Rabu, 04 Maret 2026

Seru di kelas 8G


Karya : Gutamining Saida 
Awal semester genap selalu menghadirkan suasana bahagia. Setelah melewati libur yang cukup panjang, langkah kaki kembali menapaki halaman sekolah dengan semangat baru. Bagi para siswa, semester genap bukan sekadar lanjutan dari semester sebelumnya, tetapi juga sebuah perjalanan baru yang harus ditempuh dengan tekad yang lebih kuat. Di dalamnya ada harapan, ada perbaikan, ada doa yang disematkan agar apa yang belum maksimal di masa lalu dapat diperbaiki pada waktu yang akan datang.

Sebagai seorang guru, saya menyadari bahwa perjalanan belajar bukan hanya soal menyelesaikan materi pelajaran. Lebih dari itu, belajar adalah proses membentuk karakter, melatih kesabaran, serta menumbuhkan kesadaran bahwa setiap usaha adalah bagian dari ikhtiar yang tidak boleh terlepas dari doa kepada Tuhan.

Saya memasuki kelas 8G dengan sebuah gagasan sederhana. Saya ingin mengajak mereka melakukan refleksi. Saya percaya bahwa setiap manusia, termasuk anak-anak seusia mereka, perlu berhenti sejenak untuk melihat perjalanan yang telah dilalui. Dengan begitu mereka dapat memahami kesalahan yang pernah terjadi dan menata langkah yang lebih baik ke depan.

Di papan tulis saya menuliskan satu kata yaitu SERU.
Sebagian siswa terlihat saling berpandangan. Ada yang tersenyum, ada yang penasaran. Kata itu memang sederhana, tetapi saya ingin menjadikannya pintu untuk membuka pikiran mereka.
Saya kemudian menjelaskan bahwa kata “SERU” bukan sekadar kata yang berarti menyenangkan. Di dalam kata itu mereka harus menuliskan berbagai hal penting tentang perjalanan mereka di semester genap. Saya meminta mereka menuliskan lima hal yaitu harapan di semester genap, perasaan saat memasuki semester baru, sikap buruk yang harus ditinggalkan, mimpi yang belum tercapai, serta target yang ingin diraih.

Tugas ini tidak sekadar menulis. Saya memberikan kebebasan kepada mereka untuk mendesain kata SERU dengan berbagai model sesuai kreativitas masing-masing. Mereka boleh menghiasnya dengan warna, gambar, atau bentuk apa pun yang mereka inginkan. Saya hanya memberi satu pesan, “Buatlah seindah mungkin, karena di dalamnya ada doa dan harapan kalian.”

Ketika kegiatan dimulai, suasana kelas berubah menjadi sangat hidup. Beberapa siswa langsung mengambil pensil warna. Ada yang menulis huruf besar dengan pola unik. Ada pula yang membuat bentuk seperti awan, bunga, bahkan ada yang membuat huruf dengan pola seperti jalan yang berkelok.

Saya berjalan perlahan di antara bangku-bangku mereka. Di setiap meja saya melihat kesungguhan yang berbeda. Ada siswa yang menulis dengan sangat hati-hati, seolah setiap kata yang ditulis memiliki makna mendalam bagi dirinya. Ada juga yang terlihat berpikir cukup lama sebelum menuliskan kalimat.
Di dalam hati saya teringat sebuah ajaran bahwa manusia diperintahkan untuk selalu memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini. Saya berharap kegiatan kecil ini dapat menjadi latihan bagi mereka untuk belajar mengenali diri sendiri.

Beberapa tulisan yang saya baca membuat hati saya terharu. Ada siswa yang menuliskan harapan agar ia bisa menjadi anak yang lebih rajin beribadah. Ada yang menulis ingin lebih menghormati orang tua. Ada pula yang berjanji akan meninggalkan kebiasaan menunda pekerjaan rumah.
Salah satu siswa menuliskan kalimat yang sederhana tetapi penuh makna: “Saya ingin menjadi lebih baik karena Allah menyukai orang yang mau memperbaiki diri.”
Membaca kalimat itu membuat saya tersenyum. Ternyata di balik keceriaan mereka, ada kesadaran spiritual yang mulai tumbuh.

Dalam kolom tentang sikap buruk yang harus ditinggalkan, beberapa siswa menuliskan hal-hal yang jujur. Ada yang mengakui bahwa ia sering malas belajar. Ada yang menulis bahwa ia sering berbicara saat guru menjelaskan pelajaran. Ada pula yang menuliskan bahwa ia harus berhenti mengejek temannya.
Kejujuran seperti ini adalah langkah awal yang sangat penting. Dalam ajaran agama, manusia diajarkan untuk melakukan muhasabah, yaitu introspeksi diri. Dengan menyadari kesalahan, seseorang akan lebih mudah memperbaiki dirinya.

Ketika waktu hampir selesai, meja-meja mereka dipenuhi dengan karya yang berwarna-warni. Huruf SERU muncul dalam berbagai bentuk yang unik. Tidak ada satu pun yang sama.
Dari 32 siswa, semuanya menghasilkan karya yang berbeda. Perbedaan itu justru menjadi keindahan tersendiri. Saya merasa seperti melihat taman bunga yang penuh warna.
Saya meminta beberapa siswa maju untuk menunjukkan karyanya. Mereka menjelaskan makna tulisan yang mereka buat. Ada yang berbicara dengan percaya diri, ada pula yang masih malu-malu.

Saya melihat sesuatu yang sangat berharga yaitu mereka belajar mengekspresikan isi hati.
Di akhir kegiatan saya menyampaikan kepada mereka bahwa setiap harapan yang mereka tulis sebaiknya disertai dengan usaha dan doa.

Harapan tanpa usaha hanyalah angan-angan. Usaha tanpa doa juga akan terasa hampa. Keduanya harus berjalan bersama.
Saya juga mengingatkan bahwa waktu adalah amanah. Setiap hari yang kita jalani tidak akan pernah kembali. Karena itu, kesempatan belajar harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Kegiatan sederhana ini ternyata memberikan kebahagiaan tersendiri bagi saya sebagai guru. Melihat kreativitas mereka, membaca harapan-harapan yang tulus, serta menyaksikan keberanian mereka untuk memperbaiki diri membuat hati saya dipenuhi rasa syukur.

Saya berdoa semoga langkah kecil di awal semester ini menjadi awal perjalanan yang baik bagi mereka. Semoga mereka tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga kuat dalam iman dan akhlak.

Saya merasa bangga. Bukan karena hasil gambarnya yang indah semata, tetapi karena di balik setiap huruf SERU tersimpan harapan, niat baik, dan doa.

Setiap niat baik yang disertai usaha serta doa kepada Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Semester genap baru saja dimulai, tetapi semangat mereka telah memberi keyakinan bahwa perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang seru
Cepu, Januari  2026

Terapi Menulis Dengan Tangan

 


Karya : Gutamining Saida

Tanggal 1 Maret 2026 menjadi tanggal yang saya lingkari di kalender. Bukan karena pesta, bukan pula karena perjalanan jauh, tetapi karena sebuah janji kepada diri sendiri yaitu berbenah. Saya ingin menata ulang jiwa dengan ilmu yang telah saya pelajari, lalu mempraktikkannya dengan setia melalui terapi menulis pada pagi dan sore hari.

Anak saya sering berkata bahwa saya ini termasuk orang sibuk. Mengajar, mengurus keluarga, menghadiri kegiatan sosial, menyiapkan administrasi, membersamai siswa dengan segala dinamika remaja mereka. Lalu mengapa masih menambah kesibukan dengan terapi menulis?

Jawabannya sederhana yaitu saya ingin sehat. Terutama sehat jasmani, rohani dan kantong. Saya ingin umur panjang yang tidak sekadar panjang angka, tetapi panjang manfaat. Saya percaya, usia yang berkah adalah usia yang digunakan untuk mendekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla dan menebar kebaikan bagi sesama.

Dulu saya mengira terapi menulis itu seperti yang biasa saya lakukan menulis cerita pengalaman, merangkai kenangan, mengabadikan peristiwa. Sehari satu cerita. Itu sudah saya coba dan menjadi kebiasaan. Sesuai arahan mentor saya, Kak Wayan, sehari satu tulisan, dikumpulkan selama setahun, insyaallah akan menjadi satu buku. Saya membayangkan rak kecil di rumah dengan tambahnya satu buku yang lahir dari kisah saya sendiri. Benar, setiap kali tulisan terwujud, ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan. Bahagia karena berhasil menaklukkan rasa malas. Bahagia karena satu hari tidak berlalu sia-sia.

Akhir Februari, saya menemukan lagi istilah yang sama yaitu terapi menulis. Saya membaca informasi penuh penasaran. Saya merasa seperti menemukan pintu lain dari rumah yang sama. Ternyata, praktiknya berbeda. Bukan mengetik. Bukan membuat cerita panjang. Tetapi menulis dengan tangan. Di atas kertas atau buku tulis. Beberapa lembar halaman harus disetorkan mentor setiap pagi dan sore hari sekaligus mendapatkan bonus koreksi kakak mentor.

Awalnya saya terdiam. Menulis tangan? Di tengah kesibukan seperti ini? Tetapi justru di situlah saya merasa Allah sedang menguji niat. Bukankah segala sesuatu yang bernilai memerlukan kesungguhan? Bukankah ibadah pun menuntut disiplin waktu?

Hari pertama saya memulai, suasana masih hening. Setelah salat Subuh, saya duduk dengan buku tulis terbuka. Pena saya genggam perlahan. Di hari praktik pertama, saya memiliki keinginan segera selesai. Pikiran saya tergesa-gesa. Saya ingin cepat menuntaskan lembaran-lembaran tulisan. Akibatnya, tulisan menjadi amburadul. Banyak huruf yang salah, beberapa kata terlewat, tulisan tidak rapi. Hati saya sempat kecewa. Mengapa sesuatu yang terlihat sederhana ternyata tidak mudah?

Saat itu saya tersadar, ternyata tergesa-gesa bukan hanya merusak tulisan, tetapi juga merusak ketenangan jiwa. Saya seperti bercermin. Bukankah dalam kehidupan pun sering kali saya ingin hasil cepat? Ingin masalah segera selesai? Ingin perubahan instan?

Padahal Allah mengajarkan proses. Di tulisan kedua, saya mengubah niat. Saya bertekad menulis pelan-pelan. Menarik napas lebih panjang. Mengatur posisi duduk. Menghadirkan kesadaran. Saya mencoba menyelaraskan pikiran dengan gerakan tangan. Namun ternyata tetap saja ada kesalahan. Masih ada huruf yang kurang tepat. Masih ada kalimat yang kurang rapi. Waktu yang dibutuhkan pun lebih lama.

Di situlah saya belajar bahwa menulis dengan tangan membutuhkan ketenangan pikiran. Ia bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi pertemuan antara niat, pikiran, dan tindakan. Ketiganya harus sejalan. Jika pikiran melompat-lompat, tangan pun ikut goyah. Jika hati gelisah, tulisan pun kehilangan arah.

Saya mulai memahami bahwa terapi ini sedang mendidik saya untuk sabar. Untuk menerima bahwa proses tidak bisa dipercepat seenaknya. Ada jeda yang harus dihormati. Ada irama yang harus diikuti. Setiap goresan tinta menjadi latihan sinkronisasi antara pikiran dan tindakan. Ketika saya menulis satu kalimat, saya harus benar-benar memikirkan maknanya. Tidak bisa sambil memikirkan hal lain. Tidak bisa setengah hati. Jika pikiran tidak fokus, hasilnya langsung terlihat di atas kertas.

Sore hari setelah segala aktivitas finis saya kembali membuka buku. Rasa lelah sering menyapa. Kadang mata sudah berat. Tetapi kini saya lebih berhati-hati. Saya tidak lagi mengejar cepat selesai. Saya mengejar hadir sepenuhnya. Saya belajar menikmati setiap huruf, setiap lengkungan tinta.

Saya teringat firman Allah dalam Al-Qur’an tentang pena dan tulisan. Betapa Allah memuliakan ilmu dan proses belajar. Bukankah menulis adalah salah satu bentuk dzikir dalam wujud yang berbeda? Ketika saya menulis kalimat-kalimat kebaikan berulang-ulang, saya seperti sedang menanam benih di dalam hati.

Terapi ini perlahan mengajarkan saya makna tawakal. Saya hanya bisa berusaha menulis sebaik mungkin. Hasilnya saya serahkan kepada Allah. Jika masih ada kesalahan, itu bagian dari proses belajar. Jika tulisan belum rapi, itu tanda saya masih perlu sering latihan.

Saya menyadari bahwa selama ini saya sering menuntut diri untuk sempurna. Padahal kesempurnaan hanyalah milik Allah. Manusia diberi ruang untuk salah, agar belajar rendah hati.

Setiap kesalahan huruf menjadi pengingat bahwa hidup pun penuh koreksi. Jika salah, perbaiki. Jika kurang rapi, ulangi. Jika belum tenang, tarik napas dan mulai lagi. Saya mulai merasakan bahwa terapi ini bukan hanya menyehatkan pikiran, tetapi juga menundukkan ego. Ego yang ingin cepat. Ego yang ingin hasil instan. Ego yang tidak sabar melihat kekurangan diri.

“Ya Allah, ajarkan aku sabar dalam proses. Selaraskan pikiranku dengan tindakanku. Tenangkan hatiku dalam setiap usaha memperbaiki diri. Jadikan tulisan ini saksi bahwa aku pernah berjuang melawan diriku sendiri.”

Perjalanan terapi ini masih panjang satu bulan ke depan baru selesai. Tulisan saya mungkin belum sempurna. Saya percaya, selama saya terus melangkah dengan niat yang lurus, Allah asubhanahu Wata'alla akan menuntun setiap goresan pena sebagai buktinya. Semoga menginspirasi

Cepu, 5 Maret 2026

 


Karya: Gutamining Saida

Jam terakhir di hari Senin selalu menjadi tantangan tersendiri. Apalagi untuk kelas 8G. Setelah seharian mengikuti tes tengah semester yang dilanjut mengikuti pembelajaran. Energi mereka biasanya sudah terkuras. Sebagai guru IPS, saya tak ingin pembelajaran terasa garing. Terbayang wajah-wajah lelah yang butuh sesuatu yang berbeda. Maka saya siapkan kegiatan sederhana  membuat tempat puzzle IPS  dari kertas.

Pagi sebelum berangkat ke sekolah, saya sudah menyiapkan contoh amplop. Pertemuan kemarin sudah membuat pazzlenya. Kita butuh tempat agar tidak tercampur milik temannya

“Anak-anak, hari ini kita belajar sambil praktik,” kata saya membuka pelajaran.

Beberapa wajah yang semula lesu langsung terangkat. Ada yang berbisik, ada yang tersenyum. Saya membagikan kertas dan meminta mereka menggambar pola sederhana, lalu memotongnya menjadi beberapa bagian untuk disusun kembali.

Ternyata, hal yang menurut saya sederhana tidak sesederhana itu bagi mereka.

Mulai dari menggambar garis lurus saja sudah ada yang bertanya, “Bu, ini pakai penggaris atau bebas?”

Saya tersenyum. “Boleh pakai penggaris, supaya rapi.”

Suara gunting mulai terdengar di berbagai sudut kelas. Ada yang terlalu cepat, ada yang terlalu hati-hati. Saya berkeliling, memastikan semua berjalan lancar.

Di pojok kanan belakang, Ravellico duduk dengan wajah serius. Tangannya memegang gunting, tapi belum bergerak.

“Kenapa, Ravellico?” tanya saya.

“Bu… yang dipotong bagian mana?” tanyanya polos.

“Yang sebelah garis ini ya,” jawab saya sambil menunjuk garis yang sudah ia buat.

“Oh… yang ini, Bu?”

“Iya, yang itu.”

Saya melanjutkan berkeliling membantu siswa lain. Ada yang kesulitan memegang gunting dengan benar, ada yang terlalu bersemangat hingga garisnya terpotong miring jauh dari rencana.

Tak berapa lama saya kembali ke meja Ravellico.

Betapa kagetnya saya melihat kertas di tangannya.

Lho… ini kok begini?

Garis yang tadi saya tunjuk memang terpotong—tetapi bukan hanya garis itu. Kertasnya terbelah dua, benar-benar putus memanjang tanpa menyisakan pola puzzle sama sekali.

Teman sebangkunya tak kuasa menahan tawa.

“Kesenggol, Bu… jadwal Ravello singkat,” katanya sambil terkekeh.

Saya menatap Ravellico. Ia hanya nyengir, antara malu dan bingung.

“Hah? Kesenggol kok sampai putus begitu?” jawab saya setengah tertawa, setengah heran.

“Iya Bu… tadi guntingnya kebablasan.”

Seluruh meja itu ikut tertawa. Namun saya tahu, di balik tawa itu ada pelajaran penting.

Saya duduk sebentar di sampingnya. “Ravellico, tidak apa-apa salah. Tapi coba lebih pelan, lebih fokus. Garis itu seperti aturan. Kalau kita keluar sedikit saja, hasilnya bisa berbeda.”

Ia mengangguk pelan.

Saya memberinya kertas baru. Kali ini saya minta ia menarik napas dulu sebelum memotong. Tangannya masih kaku, tapi lebih hati-hati. Potongannya memang belum rapi, tetapi tidak lagi terbelah tak terkendali.

Di kelas itu saya menyadari sesuatu. Anak seusia mereka, yang sehari-hari akrab dengan layar sentuh dan tombol digital, ternyata tidak semua terlatih melakukan keterampilan motorik sederhana seperti memotong kertas dengan presisi.

Jam terakhir hari Senin bukan hanya tentang menyelesaikan materi IPS. Ia menjadi ruang belajar kesabaran, ketelitian, dan keberanian mencoba lagi setelah salah.

Saat bel pulang berbunyi, beberapa kelompok sudah berhasil menyusun kembali puzzle mereka. Ada yang bentuknya masih belum pas, ada yang terbalik, tetapi mereka bangga.

Ravellico mendekati saya sebelum keluar kelas.

“Bu, tadi yang pertama jelek ya,” katanya.

“Bukan jelek. Itu namanya proses,” jawab saya.

Ia tersenyum kecil.

Di perjalanan pulang, saya merenung. Mengajar bukan hanya mentransfer pengetahuan tentang peta, ekonomi, atau interaksi sosial. Mengajar adalah menemani proses—bahkan pada hal sesederhana memotong kertas.

Dari potongan yang salah arah, dari gunting yang kebablasan, dari tawa teman yang menggoda—di sanalah karakter dibentuk.

Dan di jam terakhir yang sering dianggap melelahkan, justru saya menemukan energi baru. Energi dari kepolosan, dari kesalahan, dan dari keberanian untuk mencoba lagi.

Hari itu, kelas 8G mengajarkan saya bahwa setiap garis kehidupan harus dipotong dengan hati-hati. Karena sekali kebablasan, ia bisa terbelah. Namun selama masih ada kertas baru dan kemauan untuk belajar, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki.