Karya : Gutamining Saida
Pagi Minggu 6 April 2026, mentari belum sepenuhnya tinggi. Udara masih terasa sejuk, seolah alam pun sedang berdzikir dengan caranya sendiri. Hari libur yang dinanti akhirnya tiba. Ada keinginan sederhana yang muncul dari dalam hati yaitu berburu sarapan. Sarapan yang bukan sekadar mengenyangkan perut, tetapi juga menenangkan jiwa. Pilihan pun jatuh pada Pasar Tiban di desa Nglanjuk. Tempat yang tidak jauh dari rumah, namun menyimpan banyak cerita dan kenangan.
Langkah kaki terasa ringan dan segera naik sepeda motor menuju pasar tersebut. Dalam hati terlintas rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Saya masih diberi kesempatan menikmati pagi, menghirup udara segar, dan melangkahkan kaki dalam keadaan sehat. Tidak semua orang diberi nikmat yang sama. Ada yang pagi ini harus berjuang melawan sakit, ada pula yang disibukkan dengan urusan dunia yang tak kunjung usai. Maka perjalanan sederhana ini terasa begitu istimewa.
Pasar Tiban itu sendiri bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah ruang kehidupan, tempat bertemunya berbagai latar belakang masyarakat. Tempat rezeki dibagikan oleh Allah Subhanahu Wata'alla melalui tangan-tangan para pedagang. Terlintas pula kenangan saat pernah menuliskan tentang pasar ini hingga akhirnya menjadi bagian dari buku antologi yang berjudul Melelusuri Jejak Blora dari Sisi Budaya. Sebuah pencapaian yang tak pernah disangka. Hati ini kembali berucap lirih, “Ya Allah, semua ini karena izin-Mu.” Saya salah satu bersama enam puluh peserta yang lolos. Penyelenggaranya adalah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Blora
Sesampainya di sana, suasana pasar sudah ramai. Suara tawar-menawar, aroma makanan tradisional, bakaran dan senyum para penjual menyambut hangat. Mata ini langsung tertuju pada satu menu yang sederhana namun menggoda yaitu nasi pecel.
Saya pun memesan dua porsi. Penjual dengan cekatan menyiapkan nasi pecel yang dibungkus menggunakan daun pisang dan daun jati, dibentuk menjadi pincuk yang cantik. Di atas pincuk itu tersaji nasi putih hangat yang dipadukan dengan sayuran segar rebusan daun ketela, kecambahm ale lalu disiram sambal kacang yang harum. Lauknya pun lengkap yaitu kering tempe, mie goreng, serundeng, tempe goreng, bakwan, dan peyek. Melihatnya saja sudah membuat air liur ini tak tertahan. Subhanallah, betapa Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan kenikmatan melalui hal-hal yang sederhana.
Saat nasi pecel itu disodorkan, tangan ini hampir saja langsung menyendoknya. Namun tiba-tiba anak saya menahan.
“Bentar… bentar, Mi,” ucapnya.
Saya pun sedikit heran. “Kenapa memang?”
“Difoto dulu nasinya,” jawabnya santai.
Ah, anak zaman sekarang. Segala sesuatu seolah belum sah sebelum diabadikan. Saya tersenyum dalam hati. Ada sedikit rasa geli, namun juga sadar bahwa setiap zaman memiliki caranya sendiri. Mungkin ini bagian dari cara mereka mensyukuri nikmat, meskipun dengan cara yang berbeda.
Sambil menunggu, mata ini terus memandang nasi pecel di hadapan. Dalam diam, hati ini berdialog dengan Sang Pencipta. Betapa banyak nikmat yang sering kali terlewat tanpa disadari. Dari sebutir nasi, ada kerja keras petani. Dari sayur mayur, ada tangan-tangan yang merawatnya. Dari sambal kacang, ada proses panjang yang dilalui. Semua itu adalah bentuk kasih sayang Allah Subhanahu Wata'alla kepada hamba-Nya.
Setelah sesi foto selesai, akhirnya kami pun berdoa bersama. Sebuah kebiasaan kecil yang sarat makna. Mengawali makan dengan menyebut nama Allah, sebagai bentuk pengakuan bahwa semua ini berasal dari-Nya. Suapan pertama masuk ke dalam mulut. Rasanya begitu nikmat. Sambal kacang yang gurih berpadu dengan nasi hangat dan lauk yang beragam. Setiap suapan terasa seperti pengingat bahwa rezeki tidak selalu harus mahal untuk bisa membahagiakan.
Di sela-sela menikmati sarapan, pandangan saya terarah ke sekitar. Hamparan sawah yang menghijau terbentang luas. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut. Di kejauhan, terlihat kolam dengan ikan-ikan yang berenang tenang. Pemandangan itu seolah menjadi lukisan alam yang menenangkan hati.
Saat itulah muncul kesadaran yang begitu dalam, inilah bentuk nikmat yang sering terlupakan. Bukan hanya makanan yang lezat, tetapi juga ketenangan, kebersamaan dengan keluarga, dan kesempatan menikmati ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla.
Harga nasi pecel itu pun sangat ramah di dompet hanya lima ribu rupiah. Namun nilai yang dirasakan jauh lebih besar dari sekadar angka. Ada rasa syukur, ada kebahagiaan, ada pelajaran tentang kesederhanaan.
Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, jadikanlah setiap nikmat yang Engkau berikan sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Mu. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai dan kufur nikmat.”
Cepu, 5 April 2026

Gak ngajak²
BalasHapus