Karya: Gutamining Saida
Mengajar di kelas 7F selalu menghadirkan sesuatu yang baru, seolah setiap hari ada kejutan kecil yang tak pernah terduga. Kelas ini bukan hanya tempat berbagi ilmu, melainkan juga ruang penuh cerita yang bisa menjadi sumber ide tanpa habis. Saya merasa bersyukur, karena dari keseharian yang sederhana, selalu ada saja hal-hal kecil yang bisa diolah menjadi pengalaman berharga.
Kadang kala ide itu datang tidak menentu. Ada saat-saat ketika saya memiliki waktu luang, duduk dengan tenang, tapi tak satu pun ide melintas di kepala. Seakan semua menguap, pergi entah kemana. Tetapi anehnya, ketika saya benar-benar larut dalam aktivitas mengajar, justru dari sanalah ide bermunculan. Dari gelak tawa siswa, dari celoteh kecil di bangku belakang, dari kebersamaan yang tampak remeh tetapi menyimpan makna.
Hari itu, langkah saya membawa diri ke bangku belakang . Suasana cukup ramai, namun ada tiga siswi yang menarik perhatian saya. Mereka memanggil dengan suara heboh, “Bu… bu, lihat ini, saya bertiga copelan lagi.” Sontak saya menoleh, penasaran dengan apa yang mereka maksud. Ternyata, di tangan mereka bertiga tergenggam pulpen yang sama. Mereka adalah Naila, Calisa, dan Rena.
Saya tersenyum melihat kekompakan mereka. Kemarin saya sempat melihat mereka heboh karena sendok makan yang sama, dan kini mereka bersemangat menunjukkan pulpen yang seragam. Besok entah apa lagi yang akan mereka temukan untuk dijadikan alasan bercanda dan merasa dekat satu sama lain. Ada saja ide mereka untuk menunjukkan kekompakan. Duduk mereka saling berdekatan, seolah jarak tak pernah boleh memisahkan.
Satu bulan setengah bersama, rupanya cukup untuk membuat mereka saling mengenal, memahami, dan merasa cocok. Masa orientasi sudah lewat, masa adaptasi pun terlewati, dan kini mereka menemukan irama kebersamaan yang hangat. Ada rasa bahagia melihat siswa bisa menemukan sahabat sejati di sekolah. Di usia yang masih belia, persahabatan menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Saya pun segera merogoh handphone. Rasanya sayang jika momen sederhana seperti ini dilewatkan begitu saja. Saya ingin mengabadikannya, bukan hanya untuk kenangan, tetapi juga untuk membuat mereka tersenyum bahagia. Saya arahkan kamera pada tangan mereka yang memegang pulpen sama. Klik! Tercapture sebuah foto penuh makna.
Namun yang lebih menarik perhatian saya adalah cara jemari mereka menggenggam pulpen. Walau pulpen yang digunakan sama, namun gaya mereka berbeda. Ada yang menggenggam dengan erat, ada yang santai, ada pula yang kelihatan hati-hati. Perbedaan kecil itu justru menunjukkan bahwa meski mereka tampak kompak dari luar, mereka tetaplah pribadi unik dengan hati dan karakter masing-masing.
Saya tertegun sejenak. Pulpen itu seakan menjadi simbol. Simbol kebersamaan, namun juga simbol perbedaan. Sama-sama memegang benda yang identik, namun setiap orang tetap punya caranya sendiri. Seperti itulah hidup. Kita bisa bersama, saling dekat, saling berbagi, tetapi tetap menjadi diri sendiri dengan cara yang berbeda-beda.
Dari hal kecil itu, saya belajar lagi satu pelajaran baru dari kelas 7F. Bahwa tugas seorang guru bukan hanya mengajar ilmu dari buku teks, tetapi juga menjadi saksi perjalanan siswa dalam tumbuh dan berkembang. Menyaksikan bagaimana mereka menemukan sahabat, bagaimana mereka belajar mengekspresikan diri, bahkan bagaimana mereka menemukan kebahagiaan dari hal-hal sederhana.
Saya pun menyadari, sering kali kita terlalu sibuk mencari momen besar untuk diceritakan, padahal momen kecil di kelas justru yang lebih mengena. Senyum riang, celoteh kecil, atau sekadar pulpen yang sama bisa menjadi cerita penuh makna. Ide itu tidak harus datang dari luar, karena sejatinya ide sudah ada di depan mata, di dalam ruang kelas, di wajah-wajah polos siswa yang penuh keceriaan.
Kelas 7F mengajarkan saya bahwa menjadi guru adalah perjalanan belajar tanpa akhir. Belajar sabar menghadapi tingkah mereka, belajar peka terhadap perasaan mereka, dan belajar mensyukuri setiap momen kebersamaan. Apa yang saya lihat hari ini mungkin terlihat sederhana, tetapi kelak bisa menjadi cerita yang menghangatkan hati saat dikenang kembali.
Naila, Calisa, dan Rena dengan pulpen seragam mereka telah memberikan saya ide baru. Ide tentang persahabatan, tentang kebersamaan, tentang perbedaan yang indah. Semoga mereka terus menjaga kekompakan itu, sambil tetap menghargai perbedaan di antara mereka. Karena di situlah letak keindahan persahabatan yang sejati.
Saya bersyukur bisa hadir di tengah mereka, bersyukur bisa belajar dari hal-hal kecil, dan bersyukur karena Allah masih memberi saya kesempatan menjadi bagian dari cerita kehidupan siswa-siswi saya. Ya, kelas 7F memang selalu penuh cerita, dan setiap cerita layak untuk disyukuri.
Cepu, 29 Agustus 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar