sesuatu yang datang pada waktu-waktu tertentu, biasanya saat ada acara, saat orang tua pulang dari bepergian, atau saat ada rezeki lebih. Tidak ada toko yang etalase penuh roti berwarna-warni seperti sekarang. Tidak ada pilihan rasa cokelat, keju, stroberi, apalagi matcha atau tiramisu. Yang ada hanyalah roti sisir roti panjang berwarna cokelat keemasan, dengan belahan-belahannya yang khas, seperti disisir rapi dari ujung ke ujung.

Roti sisir selalu dibungkus plastik bening sederhana. Saat dibuka, aroma manisnya langsung menyeruak. Bukan aroma yang kuat, tetapi lembut dan menenangkan. Kesederhanaan itulah yang membuatnya begitu nikmat. Setiap gigitan terasa pas, tidak berlebihan, tidak pula mengecewakan.

Saya masih ingat bagaimana cara kami menikmati roti sisir. Roti itu jarang langsung habis dalam sekali makan. Orang tua akan membaginya dengan hati-hati. Setiap sisir dipisahkan satu per satu, dibagikan kepada anak-anak dengan adil. Tidak ada yang protes, tidak ada yang berebut. Kami belajar menikmati apa yang ada, sekecil apa pun porsinya. Makan roti sisir bukan sekadar mengisi perut, tetapi menjadi momen kebersamaan yang hangat.

Waktu berlalu. Dunia berubah. Saya tumbuh sampai menua hari ini. Pilihan makanan semakin banyak. Toko-toko roti bermunculan di mana-mana. Etalase penuh dengan aneka bentuk dan rasa. Roti dengan topping melimpah, roti berlapis krim, roti impor dengan harga yang tidak murah, hingga camilan modern yang tampilannya menggoda. Kini, ratusan bahkan ribuan jenis roti dan snack bisa diperoleh dengan mudah, asal memiliki uang.

Kemarin, saat saya masuk ke sebuah toko, mata saya tertumbuk pada sesuatu yang terasa tidak asing sekaligus akrab. Di antara roti-roti modern itu, saya melihat roti sisir. Bentuknya hampir sama seperti yang dulu saya kenal. Seketika, ingatan saya melayang ke masa lalu. Ke dapur kecil di rumah, ke wajah orang tua, almarhum bapak. Suasana sederhana kami saat menikmati roti bersama.

Tanpa banyak berpikir, saya membelinya. Ada rasa penasaran yang kuat. Apakah roti sisir itu masih seenak waktu dulu? Atau jangan-jangan, rasa enaknya hanya tinggal dalam ingatan, dibungkus nostalgia masa kecil? Sesampainya di rumah, saya membuka bungkusnya perlahan. Aromanya tidak jauh berbeda. Masih ada wangi manis yang familiar. Saya memisahkan satu sisir, lalu menggigitnya. Rasanya…tidak berbeda, sama. Berbeda karena lidah saya kini telah terbiasa dengan banyak rasa, banyak pilihan, dan banyak kemewahan. Sama karena ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan, rasa yang membawa kembali kenangan lama.

Saat itu saya menyadari sesuatu. Yang membuat roti sisir dulu terasa sangat enak bukan semata rasanya, tetapi suasananya. Keterbatasan membuat segalanya terasa istimewa. Pilihan yang sedikit membuat kami belajar bersyukur. Makan roti bukan soal kenyang, tetapi soal rasa cukup.

Berbeda dengan sekarang. Makanan mudah didapat. Pilihan melimpah. Sering kali, rasa puas justru sulit ditemukan. Kita makan banyak, mencoba berbagai rasa, tetapi tetap merasa ada yang kurang. Barangkali karena yang berkurang bukan makanannya, melainkan rasa syukur pada Sang Pencipta

Roti sisir mengajarkan saya tentang waktu. Tentang bagaimana masa kecil membentuk cara kita memandang kebahagiaan. Tentang betapa sederhana hidup dulu, tetapi penuh makna. Kami tidak punya banyak pilihan, tetapi kami menikmati apa yang ada. Kami menunggu waktu-waktu tertentu untuk bisa makan roti, dan penantian itu membuat rasanya semakin berharga.

Kini, ketika saya bisa membeli roti kapan saja, rasa itu tidak lagi sama. Bukan karena rotinya berubah, tetapi karena hidup saya telah berubah. Di situlah pelajaran yang kita dapatkan. Bahwa kebahagiaan sejati sering kali tersembunyi dalam kesederhanaan yang pernah kita jalani.

Roti sisir hari ini menjadi pengingat bagi saya. Pengingat bahwa tidak semua yang dulu sederhana itu kalah oleh zaman. Beberapa di antaranya justru menang karena maknanya. Ia mengingatkan saya untuk sesekali melambat, mengenang, dan bersyukur. Mengingat masa lalu bukan untuk meratapi kekurangan, tetapi untuk menghargai perjalanan.

Roti sisir mungkin kini hanya salah satu dari ribuan pilihan roti di pasaran. Tetapi bagi saya, ia tetap istimewa. Bukan sekadar roti. Ia adalah kenangan, pelajaran, dan pengingat bahwa hidup tidak selalu harus penuh pilihan untuk bisa terasa nikmat. Kadang, satu roti sederhana, dinikmati dengan hati yang bersyukur, jauh lebih bermakna daripada segala kemewahan yang tersedia.

Cepu, 6 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar