Karya: Gutamining Saida
Hidup sesungguhnya adalah sekolah panjang yang tidak pernah berhenti. Setiap hari, kita berada di dalam kelas kehidupan, dengan guru yang berganti-ganti wajah dan peristiwa. Ada kalanya guru itu berbentuk ujian, kadang berbentuk orang yang kita temui, kadang berbentuk kesedihan, kadang pula berbentuk kebahagiaan. Semua hadir untuk mengajari kita sesuatu.
Ketika kita sedang belajar sabar, biasanya Allah Subhanahu Wata'allamenghadirkan orang-orang yang keras kepala, orang-orang yang tidak mudah sejalan dengan pikiran kita. Mereka datang bukan untuk membuat hidup kita sulit, tetapi agar kita belajar menahan diri, mengendalikan amarah, dan melatih kesabaran yang sebenarnya. Sabar bukan berarti kita pasrah tanpa usaha, melainkan tetap berbuat baik meski hati diganggu oleh emosi. Dari mereka yang keras kepala, kita belajar untuk lebih tenang, lebih bijak, dan lebih memahami bahwa setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda.
Saat kita sedang belajar memaafkan, biasanya kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang menyakiti hati kita. Luka yang ditorehkan orang lain sering kali menjadi pengingat bahwa hati kita tidak sekuat yang kita kira. Namun justru dari rasa sakit itulah kita menemukan makna maaf yang sejati. Memaafkan bukan hanya demi orang lain, tetapi demi kebebasan hati kita sendiri. Dengan memaafkan, kita tidak lagi menjadi tawanan dari masa lalu, melainkan manusia merdeka yang mampu melangkah dengan hati ringan.
Ketika kita sedang belajar memberi, biasanya kita akan bertemu dengan orang-orang yang kekurangan. Mereka hadir untuk membuka mata kita bahwa apa yang kita miliki bukan hanya untuk kita nikmati sendiri. Ada hak orang lain dalam rezeki yang kita genggam. Memberi bukan membuat kita miskin, sebaliknya justru memperkaya hati kita. Dari orang yang kekurangan, kita belajar rasa syukur, belajar arti kepedulian, dan belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu didapat dari menerima, melainkan dari memberi.
Saat kita belajar rendah hati, Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan orang-orang yang merendahkan diri kita. Mungkin mereka mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, meremehkan usaha kita, atau tidak menghargai keberadaan kita. Dari peristiwa itu kita diuji: apakah kita tetap bisa bersikap rendah hati, atau justru ingin membalas dengan kesombongan. Kerendahan hati adalah cermin kebesaran jiwa. Orang yang rendah hati tidak akan kehilangan apa-apa, sebaliknya ia akan semakin dihargai, meski kadang tidak secara langsung.
Semua peristiwa dalam hidup adalah proses belajar. Tidak ada satupun kejadian yang hadir tanpa makna. Bahkan yang pahit sekalipun, jika kita sikapi dengan iman, akan meninggalkan hikmah yang indah. Kadang kita tidak langsung paham mengapa sesuatu terjadi, tetapi kelak, setelah waktu berjalan, kita akan sadar bahwa ternyata semua itu adalah bagian dari proses menjadikan kita lebih bijaksana.
Hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat sampai tujuan, tetapi siapa yang paling mampu memetik pelajaran dari setiap perjalanan. Menjadi murid kehidupan berarti siap belajar kapan saja, dari siapa saja, dan dalam kondisi apa saja. Terkadang, guru terbaik justru hadir dalam bentuk ujian yang berat. Kesedihan mengajarkan kita arti kesabaran, kehilangan mengajarkan kita arti menghargai, dan kegagalan mengajarkan kita arti berusaha tanpa lelah.
Kunci dari semua itu adalah bersyukur. Bersyukur bukan hanya ketika kita menerima nikmat yang menyenangkan, tetapi juga saat kita diberi ujian yang terasa berat. Karena dalam setiap kesulitan, selalu ada kebaikan yang Allah Subhanahu Wata'alla sisipkan. Bersyukur menjadikan hati kita tenang, menjadikan langkah kita ringan, dan menjadikan kita mampu melihat sisi positif dalam setiap kejadian.
Setiap hari, kita diberi kesempatan untuk memilih: apakah kita mau mengambil hikmah dari peristiwa yang terjadi, atau justru terjebak dalam keluhan dan penyesalan. Orang yang mau belajar dari kehidupan akan semakin dewasa, semakin bijak, dan semakin dekat dengan Allah Subhanahu Wata'alla. Sebaliknya, orang yang menolak belajar akan mudah terpuruk, merasa kecewa, dan kehilangan makna.
Semoga kita semua selalu sehat agar bisa terus belajar. Semoga kita diberi kekuatan untuk bermanfaat, sebab sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain. Semoga kita istiqamah dalam kebaikan, karena kebaikan itu tidak diukur dari sekali dua kali berbuat, melainkan dari konsistensi hati yang selalu berusaha mendekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla.
Hidup memang tidak selalu mudah, tetapi selalu berharga. Setiap peristiwa, entah menyenangkan atau menyedihkan, adalah bagian dari kurikulum Allah Subhanahu Wata'alla untuk menjadikan kita pribadi yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih dewasa. Maka, jadilah murid kehidupan. Belajarlah bersyukur setiap hari, ambillah sisi positif dari setiap kejadian, dan percayalah bahwa setiap langkah kita selalu dalam bimbingan Allah Yang Maha Bijaksana.
Cepu, 29 Agustus 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar