Selasa, 17 Februari 2026

Napak Tilas di Kota Cepu



Karya : Gutamining Saida 

Napak tilas kaum Tionghoa. Awalnya saya pun bertanya dalam hati, apa itu sebenarnya? Napak tilas berarti menelusuri jejak sejarah, menyusuri kembali perjalanan masa lalu untuk memahami siapa hari ini. Sedangkan kaum Tionghoa adalah bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia, yang kisahnya telah terukir sejak ratusan tahun silam.

Sebagai guru IPS, hati saya selalu tertarik ketika mendengar kata sejarah. Sejarah bukan sekadar deretan tahun dan peristiwa, tetapi kisah manusia dengan segala perjuangan, air mata, doa, dan harapan. Ketika komunitas sejarah mengadakan kegiatan napak tilas jejak Tionghoa di kota Cepu, saya merasa terpanggil. Kesempatan tidak datang dua kali. Kebetulan pula hari itu bertepatan dengan hari libur. Saya yakin, ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari rencana Allah Subhanahu Wata'alla agar saya belajar dari sudut pandang yang lebih luas.

Perjalanan napak tilas itu dimulai dari kawasan Masjid Jami Cepu terus menuju pecinan tua. Saya membayangkan bagaimana dahulu para pedagang Tionghoa datang ke Nusantara. Mereka berlayar menembus ombak, membawa barang dagangan, budaya, dan tradisi. Sejak masa kerajaan-kerajaan hingga era kolonial, komunitas Tionghoa sudah menjadi bagian penting dalam roda ekonomi dan sosial. Bahkan pada masa pergerakan nasional, banyak tokoh keturunan Tionghoa yang turut berkontribusi bagi Indonesia, seperti Liem Koen Hian yang memperjuangkan persatuan dan kebangsaan, atau Oei Tiong Ham yang dikenal sebagai pengusaha besar pada masanya.

Indonesia ini dibangun oleh banyak tangan. Tidak hanya satu suku, tidak hanya satu golongan. Sejarah Tionghoa di Indonesia juga mencatat masa-masa sulit. Tragedi dan diskriminasi pernah terjadi, termasuk peristiwa kelam pada Kerusuhan Mei 1998 yang meninggalkan luka mendalam bagi bangsa ini. Saat mendengar penjelasan dari pemandu sejarah, hati saya terasa berat. 

Sebagai orang beriman, saya percaya bahwa setiap peristiwa menyimpan hikmah. Luka sejarah seharusnya menjadi pengingat agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama. Islam mengajarkan keadilan dan kasih sayang. Rasulullah pun hidup berdampingan dengan berbagai kelompok di Madinah. Piagam Madinah menjadi bukti bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan, tetapi dasar untuk membangun kebersamaan.

Sebagai guru IPS, saya merasa mendapat “bekal ruhani” yang sangat berharga. Selama ini saya mengajarkan materi tentang keberagaman, interaksi sosial, dan dinamika masyarakat. Kali ini, saya tidak hanya membaca dari buku teks. Saya melihat langsung, menyentuh bangunan tua itu, mendengar kisah dari para pelaku sejarah, dan merasakan atmosfernya. Ilmu yang didapat dengan pengalaman langsung terasa lebih hidup dan membekas.

Saya teringat prinsip hidup saya yaitu belajar bisa dilakukan kapan saja dan kepada siapa saja. Bahkan dalam Al-Qur’an, perintah pertama yang turun adalah “Iqra” bacalah. Membaca bukan hanya huruf di atas kertas, tetapi membaca tanda-tanda zaman, membaca sejarah, membaca kehidupan. Selama napak tilas, saya merasa sedang membaca lembaran-lembaran sejarah yang Allah Subhanahu Wata'allla bentangkan.

Saya membayangkan wajah siswa-siswa saya di kelas. Kelak ketika saya menceritakan pengalaman ini, saya ingin mereka tidak hanya memahami fakta sejarah, tetapi juga menumbuhkan empati. Saya ingin mereka belajar bahwa menjadi bangsa besar berarti mampu menghargai perbedaan. Saya ingin mereka tahu bahwa Indonesia berdiri di atas fondasi keberagaman.

Kegiatan ini adalah bentuk syukur. Syukur karena diberi kesempatan hidup di zaman yang relatif damai. Syukur karena bisa belajar tanpa harus menghadapi diskriminasi seperti yang dialami sebagian orang di masa lalu. Syukur karena Allah masih memberi saya umur, kesehatan, dan kesempatan untuk terus menuntut ilmu.

Belajar adalah kewajiban manusia sejak lahir hingga liang lahat. Ilmu bukan untuk disombongkan, tetapi untuk diamalkan dan dibagikan. Saya berharap cerita ini menjadi motivasi bagi siapa pun yang membacanya, terutama siswa-siswa saya. Jangan pernah berhenti belajar. Jangan batasi diri hanya pada buku pelajaran. Datangi tempat-tempat bersejarah, dengarkan cerita orang-orang tua, bergabunglah dengan komunitas yang mencintai ilmu.

Karena sejatinya, setiap langkah napak tilas bukan hanya menelusuri jejak orang lain, tetapi juga menapaki perjalanan diri sendiri. Kita belajar memahami masa lalu agar lebih bijak melangkah ke masa depan. Dan pada akhirnya, semua perjalanan ilmu itu akan kembali kepada Allah, Sang Pemilik Sejarah yang sesungguhnya. Semoga setiap langkah kita dalam mencari ilmu dicatat sebagai ibadah. Semoga ilmu yang kita dapat menjadi cahaya, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi generasi yang kita didik. Aamiin.

Cepu, 17 Pebruai 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar