Selasa, 17 Februari 2026

Permaianan Tali Ukhuwah



Karya : Gutamining Saida 

Pesantren Ramadhan di Diniyah masjid Al Mujahidin Balun menjadi momen yang dinanti. Suasananya berbeda dari hari-hari biasa, tetapi karena di dalamnya ada sentuhan ruhani yang lebih terasa. Sejak pagi, anak-anak sudah datang. Sebagian membawa buku catatan kecil untuk mencatat materi. Saya ikut bangga melihat semangat mereka.

Saya meyakini bahwa belajar tidak harus selalu dengan ceramah panjang. Dalam suasana menyambut Ramadhan, justru nilai-nilai kebersamaan dan ukhuwah perlu ditanamkan melalui pengalaman yang menyentuh hati. Maka dirancang sebuah permainan sederhana yaitu membuat tali ukhuwah dari satu lembar kertas HVS.

Satu kelompok terdiri dari tiga anak. Seluruhnya ada sepuluh kelompok. Setiap kelompok diberi satu lembar kertas HVS yang sama ukuran, warna sama, tanpa perbedaan. Salah satu ustadah mengatakan bahwa: “Anak-anak, hidup ini seperti kertas. Terlihat sederhana, tipis, dan mudah sobek. Jika kita tahu caranya, sesuatu yang sederhana bisa menjadi kuat dan panjang manfaatnya.”

Mereka mulai memperhatikan dengan saksama. Ustadah Dewi melanjutkan penjelasan, bahwa setiap kelompok harus menyobek kertas tersebut kira-kira satu sentimeter secara memutar, tanpa terputus, hingga membentuk tali panjang. Tali itu harus cukup untuk mengelilingi seluruh anggota kelompoknya.

Awalnya terdengar mudah. Ketika praktik dimulai, barulah terlihat tantangannya. Ada yang terlalu lebar menyobek sehingga cepat habis. Ada yang terlalu sempit hingga mudah putus. Ada pula yang terlalu terburu-buru sehingga tali terputus di tengah jalan.

Di sinilah pelajaran pertama muncul yaitu kesabaran. Saya teringat firman Allah dalam QS. Al-‘Ashr, bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran. Permainan ini seperti miniatur kehidupan. Jika ingin berhasil, mereka harus saling menasihati dan sabar satu sama lain.

Beberapa kelompok mulai berdiskusi serius. “Pelan-pelan saja, jangan ditarik keras,” ujar salah satu anak. “Kita gantian ya, biar tidak capek,” sahut yang lain.

Ada kelompok yang sempat berselisih kecil karena merasa temannya kurang hati-hati. Saya mendekat dan berkata lembut, “Dalam ukhuwah, yang diuji bukan hanya kekompakan, tapi juga kelapangan dada.”

Ramadhan memang bulan latihan. Latihan menahan lapar, menahan emosi, dan menahan ego. Saya melihat bagaimana permainan sederhana ini perlahan mengikis sifat ingin menang sendiri. Mereka mulai belajar mendengar dan menghargai.

Beberapa menit kemudian terdengar sorakan kecil. “Bu, sudah jadi!”

Kelompok pertama yang berhasil adalah Arum, Salam, dan Merisa. Wajah mereka berseri-seri. Dengan hati-hati mereka membuka lingkaran tali kertas itu dan mengelilingkannya pada tubuh mereka bertiga. Ternyata cukup! Anak-anak lain bertepuk tangan. Saya tersenyum bangga.

Tak lama kemudian, kelompok kedua menyusul yaitu Destin, Rania, dan Lisa. Mereka tampak lebih tenang sejak awal, bekerja rapi dan teratur. Tali mereka pun terbentuk dengan baik dan cukup panjang untuk melingkari ketiganya.

Kelompok ketiga adalah Zaki, Alfin, dan Alma. Mereka sempat hampir menyerah karena tali mereka sempat terputus. Namun mereka tidak putus asa. Dengan penuh ketelitian, mereka menyambung kembali dari bagian yang tersisa dan akhirnya berhasil.

Sebagian kelompok belum berhasil membuat tali yang cukup panjang. Ustadah Dewi tegaskan, dalam ukhuwah tidak ada yang kalah. Semua telah belajar. Selanjutnya Ustadah Dewi mengangkat satu tali kertas dan berkata, “Anak-anak, lihatlah. Kertas ini tipis dan mudah sobek. Tapi ketika kita menyobeknya dengan strategi dan kesabaran, ia bisa menjadi panjang dan mengikat kita bersama. Begitulah ukhuwah Islamiyah. Kita ini manusia yang lemah. Jika sendiri, mudah goyah. Jika bersatu, kita menjadi kuat.”

Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan. Permainan itu ternyata menjadi cermin. Kelompok yang sabar dan saling mendukung berhasil. Kelompok yang tergesa-gesa dan kurang kompak mengalami kesulitan. Semua mendapat pelajaran tanpa merasa digurui.

“Karena dalam Islam, kita diajarkan berjamaah. Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendiri. Puasa pun terasa ringan jika kita saling menyemangati. Bahkan surga pun digambarkan sebagai tempat berkumpulnya orang-orang beriman.”

Ramadhan memang waktu terbaik untuk menanamkan nilai. Anak-anak tidak hanya mendengar materi tetapi merasakannya. Mereka mengalami sendiri bagaimana rasanya bekerja sama, menahan emosi, dan berbagi peran. “Semoga hati kalian terikat bukan hanya oleh kertas ini,” saya berkata pelan, “tetapi oleh iman dan takwa. Semoga persahabatan kalian bukan hanya sampai di kelas ini, tetapi sampai Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan kita kembali di surga-Nya.” Diantara sobekan-sobekan kertas yang tipis itu, saya melihat terjalinnya benang-benang ukhuwah yang semoga kelak menjadi tali yang mengikat mereka dalam kebaikan, dunia dan akhirat. Aamiin

Cepu, 18 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar