Minggu, 01 Februari 2026

Lagu Rukun Bersama Teman

 


Karya: Gutamining Saida

Hari Senin pagi tanggal 2 Pebruari 2026 di SMPN 3 Cepu terasa berbeda dari biasanya. Mentari belum sepenuhnya tinggi, namun halaman sekolah sudah dipenuhi semangat yang mengalir dari wajah-wajah warga Esmega. Seragam putih biru tampak rapi, barisan siswa tertata, guru-guru berdiri dengan penuh wibawa, dan suasana upacara bendera siap dimulai. Ada satu hal yang membuat pagi itu terasa istimewa bukan sekadar rutinitas pengibaran Sang Merah Putih, melainkan sebuah penampilan group band.  

Upacara bendera tetap berjalan dengan khidmat. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan dengan penuh penghayatan, bendera perlahan naik mengikuti irama kebangsaan, dan semua hadirin berdiri tegak, menundukkan hati pada nilai-nilai persatuan. Dalam rangkaian inti upacara ada penambahan untuk menyanyikan lagu Rukun Bersama Teman. Suasana berubah menjadi lebih hangat dan penuh antusiasme.

Warga Esmega dibuat terpesona oleh penampilan sebuah grup band sekolah yang bertugas membawakan lagu “Rukun Sama Teman”. Lagu terdengar hidup saat dinyanyikan dengan penuh percaya diri oleh para siswa. Dentingan gitar, alunan keyboard, dan suara vokal yang jernih berpadu harmonis. Lagu tersebut seolah bukan hanya dinyanyikan, tetapi dihidupkan menjadi pesan yang mengalir ke seluruh penjuru lapangan upacara.

Yang membuat penampilan ini semakin membanggakan adalah fakta bahwa SMPN 3 Cepu memiliki banyak grup band. Bukan hanya satu atau dua, tetapi tersebar dari kelas 7, 8, hingga kelas 9. Bahkan ada grup band yang anggotanya merupakan gabungan dari kelas 7 dan kelas 8. Keberagaman usia dan tingkat kelas justru melahirkan kekompakan, saling belajar, dan saling menguatkan. Tidak ada sekat senior atau junior, yang ada hanyalah semangat berkarya bersama.

Sekolah memberikan kesempatan kepada seluruh grup band tersebut untuk tampil secara bergantian pada setiap pelaksanaan upacara bendera. Kesempatan ini bukan sekadar hiburan tambahan, melainkan bagian dari proses pendidikan karakter. Melalui panggung sederhana di lapangan sekolah, siswa belajar tentang keberanian tampil di depan umum, disiplin latihan, tanggung jawab terhadap peran masing-masing, dan kepercayaan diri atas bakat yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan pada diri mereka.

Setiap penampilan membawa warna yang berbeda. Satu hal yang sama adalah kebanggaan terpancar jelas dari wajah para personel. Mereka berdiri di hadapan ratusan pasang mata teman, guru, dan tenaga kependidikan bukan dengan rasa takut, melainkan dengan keyakinan bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang bermakna.

Saya melihat bagaimana kesempatan tampil ini menjadi ruang tumbuh bagi siswa. Mereka tidak hanya berkembang dalam keterampilan bermusik, tetapi juga dalam sikap mental. Anak-anak yang sebelumnya pendiam, perlahan berani mengekspresikan diri. Anak-anak yang biasa berada di balik bangku kelas, kini berdiri di depan, menunjukkan potensi terbaiknya. Sekolah benar-benar menjadi rumah kedua yang aman untuk belajar dan mencoba.

Kebanggaan tidak hanya dirasakan oleh para siswa yang tampil. Guru-guru yang menyaksikan pun merasakan keharuan tersendiri. Ada rasa syukur melihat anak didik tumbuh sesuai bakatnya. Ada rasa bangga karena sekolah mampu memberi ruang yang bermakna. 

Cepu, 2 Pebruari 2026

Langkah Kakiku


Karya : Gutamining Saida

Minggu pagi di awal bulan Februari 2026 saya awali dengan langkah yang terasa lebih ringan dari biasanya. Udara masih menyisakan dingin malam, embun belum sepenuhnya menguap, dan langit perlahan berubah warna dari hitam pekat menuju biru pucat. Sehabis menunaikan salat Subuh berjamaah, saya melangkahkan kaki menuju Masjid Al Mujahidin. Hati saya sudah menetapkan satu tujuan utama yaitu menuntut ilmu sebagai bekal perjalanan panjang menuju akhirat.

Masjid Al Mujahidin pagi itu tampak berbeda. Dari kejauhan, lampu-lampu masih menyala lembut, seolah menyambut setiap jamaah yang datang dengan niat tulus. Saya melihat ibu-ibu berjalan beriringan, sebagian menggandeng anak, sebagian lagi membawa tas kecil. Bapak-bapak tampak duduk rapi di serambi, bercengkerama pelan, menjaga adab pagi yang penuh berkah. Di sudut lain, tampak anak-anak yatim yang akan menerima santunan, duduk tertib dengan wajah polos yang menenangkan hati siapa saja yang memandang.

Kegiatan pengajian ini bukanlah hal baru. Santunan untuk anak-anak yatim rutin diberikan sebulan sekali, tepat pada hari Minggu Wage. Setiap pertemuan selalu menghadirkan rasa yang berbeda. Ada getar haru, ada rasa syukur, dan ada pengingat halus bahwa hidup bukan sekadar tentang diri sendiri.

Sebelum acara inti berupa tausiah dimulai, jamaah disuguhi sebuah pertunjukan yang meneduhkan jiwa yaitu tarian sufi. Alunan hadroh mulai terdengar, ritmenya perlahan, menghentak lembut, seolah mengetuk pintu-pintu hati yang mungkin selama ini tertutup oleh kesibukan dunia. Penari tampil anggun mengenakan kostum putih bersih, simbol kesucian dan keikhlasan. Jilbab marun yang dikenakan menambah kesan khidmat dan elegan, seakan melambangkan cinta dan pengorbanan dalam perjalanan spiritual seorang hamba.

Gerakan mereka berputar perlahan, konsisten, penuh penghayatan. Tidak ada kata yang terucap, setiap putaran seolah mengajarkan makna: bahwa hidup adalah perjalanan kembali kepada Sang Pencipta. Bahwa sekeras apa pun badai kehidupan, poros hidup seorang manusia seharusnya tetap Allah Subhanahu Wata'alla. Saya merasakan dada ini menghangat, mata terasa berat, dan hati bergetar. Tanpa sadar, doa-doa pendek meluncur lirih dari bibir.

Masjid semakin penuh. Jamaah ibu-ibu dan bapak-bapak memenuhi setiap saf, ditambah anak-anak yatim yang duduk rapi di barisan depan. Pemandangan itu menjadi pengingat nyata bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kepedulian, persaudaraan, dan cinta kasih. Di sanalah iman dipupuk, dan empati ditumbuhkan.

Setelah tarian sufi usai, suasana kembali hening. Hadroh perlahan berhenti, digantikan oleh lantunan salawat yang menggema serempak. Tak lama kemudian, Bapak Jalal naik ke mimbar untuk menyampaikan tausiah. Beliau membuka dengan salam dan pujian kepada Allah Subhanahu Wata'alla. , lalu mengajak jamaah untuk sejenak menundukkan hati, bukan sekadar mendengarkan dengan telinga, tetapi juga menyimak dengan jiwa.

Isi tausiah pagi itu terasa sederhana, namun menghunjam. Tentang pentingnya ilmu sebagai cahaya kehidupan. Tentang waktu yang sering kita sia-siakan, padahal setiap detiknya adalah amanah. Tentang anak-anak yatim yang hadir di hadapan kami, bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai ladang pahala dan pengingat bahwa dunia tidak selalu adil, tetapi Allah Maha Adil.

Saya tersentuh ketika beliau menyampaikan bahwa menyantuni anak yatim bukan hanya tentang memberi materi, tetapi juga tentang menghadirkan rasa aman, cinta, dan perhatian. “Bisa jadi,” kata beliau, “doa tulus dari anak yatim itulah yang kelak menjadi sebab Allah Subhanahu Wata'alla  memudahkan urusan hidup kita.”

Saat santunan dibagikan, suasana menjadi sangat haru. Satu per satu anak yatim maju, menerima dengan wajah polos dan senyum yang tulus. Ada yang menunduk malu, ada yang tersenyum lebar, ada pula yang menggenggam amplop itu erat-erat seolah memegang harapan. Di momen itu, saya merasa Allah Subhanahu Wata'alla.  sedang mengajarkan makna syukur secara nyata. Bahwa apa yang kita keluhkan hari ini, mungkin adalah impian bagi orang lain.

Acara pun ditutup dengan doa bersama. Tangan-tangan terangkat, suara lirih mengalun, memohon ampun, kesehatan, keberkahan, dan husnul khatimah. Saya pulang dengan langkah yang sama seperti saat datang, namun hati yang jauh berbeda. Ada ketenangan yang menetap, ada rasa cukup yang sulit dijelaskan, dan ada tekad untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat.

Cepu, 2 Pebruari 2026