Minggu, 24 Agustus 2025

Kebahagiaan di Kelas 7F

Karya : Gutamining Saida 
Saya mendapat jadwal mengajar di kelas 7F. Seperti biasanya, saya mempersiapkan diri lebih awal sebelum masuk kelas. Materi yang saya bawa kali ini adalah tentang cuaca dan iklim. Topik ini penting karena berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari siswa. Saya ingin mereka tidak hanya menghafal definisi, tetapi juga memahami makna dan manfaatnya.

Ketika saya masuk ke kelas, suasana cukup kondusif. Siswa-siswa sudah menyiapkan buku pelajaran dan tampak siap untuk menerima materi. Saya awali dengan salam dan menanyakan kabar mereka. Beberapa siswa menjawab dengan semangat, sementara yang lain masih agak malu-malu. Saya mencoba mencairkan suasana dengan bertanya, “Siapa yang tadi pagi berangkat sekolah sambil merasakan udara panas?” Spontan sebagian siswa mengangkat tangan, sebagian lagi menjawab bahwa mereka merasa sejuk karena berangkat pagi sekali. Dari jawaban itu saya masuk ke materi tentang perbedaan kondisi cuaca dari waktu ke waktu.

Saya jelaskan bahwa cuaca adalah keadaan udara pada waktu tertentu dan wilayah tertentu, sedangkan iklim adalah rata-rata cuaca dalam jangka waktu lama. Saya beri contoh nyata yaitu cuaca hari ini bisa mendung, cerah, atau hujan, tetapi iklim di Indonesia secara umum adalah tropis. Anak-anak mulai mengangguk paham.

Saya sadar, di tengah-tengah penjelasan, wajah beberapa siswa mulai menunjukkan tanda-tanda jenuh. Beberapa terlihat menguap, ada juga yang mulai menunduk sambil memainkan bolpoin. Saya tidak ingin mereka kehilangan semangat. Maka saya putuskan untuk melakukan sebuah ice breaking.

Saya perkenalkan pada mereka permainan sederhana yang saya sebut Tiga S. Saya katakan kepada seluruh siswa, “Sekarang kita akan bermain sebentar, untuk menyegarkan pikiran sebelum lanjut ke materi berikutnya.” Wajah-wajah yang semula lesu berubah menjadi penasaran.

Saya mulai dengan S yang pertama yaitu Sikut. Saya mengucapkannya dengan lantang, lalu berkata, “Semua siswa pegang sikut teman di sebelahnya ya!” Seketika mereka saling meraih sikut, ada yang tertawa karena kesulitan menjangkau, ada yang kaget karena teman di sampingnya langsung meraih dengan cepat. Suasana kelas jadi riuh dengan tawa.

Lanjut ke S yang kedua yaitu  Sakit. Saya berkata, “Semua siswa sekarang pura-pura merasa sakit perut!” Mereka pun serentak memegang perut sambil meringis. Beberapa siswa begitu menghayati sampai terdengar suara “aduh perutku sakit…”. Kelas semakin penuh canda, saya ikut tertawa melihat kekompakan mereka.

Kemudian saya masuk ke S yang ketiga yaitu Semua berebut pulpen. Saya berikan instruksi, “Ambil pulpen di meja kalian, siapa cepat dia dapat!” Seketika mereka langsung berebut pulpen masing-masing. Ada yang cepat sekali mengangkatnya, ada juga yang terlambat dan hanya bisa tertawa melihat temannya lebih sigap.

Permainan itu saya ulang hingga dua putaran. Tidak perlu lama-lama, karena tujuan saya hanya untuk menyegarkan pikiran. Setelah dua kali, saya katakan, “Sudah cukup, kita lanjut belajar lagi.” Anak-anak kembali duduk tenang, namun wajah mereka jauh lebih ceria dibanding sebelum permainan dimulai. Saya merasa berhasil mengembalikan semangat belajar mereka.

Setelah itu saya kembali ke inti materi, yaitu manfaat iklim dalam kehidupan. Saya jelaskan bahwa iklim sangat berpengaruh terhadap kegiatan manusia, terutama di bidang pertanian, perikanan, transportasi, bahkan pariwisata. Saya beri contoh, “Petani di daerah tropis seperti Indonesia bisa menanam padi dua sampai tiga kali dalam setahun karena iklimnya mendukung. Berbeda dengan negara yang beriklim subtropis, yang hanya bisa menanam pada musim tertentu.”

Saya lihat beberapa siswa mulai mengangkat tangan untuk bertanya. Salah satu siswa bertanya, “Bu, kalau iklim berubah jadi ekstrem, misalnya terlalu panas atau terlalu sering hujan, apa pengaruhnya?” Saya jelaskan bahwa perubahan iklim memang berdampak besar, bisa menyebabkan gagal panen, banjir, atau kekeringan. Karena itu, manusia harus menjaga lingkungan agar perubahan iklim tidak semakin parah.

Diskusi berjalan cukup hangat. Beberapa siswa lain menambahkan pengalaman mereka, misalnya saat musim hujan jalan di depan rumahnya sering banjir, atau saat kemarau panjang sawah di kampung kakeknya menjadi kering. Saya senang sekali karena mereka mulai mengaitkan materi dengan pengalaman nyata.

Waktu terasa cepat sekali berlalu. Tanpa disadari, bel tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi. Saya pun menutup pembelajaran hari itu dengan sebuah kesimpulan yaitu cuaca dan iklim bukan hanya ilmu yang dipelajari di kelas, melainkan hal nyata yang memengaruhi kehidupan manusia. Saya juga mengingatkan mereka untuk tetap semangat belajar meski kadang jenuh, karena ilmu yang dipelajari hari ini akan berguna di masa depan.

Akhirnya saya mengucapkan salam penutup. Siswa menjawab dengan serempak dan penuh semangat. Saat saya keluar kelas, ada rasa puas tersendiri karena berhasil menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Bagi saya, keberhasilan seorang guru bukan hanya pada seberapa banyak materi tersampaikan, tetapi juga pada bagaimana siswa merasa senang dan termotivasi saat belajar. Hari itu, dengan bantuan permainan sederhana “Tiga S”, saya merasa berhasil menghadirkan kebahagiaan sekaligus ilmu yang bermanfaat di kelas 7F.
Cepu, 25 Agustus 2025 

2 komentar: